Family · Married Life · Romance

Conditional Marriage [Chapter 2]

webcam-toy-photo3

Author: Hyerina

Genre: Romance, Married Life, Family

Rating: PG-17

Ahn Hyerin | Cho Kyuhyun | Cho Jeon | Lee Donghae | Kim Nahee

DON’T BE A SILENT READER ❤

Jeon berlari sekencang-kencangnya tanpa tahu arah dan tujuanㅡ tak memperdulikan orang-orang yang ditabraknya atau burung-burung yang semula hinggap di tengah jalan terbang berhamburan karenanya. Sampai akhirnya semak-semak besar menyelengkat kakinya dan membuatnya tersungkur ditengah terowongan sepi. Jeon menelentangkan tubuhnya disana dan tersadar hal bodoh apa yang sedang dia lakukan.

Dia sudah berlari terlalu jauh dan itu bukanlah ide yang bagus, Nafasnya hampir habis dan telapak kakinya terluka, bahkan berdarah-darahㅡ sol sepatu yang harusnya dipakai untuk acara indoor itu sobek akibat menerjang aspal serta kerikil disepanjang jalan. Hatinya pun rasanya seperti teriris. Tidak berdarah, namun sakitnya terlalu dalam. Rasa sakit itu membuat emosinya semakin membaraㅡ membuatnya ingin menghancurkan semua yang dilihatnya. Ia masih tidak percaya bahwa ayahnya ternyata memilih Hyerin sonsaengnim yang dikaguminya. Walaupun Jeon sudah pernah mengatakan bahwa ia akan tetap bertahan, tapi tetap saja, mereka akan tinggal satu rumah dengan status ‘ibu dan anak’ itu benar-benar diluar batas ekspektasinya..

“Sunbaenim!!” samar-samar Jeon mendengar jeritan seorang gadis ditengah-tengah situasi menegangkan itu. Jeon menoleh ke asal suara itu dan menemukan Yeseul yang sedang mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh kearahnya.
“Jeon sunbaenim!! Apa yang kau lakukan disitu!!” gadis mungil itu kemudian mengerem dan menjatuhkan sepedanya di tanah.

Jeon mengalihkan pandangannya. “Mau apa kau kesini? Mau ikut campur, hah? Kau ini masih anak kecil. Kembalilah kesana.”

Yeseul berlari menghampiri Jeon dan membungkukㅡ memandangi Jeon yang terbaring diatas aspal.

“Apa maumu, eoh?” Jeon mendengus pelan, lalu berusaha bangkit dan mengebas-ngebaskan bajunya yang kotor.

“Sunbaenim.. Kau suka pada Hyerin Eonni, ne?” tanya Yeseul lembut tanpa melepaskan pandangannya pada Jeon. Entah mengapa tatapan gadis itu sangat tenang, seperti air hangat yang bisa mencairkan hati Jeon yang membeku dalam sekejapㅡ Yang seketika membuatnya tidak tega ingin mengusirnya, bahkan rasanya ia ingin mengelus rambutnya seperti anak anjingㅡ tapi pada akhirnya Jeon hanya bisa berpura-pura mendengus kesal. Kalau sudah seperti ini Jeon terlihat sangat mirip dengan ayahnya. “Kau tahu apa?”

“Hyerin Eonni sering menceritakan tentangmu padaku. Semuanya. Saat itu aku sempat patah hati, karena aku sempat mengagumimuㅡ m-maksudku ya, diantara senior senior yang lain kau yang paling menarikㅡJㅡJadi saat eonni bilang kau sangat perhatian padanya, aku merasa iri..”

pernyataan polos Yeseul sempat membentuk senyuman kecil disudut bibir Jeon yang hanya bertahan sebentar. Yeseul sepertinya bisa membaca ekspresi Jeon karena dia segera menambahkan.
“D-Dan dia sebenarnya terpaksa menikah dengan ayahmu demi pengobatanku. Ayahmu berjanji pada eonni kalau Hyerin eonni mau menikah dengan ayahmu, Ayahmu akan memenuhi semua kebutuhannya. Aku bersumpah! Tanya saja padanya kalau kau tak percaya” tutur Yeseul yang membuat Jeon menengadah dan membelalakan matanya. Apa itu artinya masih ada harapan?

“Benarkah itu?”

Yeseul mengangguk yakin. “Jadi sekarang kembalilah! Jangan sampai ayahmu tahu kalau kalian ada hubungan apa-apa! apa kau tega jika Ayahmu membatalkan pernikahan dan memecat Hyerin eonni? Jika kau mencintai eonni, kau harus melindunginya!”
Jeon terdiam sesaat. Yeseul benar, jika ayahnya tau tentang kedekatannya dengan Hyerin, ia bisa saja marah dan mengatakan hal-hal yang melukai hati gadis itu.

“Baiklah, anak kecil bawel.”

“Berhenti memanggilku seperti itu! Aku ini sekarang ahjumma mu tahu!”

 

*

Kedua remaja itu mematung ketika Kyuhyun membukakan pintu untuk mereka. Pria itu menatap putranya dan suasana menjadi canggung.

“Jeon..”

Yeseul membungkuk sambil menggumamkan ‘permisi’ saat melewati Kyuhyun, lalu berjalan keliling ruangan besar itu untuk mencari kakaknya. sesekali ia mengintip keadaan Jeonㅡ pria muda itu masih tertahan didepan pintu dan Kyuhyun tampak mengatakan sesuatu yang membuat ekspresinya berubah menjadi tegang.

“Apa-apaan itu tadi?” suara Kyuhyun meninggi, seolah memaksa Jeon untuk segera menjawabnya.

“Aku hanya syok.” Biasanya Jeon hanya melengos begitu saja jika ditanya tapi kali ini dia harus menutupi perasaannya demi Hyerin. “Appa tahu aku masih belum bisa melupakan eomma.”

*

“Hyerin-ssi!!” Minyoung berlari kearah Hyerin dengan mata melebar dan mulut penuh makanan. Hyerin yang juga sedang menikmati makan siangnya terpaksa berhenti sejenak dan mulai mendengarkan rekan kerjanya itu, apa yang terjadi kali ini?

“Tadi pagi kau diantar Tuan Cho? Dia menjemputmu dari rumah?! Semua guru membututimu kau tahu!”

“Ani.. sekarang kami memang serumah.”

Minyoung berhenti mengunyah dan menatap gadis itu nanar seperti sedang melihat adegan menegangkan di bioskop. Kali ini tidak berkedip. Sejauh ini Hyerin selalu mengeluh padanya tentang keangkuhan Kyuhyun serta kekesalannya pada atasannya itu dan sekarang mereka serumah?

“A-Apa maksudmu?”

“Ceritanya panjang.. intinya aku bilang aku akan melakukan apa saja demi uang itu. Jadi tidak lama lagi.. aku akan menikah dengan Cho Kyuhyun.”

Sebagai tanggapan, cup mie instan yang dipegang Minyoung yang baru saja dibeli terlepas dan jatuh ke lantai ruang guru.

“M-Mwoya? Pantas menu makan siangmu sekarang seperti itu.” Sekarang mata Minyoung melotot kearah pasta yang sedang santap Hyerin didalam tupperware.

Hyerin mendelik kearah rekan kerjanya itu kemudian mendengus. “B-Bukan begitu.. Minyoung-ssi, Bukankah ini aneh? Pria yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Cho Kyuhyun menyuruhku untuk menikahinya? Aku bahkan bukan siapa-siapa! Maksudku, masih banyak wanita lain yang jauh lebih cantik dan sejajar dengannya, tapi kenapa dia memilihku? Apa maksudnya?”

“Hmm.. Kurasa karena semua gadis disini tergila-gila padanya sedangkan kau tidak pernah memperdulikannya dan itu membuatnya tertarik padamuㅡBuktinya dia sering memanggilmu keruangannya, iya kan?” Minyoung menggoyang-goyangkan bahu Hyerinㅡmasih terlalu syok dengan pengakuan rekan kerjanya itu. Sementara gadis itu diam saja dan hanya berbalik menatapnya datar. “Aku yakin dia mencari tahu tentangmu, mungkin saja dia menganggapmu berbeda dengan wanita lain yang ia temui kan?”

“Geurae, aku memang berbeda. aku tidak ada apa-apanya dibanding fans-fansnya yang menghampirinya minggu lalu.” Hyerin tersenyum getir. Sepertinya ia salah menceritakan soal ini pada temannya yang berimajinasi tinggi.

Minyoung menghela nafas mendengar Hyerin yang begitu pesimis. “Hhh ayolah Hyerin-ssi, Memangnya kau tidak bisa percaya diri sedikit? Setidaknya berbanggalah karena mulai sekarang, Kau ada di posisi yang sangat diinginkan setiap wanita. Menjadi istri dari Cho Kyuhyun.

*

Hyerin menghabiskan satu jam terakhir dengan makeup artist panggilan Kyuhyun untuk mendandaninya. Hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Sejak kemarin Kyuhyun sibuk sendiri mengurus acara pernikahan mereka sedangkan gadis itu hanya duduk manis dan memilih gaun yang disukainyaㅡ walaupun pada akhirnya ia harus mengalah dan memakai gaun yang sudah ditentukan Kyuhyun karena menurut pria itu pilihannya tidak menarik. Tiba-tiba suara pria berdehem didepan pintu yang terbuka membuatnya menoleh.

“Hyerin nunㅡHyerin saem..” Jeon menatap gadis didepannya tanpa berkedip. Sial, gadis itu sangat cantik saat ini dan itu membuatnya salah tingkah. Wajah gadis itu yang biasanya polos kali ini terpoles makeup tipis; bibirnya sekarang semerah cherry dan pipinya yang sedikit berisi tersapu blush on peach pinkㅡyang membuatnya terlihat semakin manis. belum lagi gaun putih yang senada dengan kulitnya itu menonjolkan lekukan tubuhnya yang sempurna, Namun saat mengingat kesempurnaan itu akan menjadi milik ayahnya, hati Jeon kembali hancur berkeping-keping.

“Para tamu sudah menunggu dibawah..” lanjutnya seraya mengalihkan pandangannya dari Hyerin dan berbalik arah.

“N-Ne, aku sudah selesai..” jawab Hyerin cepat, gugup. Dia benar-benar tidak menyangka kecanggungannya mengingkat seribu kali lipat setelah kejadian itu. Ia bahkan belum meminta maaf atas pernikahannya dengan ayah pria itu.
Hyerin mengikuti langkah Jeon perlahan, menatap bahu lebar pria itu dari belakang.

“Jeon..”

“Apa?” suara Jeon yang dingin membuat gadis dibelakangnya membeku. Sesaat suaranya terdengar seperti Kyuhyun dan itu membuat dada Hyerin terasa sesak.

“Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Aku tidak bermaksud ingin melukaimu..aㅡaku benar-benar tidak tahu kalau kauㅡ” Hyerin menggumam pelanㅡ diam-diam berharap Jeon mau menoleh dan melihat penyesalan yang terlukis jelas di wajahnya.

Jeon mematung, ia berfikir ia telah mati rasa; namun kenyataannya hatinya yang beku luluh saat mendengar isakan gadis dibelakangnya.

“Aku sudah tahu semuanya dari Yeseul.” jawab Jeon datar.

Hyerin tertunduk dan menggigit bibirnya kuat-kuatㅡ rasanya sangat berat mengatakan hal yang ia ingin sampaikan pada Jeon. Tapi ia benar-benar harus menyampaikannya.

“K-Karena itu sekarangㅡ sebaiknya lupakan semua yang telah kulakukan padamu, aku tidak ingin melukaimu lebih jauh lagi. Maafkan aku..”

“Ghwenchana.. Selamat atas pernikahan kalian.” hanya itu yang terlontar dari bibir Jeon sebelum melukis senyuman yang tidak bisa dilihat gadis itu dan kembali berjalan meninggalkannya. Namun detik berikutnya isakan tangis yang semakin sendu membuatnya menghela nafas dan berbalik arah, mendekap gadis itu. “Hei, Aku bilang tidak apa-apa!”

“Aku akan menjauh dari nuna, tapi tolong jangan memintaku untuk melupakan nuna. Aku tidak akan melakukan apapun yang membuat semuanya jelas didepan appa. Apa aku egois hanya karena sekedar menyimpan perasaan untukmu?”

Maafkan aku, Jeon.. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu menyukaiku seperti ini..

Jeon melepaskan pelukannya perlahan.

“Sudahlah, lupakan aku. sebaiknya nuna jangan banyak pikiran.. dua hari lagi art exhibition dimulai. Nuna harus memeriksa karya teman-temanku bukan? Sebaiknya kau fokus.”

“Ne..” gumam Hyerin getir. Kalimat terakhir Jeon sama sekali tidak membuatnya tenang, malahan dadanya semakin sesak saat mengetahui Jeon masih menyimpan perasaan untuknya. Dan itu artinya, Jeon belum bisa menerimanya sebagai ibunya.

*

Kyuhyun tersenyum puas memperhatikan para tamu yang tampaknya sangat menikmati acara pernikahannya malam ini. Event Organizer yang ia percayakan benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik. Pernikahan yang bertema Luxury itu telah berlangsung teratur dan menghibur karena Kyuhyun memanggil beberapa penyanyi ballad yang biasa mengisi OST drama korea dan membeli kue pernikahan terbesar untuk para tamu yang berasal dari kalangan atas.

Sementara istrinya sendiri yang duduk disebelahnya tidak terlihat terhibur sama sekali. Kyuhyun tahu pernikahan ini adalah persyaratan darinya dan Hyerin sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi pria itu tidak ingin seorangpun mengetahui soal ini.

Karena itu sekarang Kyuhyun menggenggam tangan gadis itu erat; Tentu saja ia tidak mau semua orang yang melihat istrinya dan bertanya-tanya ‘bagaimana bisa seorang wanita yang menikah dengan Cho Kyuhyun tidak terlihat bahagia sama sekali?’

Tapi gadis itu tahu. Ahn Hyerin tahu bahwa semua perlakuan Kyuhyun padanya hanya sebatas sandiwara

*

“I-Ini.. Bukan rumahmu..”
Baru saja pengantin baru itu sampai didepan pagar rumah namun tubuh Hyerin sudah panas dingin dan bulu romanya merinding. Matanya menatap nanar bangunan yang luar biasa besar nan mewah dibalik pagar ituㅡ bahkan bangunan itu lebih pantas dikatakan istana daripada rumah. Ini gila. Ia tahu Cho Kyuhyun masih cukup waras dan tidak mungkin membiarkan gadis malang sepertinya tinggal di tempat semegah ini.

“Ya, Ini rumah kita.” ujar Kyuhyun membuatnya semakin jelas. Hyerin mengerjap, tidak tahu harus bahagia atau takut. dia tidak pernah menyentuh barang berharga lebih dari seratus ribu won sebelumnya dan kini ia harus menginjak lantai rumah yang harganya kira-kira seratus juta won. Ini membuatnya syok.

“K-Kitaㅡ”

“Aku yang membelinya untuk aku, Jeon, adikmu dan kau tinggal disini. Jadi ini rumah kita. Kau tidak mengerti juga, ya? Ayo turun.” Kyuhyun mematikan mobilnya dan mengajak istrinya masuk kedalam rumah minimalis itu.
Hyerin tidak percaya apa yang dilihatnya ketika Kyuhyun membuka pintuㅡ ruang tamu rumah itu kelihatan luas dengan lantai marmer yang dingin dan sofa abu-abu panjang yang terlihat empuk. Atapnya sangat tinggi dan Hyerin dapat melihat balkon lantai dua dari bawah.

“Ini kamar kita. Kau suka?” Hyerin mengerenyit heran saat Kyuhyun membuka pintu kamar yang penerangannya minim itu. Didalamnya hanya ada lemari kayu hitam, meja rias dengan cermin besar dan ranjang ukuran king size.

“Sekamar?”

“Ayolah, Aku tidak sekejam yang kau kira, Ahn Hyerin..” Kyuhyun mendengus, mendorong pelan gadis itu untuk masuk kemudian mengunci pintu kamar mereka.
“T-Tapi ranjangnya hanya ada satuㅡ”
“Maaf..”
Hyerin terdiam sejenakㅡ bagaimana ia meminta maaf atas semua yang sudah ia berikan pada Hyerin? menurutnya semuanya sudah impas. Hyerin mendapatkan semua yang ia mauㅡ bahkan lebih; dan pria itu mendapatkan gadis itu untuk bisa dipamerkan.

“Tidak apa-apa, aku bisa tidur di sofa itu. Atau di karpet juga biㅡ”

“Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa? Kau tidur di ranjang.” sergah Kyuhyun.

“L-Lalu kau tidur dimana? Aku tidak mungkin tidur di ranjang sementara kau yang pemilik rumah ini tidur di sofa”

Kyuhyun menepuk keningnyaㅡ mulai frustasi dengan pertanyaan Hyerin yang tak kunjung berhenti. “Ya tuhan, Ahn Hyerin.. Ranjang itu masih cukup besar untuk menampung dua orang.”
Apa maksudnya Kyuhyun menyuruhnya untuk tidur bersama? seranjang?

Bagi pengantin baru, tentu saja. Tapi tidak dengan mereka. Pernikahan mereka berlangsung begitu saja.

“Lagipula kita tidak akan tidur terlalu cepat malam ini.”

Hyerin mengerutkan alisnya. “Memangnya apa yang seharusnya kukerjakan malam ini?”

Kyuhyun mendorong Hyerin keatas ranjang dan mengunci pergelangan tangan gadis itu, menatapnya tajamㅡ seolah gadis itu adalah mangsanya.

“Lebih tepatnya lakukan. Apa yang harus kau lakukan sebagai istri. Kau pikir kau menikah denganku dan semuanya selesai? Sekarang kau adalah istriku dan kau tahu tugasmu, Ahn Hyerin.” bisiknya lembut yang membangkitkan bulu roma gadis itu. “Kau harus melayani suamimu. Itu tugas seorang istri.” lanjutnya datarㅡ tanpa senyuman usil sama sekali dibibirnya. Kali ini dia tidak bercanda.

Hyerin membeku totalㅡ jantungnya berdegup kencang sejak beberapa detik yang lalu namun sekarang organ tubuhnya yang satu itu rasanya terhenti untuk sesaat. Wajah rupawan pria itu hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia bisa merasakan nafas Kyuhyun yang hangat dan berderu cepat didepannya. Gadis itu tidak bisa membayangkan seperti apa wajahnya di mata Kyuhyun saat ini, tapi yang sudah pastiㅡia terlihat seperti udang rebus sekarang.

“Dimulai dari sini.”

Detik berikutnya gadis itu merasakan aliran listrik menjalar disekujur tubuhnya ketika Kyuhyun menempelkan bibirnya dan menciumnya.
Kyuhyun mencuri ciuman pertamanya.

“T-Tuan Choㅡ” Hyerin tidak tahu apa yang terjadi namun ia merasakan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya. Sepertinya tubuhnya benar-benar tidak berpihak padanya malam iniㅡ Kenapa dia tidak memberontak?

Dia memang tidak pernah memberontak. Dia selalu menurut pada pria itu walaupun pria itu menjengkelkan dan membuatnya kesal. Tapi malam ini, pria itu sangat lembut. Dan Hyerin membenci itu karena kelembutan Cho Kyuhyun adalah kelemahannya.

“Jangan sebut aku dengan ‘Tuan’. Tidak sopan.” Kyuhyun kembali menautkan bibir mereka namun kali ini tidak ada unsur paksaan dari pihak Kyuhyun, bibir mereka mengecup satu sama lain, menikmati bunyi kecupan yang membangkitkan gairah mereka. Jari-jari panjang pria itu mengelus tengkuk Hyerin perlahan sebelum turun ke lengan dan pinggang rampingnyaㅡkemudian menyingkap gaun putih panjang yang menghalangi kulit putih susunya.

“Cho KyuhyunㅡKyuhyun oppaㅡ” Kyuhyun tersenyum puas saat gadis itu merintihkan namanya. Gadis itu mungkin sudah gila dibuatnya.

Tapi sesungguhnya Hyerin masih sadar dan ada sesuatu didalam dirinya yang ingin sekali ia ungkapkan pada Kyuhyun.
Pria itu melepaskan tautan bibir mereka, memberikan kesempatan berbicara bagi istrinya yang sekarang menarik kemejanya.

“Ne?”

Apa maksudnya ini? Kenapa kau terus-terusan membuat perasaanku kacau seperti ini?

Namun Hyerin sadar bahwa saat ini ia tidak dalam keadaan memadai untuk mengatakan satu katapun yang ada didalam benaknyaㅡ ia tidak ingin mengacaukan suasana. ia tidak ingin Kyuhyun berhenti dan meninggalkannya. Sial, sekarang dia sama saja dengan gadis-gadis centil yang mendatangi Kyuhyun setiap hari.

 

*

Sinar matahari pagi yang terik menembus vetrase kamar membuat Hyerin terjaga dari tidur nyenyaknya. Gadis itu menutup matanya kembali dan membukanya lagi untuk mengumpulkan kesadarannya, kemudian memorinya berputarㅡ mencoba mengingat apa yang telah terjadi tadi malam sampai membuatnya tidur se nyenyak iitu. Tadi malam ia bermimpi telah membawa semua muridnya ke Art Exhibition di Daelim museum dan semuanya berjalan lancar.

“Tunggu.. Art exhibition.. Astaga!!” Hyerin menepuk jidatnya, bagaimana ia bisa lupa kalau hari ini adalah Art Exhibition? Murid-muridnya pasti sudah menunggunya di Daelim Museum! Tanpa melihat jam sama sekali, Hyerin segera melonjak dari ranjangnyaㅡ namun detik berikutnya gadis itu menjerit merasakan seluruh badannya remuk dan bagian bawah tubuhnya luar biasa nyeri. “Akkh! Awwㅡ appooㅡ”

Hyerin kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Bagaimana bisa ia lupa apa yang telah Kyuhyun perbuat padanya semalam? Dengan mudahnya dia menerima semua sentuhan Kyuhyun, bahkan ia tidur dalam dekapan pria itu..
Jadi itu alasan mengapa tidurnya begitu nyenyak tadi malam?

Memikirkan itu wajahnya mendadak memanas dan jantungnya kembali berdegup kencang. Gawat.. ia tidak bisa pergi ke art exhibition dalam keadaan seperti ini. Tapi tiba-tiba ia memikirkan murid-muridnya terutama Jeon.. tidak, ia tetap harus pergi. Mana bisa ia membiarkan anak itu sendirian lagi?

Hyerin akhirnya memutuskan untuk berjalan setengah mengangkang menuruni tangga. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Kyuhyun yang sedang duduk di ruang makan sambil membaca majalah bisnis. Ya tuhan! jangan-jangan pria itu sedang menunggu sarapan dari istrinya!

Gadis itu buru-buru mengendap ke dapur dan membuka semua lemari yang ada disana sebelum kemudian ia menyerah; tidak ada yang bisa ia masak disana. Bahan-bahan masakannya sangat berbeda dari mansion Kyuhyun yang lama, kali ini lebih asing dan terlalu ke barat-baratan. Bayangkan saja, Hyerin biasanya hanya bisa memasak nasi dan ramen instan dan sekarang ia harus menggunakan kentang, mustard, paprika, butter dan pasta mentah untuk membuat sarapan.
Hyerin meletakan telunjuk di dagunya untuk berfikirㅡlalu meraih ponselnya dan mulai mencari resep masakan di internet.

*

 

“Aku tidak pernah tahu orang yang suka bawa makanan dari pinggir jalan bisa memasak makanan seperti ini.” komentar pria itu dengan nada meledek saat istrinya itu meletakkan sarapan masshed potato untuknya di meja makan. Baiklah, Cho Kyuhyun yang bagaikan binatang buas semalam sudah kembali menjadi reptil berdarah dingin seperti biasanya.

“Rasanya seperti nasi..”

Reaksi macam apa itu? Istrinya sudah mati-matian memasaknya untuknya; sampai merelakan lima belas menit berharganya hanya untuk mencari resep makanan terlezat di internet demi membuat sarapan untuk suaminya dan hanya itu reaksinya?
Hyerin sempat mengira kejadian tadi malam akan membuatnya salah tingkah saat melihat wajah tampan pria itu pada pagi hari tapi kenyataannya, Cho Kyuhyun tetap pria yang menyebalkan.

Kyuhyun meneguk teh di cangkirnya lalu mencampakkan sarapan buatan istrinya. “Tapi tidak apa-apa, aku sudah lama ingin makan nasi. Jadi, terima kasih.” ujarnya seraya meraih kunci mobil otomatis disebelahnya sebelum kemudian terdengar bunyi beep beep dari garasi.

Sebenarnya sejak tadi Hyerin bertanya-tanya mengapa pria itu hanya mengenakan kaos polo dan celana selutut. Sejauh ini ia selalu melihat pria itu dalam balutan jas atau coat formalㅡ dan yang paling santainya adalah kemeja putih ketat dan celana jeans.

“K-Kyuhyun oppaㅡ” Hyerin mencoba memanggil suaminya itu dengan sebutan yang dimintanya semalamㅡdan pria yang berjalan meninggalkan ruang makan itu menoleh padanya. Ya tuhan, apa yang ada dipikirannya? Rasanya sangat malu memanggil Kyuhyun dengan sebutan itu. “K-Kau mau ke Art Exhibition kan?”

“Untuk apa?”

Tanggapan Kyuhyun membuat Hyerin mengerenyit. “T-Tentu saja untuk melihat hasil kerja murid-muridmu dan menemani Jeon..”

“Hari ini ada janji gathering dengan Lee Corporation. Lagipula ada kau yang bisa mengurus semuanya, Kenapa aku harus repot-repot?”

Gadis itu mendesah frustasi ketika Kyuhyun langsung meninggalkannya setelah mengatakan itu seenaknya. Pria itu bahkan tidak pamitan padanya atau hanya sekedar menanyakan ‘bagaimana tidurmu’ walaupun ia tahu pria itu sudah mendengar suara jantungnya yang begitu keras tadi malam.
Apa yang membuatnya hatinya sebeku ini?

*

Ahn Hyerin berjalan menyusuri koridor megah itu dengan santai. Syukurlah ternyata ia belum terlambat dan masih sempat melihat-lihat lukisan-lukisan di Daelim museum yang sangat luar biasa. Nyaris semua lukisan pemandangan beberapa musim yang berderet rapi di dinding berwarna putih itu terkesan manis dengan warna-warna terang musim panas dan semi.
Namun ada satu lukisan yang menarik perhatiannya; lukisan itu menggambarkan perkotaan saat musim panas didalam pajangan bola kaca yang bersalju. Gadis itu sampai menciptakan teori sendiri; berpikir bahwa lukisan ini adalah gambaran dari perasaan sang pelukis. Entahlah, seperti perasaan yang terpendam.

“Nuna.”

“Jeon..” Hyerin menoleh kebelakang dan menemukan pemuda tampan dengan ransel hitam menggantung bebas di salah satu pundaknya. Stylenya selalu seperti ituㅡ berbanding terbalik dengan ayahnya. Wajah mereka juga tidak mirip meskipun Jeon sama tampannya dengan ayahnya. Jadi wajar saja kalau tidak ada yang menyangka kalau mereka sedarah. “Acaranya dimulai sepuluh menit lagi.”
“Jeongmal? Kenapa nuna tidak membangunkanku tadi pagi?” tanyanya, diam-diam maju beberapa langkah kedepan hingga mereka berdiri sejajar.

“Eoh? Tadi pagi aku sudah menggedor-gedor pintumu tapi tidak ada jawaban, aku kira kau sudah berangkat..”

“Ah, Jinjja.. Itu pasti.. aku masih tidur”

“Padahal hari ini akan menjadi hari yang paling menyenangkan. Kita bisa melihat karya-karya pelukis favorit kita.” ujar Hyerin seraya menatap kembali lukisan yang ada didepannya.
“Itu yang kupikirkan sejak tadi. Memangnya pelukis favorit Hyerin nuna siapa?”
Tak sadar senyum tipis menghiasi bibir mungil Hyerin. “Aku tidak tahu siapa yang melukis ini.. tapi sejauh ini karyanya yang paling menarik perhatianku.”
Jeon memasukkan kedua telapak tangannya kedalam sakunya dan mendongak untuk memperhatikan lukisan didepan mereka. “Ya, lukisan appa memang unik.. terkadang aku juga ingin menjadi hebat seperti appa.”
Appa? Hyerin diam-diam heran dengan perkataan Jeonㅡapa dia sedang memikirkan ayahnya? terlebih lagi tadi secara tidak langsung Jeon bilang bahwa dia mengagumi ayahnyaㅡpadahal ia tahu bahwa hubungan keduanya tidak terlalu dekat.
“Appamu pernah melukis seperti ini juga?” tanyanya sambil menatap Jeon bingung. Sementara pria muda itu tertawa.

“Ini memang lukisan appa.”

“M-Mwoya?” tanpa sadar mulut Hyerin terbuka lebar. Hatinya berdebar-debar dan bulu romanya berdiri. Ia masih tidak menyangka Kyuhyun bisa melukis secantik ini dan dimuat Daelim museum. Dunia benar-benar tidak adil. “A-Aku tidak pernah kalau dia yang melukisnyaㅡ”
“Biarpun tidak ada namanya tapi bisa aku mengenali lukisannya dari warna-warnanya yang agak pudar.” jelas Jeon sambil mengamati lukisan didepannya. “Ngomong-ngomong, appa tidak datang lagi ya?”
“Appamu sudah berangkat dari tadi pagi” jawabnya lalu cepat-cepat menambahkan, gadis itu berharap ia tidak memperparah mood Jeon yang terlihat sudah hancur. “Aku akan menemanimu, tenang saja. Dia pasti punya banyak masalah yang harus ia selesaikan, mungkin kau tidak tahu.”

*

“Selamat atas kemenanganmu, Jeon-ah!” seru Hyerin saat mereka bersulang di restoran didepan rumah sakit yang tempo hari ingin dikunjungi Yeseul.
Jeon tertawa pelan. “Ini semua berkat bantuan nuna, terima kasih.”
“Ani.. aku yang harus berterima kasih padamu telah mengajak Yeseul kesini.”

Diam-diam senyum simpul menghiasi wajah Hyerin saat melihat ekspresi Yeseul yang berbeda dari biasanya. Gadis itu kali ini terlihat sangat ceria dan matanya berbinar-binarㅡ seperti bukan Yeseul yang biasanya ia temui di rumah sakit atau rumah gubuknya beberapa bulan yang lalu. Tentu saja, adiknya itu pasti sangat senang impian kecilnya terwujudkan.

“Ngomong-ngomong, appamu dimana, sunbaenim?” tanya Yeseul polos.

“Dia tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini.”

“Yeseul!” Hyerin mengirimkan tatapan mengancam ke adiknya yang mengatakan hal beresiko seperti itu. Ia tahu perasaan Jeon sedang kalut akhir-akhir ini dan ia tidak ingin menambah masalahnya lagi.
Tapi senyuman tipis menghiasi wajah rupawan Jeon yang diwarisinya dari ayahnya itu. Dan Hyerin bisa melihat itu bukan senyuman pahit atau palsu.
“Tidak apa-apa Nuna, aku senang sejak ada kalian disini, aku tidak merasa kesepian lagi. Aku sangat bersyukur dengan kehadiran kalian disini.. Terima kasih.”

*

Ahn Hyerin memoleskan cat air berwarna biru muda pada sketsa awan yang ia gambarㅡ kemudian berhenti sebentar untuk menyeka dahinya yang berkeringat dengan sikunya. Sesaat ia terlihat tersenyum puas saat mengamati kembali karyanya; gadis itu yakin kali ini lukisannya pasti diterima di Daelim museum.

Ternyata lukisannya jauh lebih bagus ketika hatinya terasa sangat lega dan tanpa beban; mengingat sejak minggu lalu ia tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit adiknya dan apa lauk yang harus ia beli untuk makan siang.
Gadis itu sampai lupa kapan terakhir kali ia merasakan hatinya seringan iniㅡ atau memang belum pernah merasakannya sama sekali?

Sepertinya kebahagian yang dijanjikan Kyuhyun baru saja dimulai. Yah, Biarpun pria itu selalu bersikap seenaknya, tapi setidaknya ia telah menepati janjinya.

Drrrr


Baru saja gadis itu ingin melanjutkan lukisannya, perhatiannya teralihkan pada ponsel yang bergetar diatas pinggiran kayu di kanvasnya.

New Message From Kyu

“Kudengar dari anak kelas 12A, hari ini kau pulang lebih awal, ya?”

Hyerin segera membalasnya agar bisa cepat-cepat melanjutkan lukisannya.
“Ne. Murid-muridku kelelahan karena Art Exhibition selesai jam 10 malam kemarin, jadi aku menyuruh mereka beristirahat dirumah. Memangnya ada apa?” tumben sekali kau menanyakan kegiatanku.
Selang detik berikutnya ponselnya kembali bergetar.

“Baguslah, kalau begitu berarti kau bisa membantuku sore ini.”

Gadis itu mengerutkan kening.

“Membantu apa? Tapi aku sedang menyelesaikan lukisanku untuk diserahkan besok pagi.”

Hyerin meletakkan ponselnya setelah membalasnya dan kembali berkonsentrasi pada lukisan yang baru setengah jadi di hadapannyaㅡ meskipun sebenarnya ia penasaran apa yang diinginkan Kyuhyun darinya kali ini. Firasatnya mengatakan ini bukan urusan sekolah; semua ujian sudah selesai dan sebentar lagi libur semester dimulai.

“Ceritanya panjang. Intinya; aku harap kau bisa menemaniku di acara ceremony perusahaan rekan kerjaku, di grand mercury hotel.”

Acara ceremony? bukankah seperti acara itu lebih seperti pesta? Hyerin tidak pernah pergi ke pesta sebelumnya. Menurutnya acara seperti itu hanya ajang pamer kemewahan dan tidak menghasilkan apapun. Masih banyak hal lain yang harus ia kerjakan. Lagipula ia juga tidak suka dengan keramaian.

“Aku sudah bilang aku harus menyelesaikan lukisanku malam inㅡ” Hyerin belum sempat mengirim balasannya namun ponselnya kembali menerima pesan.

“Kau yakin tidak mau datang? padahal Lee Donghaeㅡrekan kerjaku itu bilang ia tertarik dengan lukisanmu di Daelim museum tempo hari.”

Hyerin tertegun. Ia pernah mendengar nama orang yang disebutkan Kyuhyun tadi di salah satu talkshow di televisi yang ditontonnya. Kalau tidak salah Lee Donghae termasuk dalam salah satu pria muda terkaya di Korea. Dia berkerja sebagai pengamat seni dan biasanya pelukis yang berkerja sama dengannya akan langsung terkenal di luar negeri.
Kalau itu terjadi padanya, tujuan hidupnya akan terpenuhi. Menjadi pelukis ternama adalah cita-citanya sejak dulu. Ia ingin karyanya berguna bagi orang lain. Dan ini adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan.

Drrrr

“Aku harap kau datang. Karena dia bilang dia ingin membeli lukisanmu.”

Drrr

“Jeon dan Yeseul juga datang jika kau merasa canggung berduaan denganku.”

Hyerin menggenggam ponselnya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi dia tidak bisa mempertahankan konsistensinya. Baiklah, hanya untuk kali ini saja.

“Sepertinya aku bisa menyelesaikan lukisanku setelah itu.”

Tapi apa yang harus ia kenakan? Yang ia tahu hotel Grand Mercury adalah hotel bintang lima untuk orang-orang kalangan atas dan itu artinya dia tidak mungkin mengenakan dress formal yang ia pakai sehari-hari untuk mengajar.
Seingatnya Yeseul punya gaun pesta saat menghadiri pernikahannyaㅡtapi ia tidak mungkin meminjamnya kan?

“Bagus. sebaiknya sekarang kau buka lemarimu. untung saja aku ingat selera berpakaianmu buruk.”

Hyerin tidak mengindahkan komentar pria itu soal seleranya dan langsung membuka lemari pakaiannya. Apa pria itu menyiapkan sesuatu untuknya?

“Igeo.. igeo mwoya..(apa-apaan ini..)” Hyerin terus menggerutu sebelum tiba-tiba ia tertegun ketika matanya menangkap goodie bag besar berwarna perak dengan tulisan sambung “Tiffany’s”

Hatinya sedikit berdebar membuka selotip yang menyambungkan sisi goodie bag itu dengan hati-hati kemudian menemukan gaun berwarna biru safir beserta secarik kertas didalamnya.

‘aku tidak tahu soal fashion wanita tapi aku pikir ini cocok untukmu’

Tanpa sadar senyum mulai mengembang di bibir gadis itu. Cho Kyuhyun memang selalu tak terduga.

*

Sorotan tamu-tamu pria yang mereka lewati sejak mereka melangkah masuk ke dalam aula membuat Kyuhyun sedikit terusik. Pria itu kemudian menggenggam erat tangan gadis yang menjadi pusat perhatian itu; bermaksud menandakan bahwa gadis itu adalah miliknya dan tidak ada seorangpun yang boleh mendekatinya.
Sejujurnya Kyuhyun sendiri juga tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu; rambutnya yang panjang tergerai bebas, riasan wajahnya begitu sederhana namun membuatnya terlihat manisㅡdan gaun biru safir yang kontras dengan kulit putih susunya itu sangat cocok dikenakannya. Ternyata pilihannya tidak keliru.

“Kyuhyun-ah!” seorang pria dengan tuxedo melambai kearah mereka dan Hyerin langsung tahu bahwa orang itu adalah Lee Donghae. Wow, ternyata pria itu lebih rupawan dari yang ia lihat di televisi tempo hari.

“Donghae-hyung!” Kyuhyun berbalik menyapanya seraya menarik Hyerin untuk menghampirinya. Apa mereka seakarab itu? Tadi Donghae juga memanggil Kyuhyun dengan sebutan ‘Kyuhyun-ah’ sepertinya hubungan mereka lebih dari rekan kerja.

“Perkenalkan ini istriku. Kau ingin bertemu dengannya kan?” tanya Kyuhyun ketika mereka sudah berdiri sejajar. Pria itu menyengir dan menjabat tangan Hyerin.

“Ah, Halo. Aku Lee Donghae. Mian tidak bisa datang ke pernikahan kalian, aku ada dinas ke perancis waktu itu.”

“Aniyo, tidak apa-apa, Tuan Lee. Oh ya, Aku Ahn Hyerin. Kau bisa memanggilku Hyerin.” kata Hyerin seraya membalas jabatan tangannya.

Lee Donghae tersenyum lebar. “Ne, neh.. aku tahu. Aku sering melihat lukisanmu di Daelim Museum dan aku langsung jatuh cinta dengan karyamu, Apa kau sudah pernah menjualnya di pameran internasional?”

“Jwiseonghamnida, Sebenarnya aku bukan pelukis sungguhan. Aku hanya menyumbang lukisanku untuk memenuh-menuhi galeri saja. Tapi aku selalu ingin menjadi pelukis.” jawabnya jujur yang membuat Kyuhyun ingin menjambak rambut panjang istrinya itu.

“Jeongmal? Aku yakin semua orang mengiramu pelukis kelas dunia. Sayang sekali ya..” Tatapan hangat Donghae berubah menjadi iba.

Apa yang dikatakannya barusan? Jawaban jujurnya barusan pasti membuat Donghae menjadi tidak tertarik dengannya.

Astaga, Ahn Hyerin, kau benar-benar mengacau!

“Ngomong-ngomong, aku sering menyelenggarakan pameran-pameran lukisan inter untuk dipamerkan langsung ke luar negeri dan para artist eropaㅡdan kebetulan aku mencari orang yang berbakat sepertimu. Jadi kupikir kita bisa berkerja sama untuk kedepannya.. Apa kau tertarik?” tanya Donghae santai, namun membuat Hyerin nyaris serangan jantung. “Ehm, Kalau kau tidak bersediapun, aku akan tetap membeli lukisanmu.”

Tentu saja aku tertarik!!! sangat tertarik!!!

Sesuatu didalam diri Hyerin menjerit-jerit tapi gadis itu berusaha untuk tidak terlalu terlihat heboh. Disamping itu ia juga mengagumi Lee Donghae yang terlihat sangat ramah dan berwibawa. Tidak heran ia bisa sesukses itu.

“N-Ne, dengan senang hati, Tuan Lee.”

“Kalau begituㅡ”

Belum sempat Donghae berbicara seorang pria pendek menghampiri mereka dan menginterupsi. Sepertinya dia asisten Donghae. “Tuan Lee, Direktur Choi ingin bertemu denganmu”

“Orang itu sudah datang?” Donghae mengalihkan pandangannya pada pria itu sebentar sebelum kembali menatap Hyerin dan mengambil sesuatu dari sakunya. “Ah, ini kartu namaku. Kau bisa menghubungiku besok.”

“Terima kasih banyak..” ucap Hyerin seraya tersenyum dan membungkuk kecil.

“Ani, Terima kasih sudah datang. Aku permisi sebentar, Semoga kalian menikmati pesta ini!” ujar Donghae ramah, kemudian kembali membicarakan sesuatu dengan asistennya.

Kyuhyun ikut tersenyum sambil terlihat mengucapkan ‘Ne, terima kasih hyung’ sebelum pria itu menghilang dari pandangan mereka berdua.

“Ehm, Aku ke toilet dulu sebentar.” Kyuhyun berdehem, lalu melepaskan genggaman tangan mereka dan meninggalkan Hyerin sendiri ditengah keramaian.

Senyum simpul gadis itu perlahan menghilang, kecemasan didalam dirinya mulai menjalar. Sebenarnya ia sangat tidak suka dengan keramaian atau tempat yang terlalu banyak orang. Sebaiknya sekarang ia mencari Jeon atau Yeseul agar tidak sendirian. Hyerin berdiri dipojokan ballroom dan matanya mencari-cari dua anak itu.

Namun itu tidak berlangsung lama karena banyak orang yang sepertinya rekan kerja Kyuhyun menghampirinya dan mengajak ngobrol. Sebagian orang sudah mengenalnya sejak hari pernikahannya dengan Kyuhyun. Mereka berbincang-bincang soal karier dan Hyerin sempat mencari tahu tentang Kyuhyun lewat teman-temannya. Sekarang ia tahu bahwa suaminya itu bukan hanya kepala sekolah tapi juga mewakili Korea selatan dalam seni lukis. Bahkan namanya juga sering muncul di koran-koran internasional yang sangat jarang ia baca.

Cho Kyuhyun adalah orang penting.

Bagi masyarakat di Korea, baik pelajar maupun yang sudah kerja; Seni adalah segalanya. Mereka biasanya menghabiskan akhir minggu dengan pergi mencari tempat-tempat yang berseni tinggi untuk fotografi atau mengunjungi Art Exhibition. Jadi tidak heran kalau Kyuhyun bisa sepopuler itu.
Dan mengetahui itu membuat kepercayaan dirinya goyahㅡ mengingat gadis itu bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang guru lukis biasa yang suka menyelundupkan lukisannya ke museum terkenal.

Bahkan sampai sekarang ia tidak tahu mengapa seorang pria hebat seperti Kyuhyun mau menikahi gadis sepertinya.

*

“Oppa? Kyuhyun oppa? Neorago?” seorang gadis berponi tampak menunjuk-nunjuk Kyuhyunㅡmembuat Kyuhyun yang baru saja keluar dari toilet pria mengerutkan kening. Gadis itu sangat familiar namun sedikit lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu.

“Kim Nahee..”

Kyuhyun merasakan jantungnya berdebar menyakitkan ketika gadis itu berlari kearahnya dan tersenyum padanya. Ia pernah mencoba melupakan gadis itu tapi kali ini memorinya kembali mengingatnya; gadis itu pernah menjadi alasan Cho Kyuhyun tergila-gila karenanya. gadis itu pernah menjadi alasan Cho Kyuhyun bersedia melakukan apapun untuk membuatnya tersenyum.
Kim Nahee adalah mantan kekasihnya.
Bagaimana gadis itu bisa ada disini? dan Bagaimana gadis itu bisa seramah itu padanya setelah pertengkaran mereka beberapa waktu silam?

“Oppa, oraenmaniya(lama tidak berjumpa).” suaranya masih sama seperti yang dulu, seperti kain beludru yang halus, tapi berhasil membuat Cho Kyuhyun terluka. Begitu juga dengan wajahnyaㅡumurnya sudah bertambah namun kecantikannya tidak berubah; bibirnya masih semerah cherry, kulit putih porselennya masih mulus tanpa cela, dan rambut panjangnya yang berponi tipis membingkai wajah tirusnya dengan sempurna.

“Kau sendirian saja?” Nahee menatap sekeliling Kyuhyun.

“Aku kesini bersama istriku, Ahn Hyerin, dan anakku.” Kyuhyun tidak berani menatap Naheeㅡmatanya mencari-cari Hyerin sebelum menangkap sosok istrinya itu dipojok ballroom dengan putranya. “Itu mereka.”

“Istri? Wah, Kau sudah punya istri lagi, oppa?” Kim Nahee terlihat terkejut namun kemudian ia kembali tersenyumㅡterlihat seperti bahagia saat mendengar mantan kekasihnya akhirnya sudah menemukan pasangan hidupnya.
“Mereka sangat akrab, ya.” komentar Nahee yang sepertinya melihat kedekatan antara Hyerin dan Jeon. Hyerin yang menyadari tatapan Nahee berbalik menatap gadis itu dari kejauhan.

“Sedang apa kau disini?” tanya Kyuhyun basa-basi. Tentunya ia tidak ingin terlihat menghindari Nahee kan?

“Hm? Kebetulan minggu lalu aku diterima kerja di Lee Corporation sebagai sekertaris direktur.”

“Jadi sekarang kau sekertarisnya? Baguslah kalau begitu. Kerjalah yang benar, jangan sampai mengecewakannya, Nahee-ya.” jawab Kyuhyun pura-pura peduli. “Sudah ya, istriku sepertinya sudah menungguku.”

“Ne, sampai jumpa, oppa!” ucap Nahee sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Kyuhyun menarik nafas dalam-dalamㅡmengendalikan emosinya yang tak terbaca ketika meninggalkan gadis itu dan berjalan kearah istrinya.

Apa gadis itu mau mencoba menarik perhatiannya lagi, huh?

“Oppa, itu siapa?” tanya Hyerin heranㅡmatanya masih memandangi gadis itu dari kejauhan saat Kyuhyun sudah berdiri didepannya.
“Kim Nahee. Temanku dari SMA.” ujar Kyuhyun berbohong.

Sebenarnya Hyerin sudah memperhatikan mereka sedari tadi dan hanya bisa memandangi gadis itu dalam diam, memikirkan bagaimana mungkin ada gadis yang mempesona seperti itu.
Jujur saja, Hyerin sedikit minder ketika ia melihat Kim Nahee. Gadis itu sangat cantik bak boneka porselen. Dia mempunyai semua fitur wajah sempurna yang Hyerin tidak punya. Dari stylenya pun tidak bisa dibohongi, gaun yang dipakai Kim Nahee terkesan seksi namun tetap berkelas. Seperti langit dan bumi dengan Hyerin yang sama sekali tidak mengerti cara berpakaian yang elegan. Bahkan malah Cho Kyuhyun yang memilih gaun yang dipakainya sekarang iniㅡsungguh memalukan.

Lalu Hyerin menyadarkan dirinya sendiri; Hei, Memangnya dirinya siapa? mungkin saja Kim Nahee adalah model majalah atau trainee agensi girlband terkenal. Yang pasti Kim Nahee adalah gadis yang terpandang dan terima saja kenyataannya.

Tapi jika Kyuhyun punya kenalan yang cantik dan kaya seperti itu, kenapa dia tidak menikahinya saja? Kenapa harus dirinya, yang biasa-biasa saja? Apa karena dirinya bisa dibeli dengan uang? Tiba-tiba gadis itu merasa tidak pantas dengan kehadirannya ditempat ini. Apakah pria itu tidak malu memamerkan barang gratisan sepertinya?

Detik berikutnya seorang pria berambut gondrong menghampiri mereka.

“Kyuhyun-ah, lama tidak jumpa.”

“Yah, Yesung hyungie, kau masih hidup eoh?” ledek Kyuhyun bercanda; sepertinya yang ini juga bukan rekan kerja Kyuhyun.

“Oh ya, kenalkan iniㅡ” Kyuhyun baru saja ingin mengenalkan Hyerin pada temannya namun gadis itu sudah menghilang dari sisinya. Perasaan Kyuhyun mendadak tidak enak. Apa gadis itu cemburu karena Nahee? Bukan, sepertinya bukan karena itu. Sejak mereka memasuki hotel ini gerak-gerik Hyerin memang terlihat tidak nyaman saat semua orang memandanginyaㅡseperti.. malu? Yang benar saja, apa gadis itu tidak sadar seberapa mempesonanya dia? “Jwisonghamnida, sebentar hyung..”

*

Ahn Hyerin berlari ke balkon yang sepi diluar ruangan, bersyukur keadaan didalam sangat ramai dan bersiik jadi tidak ada yang memperhatikan bahwa gadis itu melarikan diri. Ia menatap gedung-gedung tinggi yang lampunya terlihat seperti puluhan bintang dengan pikiran campur aduk. Beberapa momen yang terjadi tadi cukup membuatnya tidak pantas berada ditempat ini. Bahkan disisi Kyuhyunpun ia merasa tidak pantas. Pria itu bukanlah orang sembarangan; dia adalah duta seni Korea dan mempunyai teman wanita supermodel. Lalu ia melihat dirinya sendiri; Apa yang bisa dibanggakan darinya?

Bintang-bintang yang dilihatnya mulai mengaburㅡbutiran bening menggenang dipelupuk matanya. Perasaannya hancur berantakan. Sampai-sampai ia tidak mempedulikan angin dingin menusuk tulangnya.

“Kau pikir apa yang kau lakukan?”

suara Kyuhyun dibelakangnya membuat butiran bening yang semula menggantung dipelupuk matanya jatuh.

“Jangan kesini.” pinta Hyerin lirih.

Hatinya berdebar lebih cepat begitu mendengar derap langkah dibelakangnya semakin dekat.

“Kau menggigil..” suara Kyuhyun kali ini melembut dan terdengar sangat dekat; pria itu sudah berada tepat dibelakangnya.

“Aku tidak apa-apa.” bohong. Hyerin sejujurnya kedinginan sejak tadi. Balkon ini ada di lantai dua puluh dan anginnya sangat kencang.

“Pakai jas ku.”

“Tidak mau.” tolak Hyerin tanpa menoleh sedikitpun kearah Kyuhyun; wajahnya seperti udang rebus sekarang dan ia tidak ingin pria itu melihatnya. Sementara pria itu masih berdiri dibelakangnya, melipat tangannya didepan dadanya. Kejadian itu berlangsung beberapa menit sebelum kemudian Hyerin merasakan tubuhnya kembali gemetaran dan bersin-bersin.

“Kan, apa kubilangㅡ”

Hyerin tertegun begitu merasakan sentuhan tangan lembut melingkar dipinggangnya. Suhu tubuh Kyuhyun yang hangat memeluk erat tubuhnya dari belakang. Kehangatan yang masih sama seperti malam pertamanya waktu itu. Merasakan itu sekejap membuat Hyerin terlupa dengan semua kecemasannya dan sekujur tubuhnya terasa luar biasa nyamanㅡ namun jantungnya terus berdegup kencang sampai-sampai ia takut Kyuhyun bisa mendengarnya.

“A-Apa yang kau lakukanㅡ”

“Kau bilang kau tidak mau pakai jasku. Tapi kau tidak bisa membiarkan tubuhmu kedinginan.” suara Kyuhyun sangat pelan dan lembutㅡ hampir terdengar seperti berbisik namun Hyerin masih bisa mendengarnya. Lalu tiba-tiba gadis itu sadar, Ia tidak boleh jatuh karena perlakuan Kyuhyun padanya. Banyak orang yang memperhatikan mereka dari belakang. Ini pasti hanya salah satu bagian dari dramanya.

“Aku tidak kedinginan.. aku hanya..” aku merasa tidak pantas berada disini, aku benci tempat ini.  aku benci tidak bisa  aku hanya ingin pulang. “aku belum terbiasa dengan semua ini.”

“Sebenarnya aku juga benci ditempat ini.”

Hyerin tertegun mendengarnya. Apakah pria itu bisa membaca pikiran Hyerin atau memang tadi gadis itu tidak sengaja mengatakan isi pikirannya?

“Aku benci banyak pria disini memandangimu seakan ingin memilikimu, aku benci semua wanita yang menatapmu dengan penuh kecemburuan dan membuatmu tidak nyaman. Jadi ayo kita pulang.”

Saat Kyuhyun mengatakan itu pertahanan Hyerin runtuh. Gadis itu tidak bisa lagi membohongi perasaannya bahwa ia memang jatuh cinta pada pria itu. Walaupun ia tahu Kyuhyun hanya berpura-berpura, Tapi kali ini ia tidak peduli. Ia akan menikmati setiap detik bersama pria itu seperti menonton drama favoritnya. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Cho Kyuhyun. Bahkan selamanya.

*

Daelim Art Distribution, South Korea.

KLING KLING

“Selamat datang.” Seorang wanita paruh baya menyapa begitu Hyerin membuka pintu kaca dan langsung menyambut gadis itu dengan tatapan aneh. Sepertinya orang itu familiar.. Ya, Hyerin pernah membayar belanjaannya di supermarket tempo hari.

“Eommonim?”

“Hee? Kau.. gadis yang waktu ituㅡ” ekspresi bingung wanita itu berubah menjadi senyuman hangat.

“Eommonim berkerja disini?”

“Hari ini pegawaiku tidak ada yang masuk jadi aku terpaksa menggantikan mereka..” ujarnya sambil tertawa malu.
Hyerin tertegun sejenak. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna maksud wanita paruh baya itu kemudian tersadar.

“M-Maksud EommonimㅡEommonim pemilik Art Distributor ini?”

Wanita itu mengangguk mantapㅡmembuat semuanya semakin jelas dan gadis didepannya tercengang.

“Jinjja daebak..” Hyerin menatap wanita didepannya dengan kagum. Masih tidak menyangka menyangka wanita tua yang kelihatannya biasa-biasa saja ini ternyata adalah ‘atasannya’ selama ini.
“Ngomong-ngomong, Aku Han Sungkyung. Siapa namamu? Apa kau sering menjual lukisanmu disini?” tanya wanita itu.

“Ah, aku Hyerin, Ahn Hyerin. Ne, sudah setahun. Oh ya, ini lukisanku hari ini.” Hyerin sibuk mengeluarkan kanvas besar dari dalam kantong plastik yang ditentengnya kemudian menyerahkannya pada Nyonya Han.
Wanita paruh baya itu kemudian membelalakan matanyaㅡmembuat jantung Hyerin berdegup kencang.

“Omona.. Ini benar-benar bagus.” komentar Nyonya Han. “Ini bisa dihargai 500 ribu won!!”

“Jinjjayo?” Gadis itu ikut membelalakan matanya karena tidak percaya dan kembali melihat lukisannya di kanvas ituㅡia melukis pemandangan di kota Venice; dimana terdapat beberapa kapal cantik diatas air danau yang bening, bangunan-bangunan kuno serta jembatan putih memenuhi latar belakangnya dan langitnya berwarna biru muda. Lukisannya terkesan sangat romantis dan menenangkanㅡmembawa orang yang melihatnya ke masa lalu. Gadis itu bahkan tidak sadar kalau karyanya sampai seindah itu.

“Coba lihat lukisan disana, itu adalah lukisan milik Dal Nara, pelukis legendaris di Korea waktu kukecil dulu.” Nyonya Han menunjuk lukisan pemandangan danau yang dipajang di tembok dekat pintu. “Komposisi warna kalian sama. Benar-benar mengagumkan. Daelim Museum pasti mau mengeluarkan banyak uang untuk ini.”

“T-Tapi memang ini tidak apa-apa? Aku belum pernah menerima uang sebanyak ini dari siniㅡ” tanya Hyerin ragu.

“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena sudah menolongku waktu itu.”

 

*

Ahn Hyerin masuk kedalam ruang tamu di rumahnya dengan wajah gembira. Meskipun Kyuhyun sudah memberinya sejumlah uang; rasanya tetap lebih menyenangkan mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Setelah ini ia akan menelepon Lee Donghae; kemarin malam pria itu sudah menyuruhnya untuk menghubunginya hari ini. Hyerin kemudian mengambil kartu nama dari dalam dompetnya dan menyalin nomor yang tertera disitu ke ponselnya.
Detik berikutnya ia menekan tombol telepon dan hatinya berdebar-debar menunggu jawaban dari pria ituㅡgadis itu sedang membayangkan sebentar lagi mungkin dia bisa menjadi seorang pelukis yang dikenal semua orang. dan dengan begitu ia akan merasa pantas bersanding dengan Kyuhyun. Namun tak lama angan-angan itu memudar ketika timah panas tiba-tiba mengisi perutnya dan kepalanya terasa berputar.

“Yoboseyo?” ketika Donghae mengangkat teleponnya, timah panas itu semakin menjalar dan membuat gadis itu ingin memuntahkan isi perutnya. Tidak mungkin, dia tidak bisa sakit disaat seperti ini!

“Y-Yoboseyo, Tuan Leeㅡ Ini aku, Hyeㅡ” tak sadar suara gadis itu bergetar menahan mual.

“Ah, Hyerin-ah.. Ghwenchanayo? Suaramu terdengar seperti sedang kesakitan..” suara Donghae terdengar cemas kali ini. Sesuatu didalam perut Hyerin tiba-tiba terasa mendesak keluarㅡ membuat gadis itu segera berlari ke toilet dan membiarkan ponselnya yang masih tersambung terbanting ke lantai.

“Eonni!!”

Hyerin mendengar Yeseul menyusul ke toilet saat mendengar kakaknya itu muntah-muntah.

“Eonni, ghwenchanayo?” Yeseul mengelus-elus pundak Hyerinㅡ wajahnya pucat karena panik. Kakaknya itu sangat jarang sakit, dia selalu terlihat baik-baik saja meski disaat ia kelelahan atau tidak pernah tidur sekalipun.

“Mollaㅡ”

Astaga, ia benar-benar sakit. Kenapa dia harus sakit disaat seperti ini? Pasti dia masuk angin karena membeku di balkon hotel, ditambah lagi semalam ia tidak tidur untuk menyelesaikan lukisannya. Lagipula dia memang tidak bisa tidur karena kepikiran gadis yang berbicara dengan suaminya itu itu sepanjang malam.

*

“Yoboseyo? Donghae-hyung? Wae geurae? Tumben sekali kau meneleponku.”

“Barusan istrimu menelponku, suaranya terdengar serak dan tiba-tiba ponselnya mati. Entahlah, kedengarannya seperti terjatuh. Coba kau hubungi dia, apa dia baik-baik saja?”

“Apa?” suara Kyuhyun yang awalnya tenang berubah menjadi gusar. darahnya seketika berdesir dan beberapa hal-hal buruk mulai berkelebat di pikirannya. “Aku sedang di sekolah jadi aku tidak tahu, aku akan menghubunginya. Terima kasih sudah memberitahuku”

Klik.

Kyuhyun menutup teleponnya dan menghubungi istrinya.

“Oppa..” hatinya kembali tenang saat mendengar suara istrinya dari seberang telepon.

“Tadi Lee Donghae meneleponku, katanya tiba-tiba ponselmu terbanting. Apa kau baik-baik saja?”

“Ghwenchana, aku hanya merasa pusing dan ingin muntah tadi sepertinya aku masuk angin.”

Kyuhyun memijat dahinya, gadis keras kepala itu sendiri yang menyakiti dirinya dengan melukis semalaman.

“Sudah kubilang jangan aneh-aneh, eoh?” suara Kyuhyun tetap datarㅡnamun sepertinya sedikit menyinggung perasaan Hyerin karena gadis itu tidak menjawab. “Sebaiknya sekarang kau ke dokter, aku akan menyuruh asistenku untuk menjemputmu. Kerjaanku masih banyak, jadi jangan merepotkanku.”

TOK TOK TOK

Kyuhyun menutup teleponnya dan menghela nafas panjang begitu seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. “Masuklah..”

Detik berikutnya Kyuhyun mendengar derit pintunya terbuka dan seorang gadis berkemeja hitam masuk kedalam ruangannya. Butuh beberapa detik bagi Kyuhyun untuk mengenali sosok itu sebelum menyadari siapa gadis itu dan darahnya berdesir hebat.

Gadis yang ia temui tadi malam.

“Kim Nahee..”

Apapun yang dilakukan gadis itu disini, sudah pasti bukanlah hal yang benarㅡdan Cho Kyuhyun harus segera menyingkirkannya dari sini.

“Apa maumu?”

Kim Nahee terlihat sedikit tercengangㅡ Tak menyangka Kyuhyun akan mengatakan hal yang bersifat ‘mengancam’ padanya.
“Yah, Kyuhyun oppa, Kenapa kau aku hanya melihat-lihat sekolahmu disini.” gadis itu berusaha tetap terlihat baik-baik saja walaupun sebenarnya ia tersinggung.

Kyuhyun mengerutkan kening, kemudian membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya menulis laporan; barangkali dengan begitu Kim Nahee akan pergi dan merasa tidak dihargai. Kyuhyun sudah mengenal Nahee sejak dulu dan ia tahu gadis itu paling benci diabaikan.

“Tidak, tidak, aku bercanda. Aku hanya ingin menagih janjimu.” suara lembut Nahee tiba-tiba berubah menjadi dingin.

“Kau pernah bilang kau akan menceraikan Sunhwa dan menikahiku kan? Dan kenapa sekarang saat Sunhwa meninggal kau malah menikah dengan gadis lain?”

Kyuhyun menghela nafas, sudah menduga Kim Nahee akan mengatakan hal seperti itu.

“Jangan pura-pura amnesia, Kim Nahee. Saat Sunhwa meninggal aku sudah mengakhiri hubungan kita dan itu artinya semua itu tidak berlaku lagi sekarang.”

Kim Nahee terperangah. Kalimat Kyuhyun barusan seperti tamparan keras untuknyaㅡmenyadarkannya bahwa Kyuhyun sudah tidak membutuhkannya lagi.

“Tapi janji tetaplah janji, oppa. Apa kau mengkhianatiku? Jangan bilang saat kita masih berhubungan kau juga punya hubungan dengan Ahn Hyerin? eoh?” cecar Nahee, berusaha untuk terlihat malang seolah dia adalah korban disini.

“Kenapa sekarang kau membawa-bawa nama Ahn Hyerin? Aku bahkan tidak pernah punya hubungan apapun dengannya sebelum kami menikah.”

“KarenaㅡKarena aku tidak suka padanya.” Wajah Nahee yang cantik seperti malaikat seketika berubah menjadi iblis yang licik. “Aku tidak suka orang yang bukan siapa-siapa sepertinya bersanding dengan orang sepertimu.”

Mendengar itu Kyuhyun merasakan darahnya mendidih. Entah mengapa pria itu merasa terinjak-injak ketika seseorang menghina istrinya. Kyuhyun menutup matanya sesaat; mencoba meredam emosinya yang mulai bangkit.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang Ahn Hyerin.”

Gadis itu terdiam sejenak, kemudian mendengus sinis. “Aku tidak perlu mencari tahu tentangnya. Bukankah semuanya sudah jelas? Dia hanya gadis biasa!! Dia tidak memiliki setengah pun dari apa yang aku punya. Bahkan sampai menghabiskan uangmu untuk mengoperasi plastik sekalipun, dia tidak akan pernah pantas bersanding denganmu.”

Kim Nahee sudah keterlaluan. Andai saja menampar wajah seorang gadis itu adalah hal yang manusiawi, mungkin Cho Kyuhyun sudah melakukannya sejak tadi. Namun hal terbaik yang bisa Kyuhyun lakukan saat ini hanya mengalihkan pandangannya dari laptopnya dan menatap tajam gadis itu.

“Dia memang tidak memiliki apa yang kau punya. Tapi dia setidaknya dia memiliki aku, yang bisa melindunginya dari wanita jahat sepertimu. Dan baginya itu sudah cukup.”

Perkataan Kyuhyun membuat Kim Nahee seperti disiram air dingin. Pria itu benar. Yang Nahee inginkan memang dirinya. Ia menginginkan Cho Kyuhyun dalam hidupnya. Dan Ahn Hyerin telah merebut pria itu darinya.

Kim Nahee merasa kalah dan malu; mungkin sekarang wajahnya kelihatan sangat malang karena tak dapat lagi membendung air matanya. Tangisan Nahee kali ini tidak membuat Kyuhyun iba atau ingin menghiburnya seperti dulu. Sebaliknya ia malah ingin melakukan hal-hal yang bisa membuat gadis itu sakit hati dan lenyap dari hadapannya.

*

“K-Kyuhyun oppaㅡ” Hyerin menyebut nama suaminya dengan terbata-bata, tangannya gemetar saat memegangi gagang teleponㅡsenada dengan dadanya yang berdebar-debar.

“Ada apa?” setidaknya suara suaminya yang dingin itu membuatnya sedikit tenang meskipun sedetik berikutnya ia kembali tegang. “Kau baik-baik saja kan?”

“Tadi aku kerumah sakit dan setelah diperiksa aku tidak sakitㅡaㅡakuㅡ”

“Kau apa, Ahn Hyerin?” Cho Kyuhyun mengatakannya dengan lembut namun tegasㅡseperti berusaha menenangkan suara Hyerin yang cemas.

Haruskah ia mengatakannya pada Kyuhyun?

Bagi seorang istri biasanya ini adalah kabar yang paling ditunggu-tungguㅡtapi bagi Hyerin; mereka bahkan tidak bisa disebut sebagai suami-istri. Bagaimana jika Kyuhyun tidak peduli? Bagaimana jika Kyuhyun malah mengabaikannya setelah ini? Tapi apapun yang terjadi, ia harus tetap mengatakannyaㅡseburuk apapun hal yang mungkin terjadi nanti.

“Aku hamil. Dokter bilang aku hamil.”

Hyerin menggigit bibirnya setelah ituㅡwajahnya memanas dan dadanya bergemuruh kencang. Meskipun ia tidak bisa melihat ekspresi suaminya secara langsung, namun ia membayangkan wajah pria itu yang sedang tercengang dengan pernyataannya.

Tapi itulah yang terjadi sekarang; Nyawa seseorang ada didalam tubuhnya.
Beberapa detik berikutnya dan Hyerin belum juga mendengar jawaban apapun dari ujung sana. Mungkin hanya hembusan nafas pria itu yang terdengar; yang setidaknya menandakan bahwa dia masih hidup dan mendengar kalimat itu tanpa berkomentar apa-apa.

Apa Kyuhyun benar-benar tidak menginginkan anaknya? Mungkin saja tidak. Hyerin tahu bahwa Kyuhyun tidak mencintainya dan tidak peduli padanya. Pria itu hanya menikahinya untuk kepuasannya, tidak lebih dari itu.

“Ahn Hyerin..” Kyuhyun membuka suaranya lagi dan terdiam sebentarㅡmembuat jantung gadis itu berdebar-debar menantikan kalimat selanjutnya.

“Apa kau senang mengandung anakku?”

Dan sekarang jantungnya serasa melompat dari tempatnya. Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana Cho Kyuhyun bisa mengajukan pertanyaan seperti itu padanya?

“Ya, aku senang.”

“Kalau begitu, jaga dia baik-baik.”

Gadis itu bisa merasakan Cho Kyuhyun tersenyum saat mengatakannya. Sejak kapan mereka punya ‘kekuatan batin’?

Pembicaraan singkat itu cukup membuatnya jauh lebih lega namun juga menyisakan tanda tanya besar baginya.

Apa Kyuhyun juga senang dirinya mengandung anaknya?

*

“Murid dikelasmu memang benar-benar keterlaluan. Mereka sangat sulit diatur, Kau tahu? Ini semua pasti karena kau terlalu memanjakan mereka”

“Minyoung-ssi, memangnya dalam rangka apa kau menggantikanku? Besok aku juga sudah bisa masuk.” Hyerin tertawa, menjepit ponselnya antara telinga dan bahu sementara kedua tangannya sibuk mencari cat airnya di laci kayu. Sejak kemarin ia memang tidak masuk kerja karena penyakitnya berlanjut dan ia memilih untuk melukis saja dirumah.

“Tuan Cho bilang kau sedang hamil jadi selama masa kehamilanmu aku yang akan menggantikan posisimu. Oh ya, selamat ya, Hyerin-ssi!”

Hyerin tertegun sejenak dan merasakan pipinya memerah. Apa itu artinya Kyuhyun peduli padanya? Apa dia jangan-jangan dia juga tahu kalau istrinya lebih suka melukis dirumah akhir-akhir ini sampai menyuruhnya cuti mengajar secara tidak langsung? Ia harap begitu. Lagipula Cho Kyuhyun juga manusia; yang punya rasa peduli walaupun hanya sedikit.

“Oh ya, sepertinya kau dapat kiriman dari seseorang. aku menemukan box dengan sampul kado dibawah mejamu. mungkin pengirimnya tidak tahu kalau aku menggantikanmu hari ini.”

Hyerin mengerutkan kening. Kedua tangannya berpindah memegang ponselnya. “Jinjja? siapaㅡsiapa pengirimnya? apa ada bacaannya?”

“Tidak ada.. tapi aku menemukan kertas ucapan didalam plastiknya bacaannya umㅡ’selamat atas kehamilanmu sayang'”

Seketika Hyerin merasakan dadanya bergemuruh. Apa mungkin dari Kyuhyun? Pria itu juga pernah memberikan hadiah untuknya dan menyelipkan kertas seperti itu. Tapi ini sama sekali bukan gayanya. Setahunya Kyuhyun tidak pernah bersikap romantis seperti ini. Waktu itu saja ia membelikan gaun untuk Hyerin karena keperluannya sendiri. Dan biasanya pria itu selalu menyelipkan kata-kata menjengkelkan. Apa mungkin.. Jeon?

“Ah ini pasti dari Tuan Cho, aigoo, dia romantis sekali ya sekarang?” komentar Minyoung.

“Entahlah.. Aku akan kesana sekarang, jangan dibuka dulu kadonya. arraseo?”

*

“Entahlah.. aku merasa ini sama sekali bukan dari Kyuhyun. Dia tidak minum alkohol semalam jadi dia tidak mungkin memanggilku dengan sebutan itu.” komentar Hyerin sambil memutar-mutar kotak hadiah itu diatas meja Minyoung.

“Hmm.. Sikap menjengkelkannya ternyata belum berubah, ya.” Minyoung menghela nafas, sejujurnya ia merasa kasihan dengan temannya itu yang diperlakukan semena-mena oleh pria berhati beku itu. “Berarti kalau begitu dari para penggemar priamu. Mungkin saja kan?”

Mereka saling menatap sesaat dan jawabannya tidak mungkin.

Kemudian saat Hyerin memutuskan untuk membuka kotak itu dan melihat isinyaㅡoksigen dalam tubuh gadis itu seketika habis; nyawanya seakan ditarik dari tubuhnya. Kepalanya terasa berputar dan dunianya menjadi gelap. Apa yang dilihatnya benar-benar membuatnya syok dan kehilangan kesadaran hingga ia tak dapat merasakan apa-apa lagi selain suara Minyoung yang meneriakan namanya.

“Hyerin-ssi!! Hyerin-ssi!!”

-To Be Continued-

don’t forget RCL ^^

Advertisements

149 thoughts on “Conditional Marriage [Chapter 2]

  1. Jangan jangan kerjaan NanHee nie.. .tipe cewek posesif.. Hahha. Adekk.. Kok kyu sepertinya sudah suka sama hyerin sejak awla ya

  2. Kasihan hyerinnya harus pergi .. padahal lagi hamil anaknya cho kyuhyun.. kereenn eonni minta password part 4nya dongk

  3. Kenapa kyuhyun nikahin hyerin ?? Ada apa ?? Penasaran alasan kyu sebenernya
    Hyerin hamillll tapi kok kyu kayak agak gak seneng gitu sihh kak
    Nah barusan aja seneng seneng itu siapa yg ngirim kado sampe hyerin pingsan , di terror kahh ??
    Keep writing kak
    Fighting..
    Gak sabar mau baca chap selanjutnya…

  4. akhirnya nikah yaa smga jeon bs menerima hyerin sbg ibu’y..duhh bakalan ada cewe pengganggu lg ini si nahee smga kyu ga tergoda lg yaa smga kyu ttp sm hyerin aplg hyerin lg hamil 😢

  5. hah ada pho dateng. itu pasti kado dari kim nahee. jangan sampe Kyuhyun balik sama nahee ataupun kena rayuan licik nahee

  6. Kayaknya Kyuhyun mulai suka sama Hyerin nih, wkwkwkwk 😆😆😆
    Pasti yg neror Hyerin si Nahee itu, heeuuhhh pengganggu mulai muncul nih
    Fighting and keep writing!!!

  7. Kim nahee si pelakor jangan rusak hubungan kyuhyun&hyerin gak terima gw. Jangan2 yg ngasih kado tuh si mba nahee lagi?

  8. Kira2 isinya apa yach, atau jangan jangan dari mantan pacarnya kyuhyun .

    Ada aja nenek lampir … padahal mereka lagi romantis2 nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s