Romance

Different Person [Chapter 1]

Author: Hyerina

Genre: Drama, Romance, Family, Chaptered

Rating: NC-21

Ahn Hyerin | Cho Kyuhyun | Shin Minyoung (OC) | Enzo (OC) | Lee Nayoung

Annyeong para istri Cho Kyuhyun^^ /plak Mian author baru bisa update sekarang T_T jeongmal gomawo buat yg masih jadi readers setia aku dan yg masih bertahan jadi ELF, yeongwonhi♡ Btw, banfiction ini remake dari fanfiction aku yg sebelumnya yg judulnya “Love In Eiffel” jadi maaf kalo ada kesamaan. Tapiiii jalan ceritanya tetap beda yaa. Happy reading♡

*

“A-Aku benar-benarㅡm-minta maafㅡ k-kumohon lepaskan aku oppaㅡ”

“Harus berapa kali lagi aku harus memberitahumu bahwa aku tidak butuh perhatianmu hah?”

“Kyu, hentikan! Apa-apaan kau? Dia salah apa? Dia bukan sasaeng fans yang membuntutimu dan menerrormu itu, dia hanya ingin memberi kita makanan, itu saja!”

“Berhenti membelanya, Hyung.”

“Yah, Cho Kyuhyun! Aku tahu kau sedang menghadapi masalah yang berat, tapi bukan berarti kau bisa melampiaskan kekesalanmu pada orang yang tidak bersalah! Dengan bersikap begini kau hanya akan memperburuk image kami, kau tahu?”

“Aku tidak perduli.”

“Oyㅡ Kyuhyun-ah! Cepat minta maaf! Dia sampai jatuh begini! Aigoo, kau tidak apa-apa?”

“A-Aku tidak apa-apaㅡ T-Terima kasih, Siwon oppaㅡ”

Hyerin menutup box besar itu rapat-rapat dan menghela nafas. Mulai hari ini dia harus melupakan kejadian yang terus menghantuinya itu. Cho Kyuhyun, anggota band terkenal, Super Junior, yang Hyerin idolakan selama ini ternyata tidak seperti yang ada di fiksi buatan penggemar yang dia baca di waktu luang. tapi pada kenyataannya sosok Kyuhyun yang ditulis seperti prince charming yang gentleman itu malah sangat mengecewakan; pria itu sangat tempramen, dingin dan cenderung meremehkan perhatian dari fansnya. bahkan dia berani mencelanya didepan anggota lain dibelakang panggung.

Kejadian tersebut membuat Hyerin trauma dan itu sebabnya gadis itu memasukan semua merchandise, poster dan foto apapun yang berhubungan dengan Cho Kyuhyun dan Super Junior kedalam box besar untuk disumbangkan. Ahn Hyerin menutup matanya, menyemangati dirinya sendiri. Kau pasti bisa, Ahn Hyerin. Jangan biarkan itu menghalangi cita-citamu. Kau ingin menjadi seorang pelukis ternama, bukan seorang maniak seumur hidupmu.

Tiba-tiba ponsel disaku celana tidurnya bergetar dan Hyerin menatap layar ponselnya. Oh, itu dari Enzo; pria prancis yang tidak lain adalah sahabat dekatnya di kampus. Mereka sama-sama suka melukis dan mengikuti kompetisi internasional tapi hanya Hyerin yang terpilih.

“Enzo-yah, Ada apa?”

“Lukisanmu sudah selesai?” tanya Enzo diujung sana, penasaran dengan progress lukisan Hyerin yang akan dia kumpulkan untuk ujian semester. Lukisan itu hanya untuk melatih kemampuan melukisnya sebelum gadis itu mengikuti kompetisi sungguhan di Paris nanti. Barangkali ada yang bisa dibantunya.

“Hanya itu?” Hyerin mendengus menahan tawa, ia tidak mengerti kenapa pria ini sering sekali meneleponnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak penting.

“Aku hanya ingin mendengar suaramu.”

Hyerin tertawa, “Sedikit lagi, tinggal menyusun laporan kegiatan dan hiasannya.” jawab Hyerin seadanya, sebenarnya masih ada beberapa yang belum ia lengkapi tapi lebih baik tidak perlu dijelaskan. terlalu rumit.

“Aku tidak heran kenapa Yoon sonsaengnim memilihmu, kau hebat!” Enzo terkejut, tidak menyangka lukisan yang baru dikerjakan selama beberapa hari itu hampir selesai.

“Terimakasih, tapi—”

“Tapi apa? aku serius Hyerin-ah, Kau benar benar hebat! Daebak!” puji Enzo dengan logat-logat khas korea yang membuat Hyerin senyam-senyum geli.

“Aku merasa tidak enak padamu.. Kau sudah repot-repot membantuku waktu itu. Harusnya kau yang mengerjakan lukisan itu dan pergi ke Paris bulan depan, orang tuamu sangat menginginkannya bukan? Aku ini sebenarnya bukan apa-apa..” setelah mengatakan itu senyuman Hyerin memudar. Enzo adalah saingannya waktu itu, dan Hyerin tahu betapa kecewanya Enzo karena tidak terpilih. Padahal selama ini dialah yang mengajarkan Hyerin teknik melukis, membuat laporan serta memilih warna yang bagus.

“Aku heran padamu, Kau selalu merasa dirimu yang terburuk. Padahal kau selalu melakukan yang terbaik. Kau pantas mendapatkannya, Hyerin-ah.” Suara Enzo terdengar baik-baik saja namun Hyerin bisa membayangkan gurat kesedihan di wajah pria itu. Dia yakin Enzo masih sangat menginginkan kompetisi itu. Ralat, orang tua Enzo masih sangat menginginkan Enzo mengikuti kompetisi itu. Atau bahkan mereka tidak tahu bahwa putranya tidak terpilih? Itu berarti Enzo dalam bahaya. Memang ini semua salahnya, Sudah berapa semester berturut-turut nilai Enzo menurun karena terlalu fokus dengan dunia fotografinya. Dan harapan orang tua Enzo satu-satunya adalah kompetisi melukis itu. Tapi jika Enzo masih tidak terpilih juga.. mereka akan mengeluarkan Enzo dari universitas.

“Sebaiknya kau tidur. Selamat malam, Hyerin-ssi.”

Hyerin menghela nafas, menggenggam ponsel didadanya erat-erat. Apakah dia benar-benar harus mengalah demi sahabatnya?

“Hyerin-ah!”

Mendengar suara ibunya dari lantai bawah, Hyerin buru-buru meletakan boxnya di pojok ruangan sebelum turun kebawah dengan tergesa-gesa. “T-Tunggu sebentar!”

“Kemarilah, ada yang akan ayah dan ibu bicarakan.” Ibu dan Ayahnya duduk diruang tamu, Apa yang akan mereka bicarakan? rasa penasaran membuat hati Hyerin sedikit berdebar-debar, semoga bukan tentang soal kepergiannya ke Paris— Ia harap ibunya tidak berubah pikiran dan membatalkan izinnya.

“Ada pria yang ingin bertemu denganmu dengan ibunya lusa.”

“Hah?” Hyerin mengerutkan alisnya. Syukurlah ini bukan tentang Paris, tapi ini sangat jarang. Enzo.. kah? Lalu siapa lagi? Hanya Enzo satu-satunya pria yang dekat dengannya.

“Pokoknya kau akan suka, dia putra dari teman ibu dulu. Tenang saja, dia sangat rupawan dan terdidik. Kami yakin kau akan menyukainya.”

“Siapa?”

Calon suamimu.”

“S-Suami? Bahkan aku saja tidak punya pacar, bagaimana bisa aku punya calon suami?”

“Ya, kami tahu kau tidak punya calon suami, maka dari itu kami yang mencarinya.” kali ini ayahnya yang menjawab.

Hyerin terperangah. Hatinya mencelos mendengar perkataan ayahnya beberapa detik yang lalu. Apa itu artinya dia dijodohkan?

“Kenapa harus eomma dan appa yang memilihnya? aku sudah dewasa dan aku bisa mencarinya sendiri.”

“Kami tidak mau kau seperti kakak perempuanmu yang kawin lari dengan pria miskin itu. Cinta, cinta, cinta. selalu itu yang dia pikirkan. Padahal cinta membuatnya buta. Dia bahkan lebih memilih budak itu daripada keluarganya.” pertanyaan Hyerin malah memperburuk keadaan. Ibunya jadi menggali tragedi pahit di masa lalu, saat-saat dimana kakak perempuan Hyerin melarikan diri karena ibu melarangnya menikah dengan seorang buruh.

“Tapi aku yakin aku sudah bisa membedakan yang mana yang benar dan buruk. Kalau perlu kalian bisa mengawasiku setiap hari.”

“Tidak Hyerin, Kami sudah sangat yakin dengan pilihan kami. Keluarga Nyonya Shin-Ah adalah keluarga yang terdidik dan hidupmu akan terjamin.” senyum samar ibunya membuat Hyerin curiga. Oh, jadi orang tuanya menjodohkannya dengan putra Nyonya Shin-Ah? Putra dari wanita yang ia pikir adalah ibunya dulu? Ia masih ingat beberapa tahun yang lalu saat ibunya sering mengajaknya jalan-jalan dengan Nyonya Shin-Ah, wanita itu sangat baik pada Hyerin, bahkan melebihi ibunya sendiri. Namun Hyerin sama sekali belum pernah melihat putranya. Jadi walaupun ia sudah dekat dengan Nyonya Shin-Ah, tetap saja itu mengerikan.

“Hyerin-ah, dengarkan kami sekali saja.. ayolah, kami tidak akan mengecewakanmu.” sergah ayahnya.

Gadis itu tidak membalasnya sama sekali, dia tahu orang tuanya memang selalu memilih yang terbaik untuknya. Tapi dia sedikit ragu apakah jodoh juga harus ditentukan orang tuanya.

“Yasudah, pokoknya lusa nanti kau harus menjaga sikapmu. Jangan sampai membuatku malu.” pesan ibunya, lalu meninggalkan putrinya yang masih diam seribu bahasa.

Hyerin mendesah lega setelah naik keatas dan kembali ke kamarnya. Persetan dengan perjodohan itu, masih banyak hal yang harus dia kerjakan. Gadis itu kembali kekamar bernuansa vintage itu yang terlihat berantakan. Cat air berceceran dari paletnya. Kertas-kertas dengan sketsa tak jelas berserakan dimana-mana. Hyerin memungutnya, lalu menyingkirkan taplak meja kotak-kotak yang menutupi kanvas dipojok kamarnya. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk senyuman tipis begitu melihat lukisan bangunan tinggi yang berkilauan didepan kanvasnya. Inilah lukisan yang akan dia pamerkan di Paris, Bangunan tinggi yang sangat mirip dengan menara eiffel— atau memang benar-benar menara eiffel. namun belum diwarnai. Hanya tinggal satu sentuhan lagi dan semuanya selesai. Tapi tentu saja Hyerin tidak akan menyentuhnya malam ini, matanya mulai tidak bisa dikompromi.

*

“Sekali lagi selamat untuk kalian.” ucap seorang pembawa acara pada dua sejoli yang berada didepannya.

Cho Kyuhyun terlihat sangat menawan dengan jas hitam yang melekat ditubuh tegapnya, rambutnya tertata rapi dan tutur katanya mampu membuat semua orang luluh. Pria itu selalu tampil mengagumkan meskipun dilihat dari layar kaca. Tapi yang lebih menarik perhatian adalah gadis disebelahnya; Shin Minyoung, wanita luar biasa cantik yang merupakan anggota girlband sekaligus model dan satu agensi dengannya.

Hyerin mendengus menahan tawa. Apa yang selama itu dia pikirkan? Kenapa pernah terlintas dibenaknya bahwa bisa saja dia yang bersanding dengan Kyuhyun? Meskipun dia sempat berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang mencintai Kyuhyun lebih dari dirinya, Dia tetaplah bukan siapa siapa; hanya satu dari berjuta-juta fansnya. Bahkan Kyuhyun tidak menganggapnya ada. 

Memikiran itu membuat dadanya terasa sedikit sesak tapi kemudian gadis itu menggeleng, Jangan gila Ahn Hyerin, kau harus bisa membedakan dunia nyata dan dunia khayalan. Yang harus kau lakukan sekarang hanyalah melupakannya. Melupakan sesuatu yang tidak nyata bukanlah hal yang sulit, kan?

“Tidak usah iri, Hyerin-ah. Aku yakin Kau dan Enzo juga bisa lebih sweet dari itu.” celetuk Nayoungㅡsahabat Hyerin yang berdiri disebelah gadis itu, memandang sahabatnya itu yang sedari tadi hanya menonton televisi diujung ruangan sambil berpangku tangan. Hyerin menghela nafas berat. “Itu tidak akan terjadi.. Ibuku menjodohkanku dengan orang yang tidak kukenal sama sekali, besok aku akan bertemu dengannya.. dan pernikahan kami tidak akan lama lagi.” mendengar ucapannya sendiri tangan Hyerin mendingin.

Nayoung membelalakan matanya seakan tidak percaya apa yang baru saja meluncur dari mulut gadis itu. “K-Kau bercanda kan Hyerin? Mana mungkin ibumu sekejam itu?”

“Tidak, Nayoung. Ibuku tidak kejam. Dia hanya memilih yang terbaik untukku.” Walaupun Hyerin terlihat hanya sedikit sedih, Nayoung bisa merasakan gadis itu sangat tidak terima dengan perjodohannya, tapi dia terpaksa melakukannya demi Ibunya. Hyerin adalah gadis yang sangat baik, terlalu baik malah. Dia bukan tipe gadis yang langsung lari setelah dinasihati oleh orang tuanya. Nayoung menghela nafas, dia tidak tega. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Berbalik menentang ibunya? Bahkan anaknya sendiri tidak berani menentangnya.

“Yasudahlah kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Kau hanya perlu yakin, Calon suamimu pasti orang yang baik. Dan lambat laun kau akan menyukainya.” ujar Nayoung berusaha menenangkan Hyerin, dengan harapan suasana hati gadis itu menjadi sedikit lebih baik.

“Semoga saja begitu..” ucap Hyerin seraya tersenyum pahit, matanya mulai berkaca-kaca— menahan butiran bening yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. Nayoung segera memeluk Hyerin erat sebelum air mata gadis itu menyeruak.

“Ini bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak yang harus kau kerjakan bukan? Kau masih harus pergi ke Paris dan menamatkan sekolahmu. Sekarang pulanglah, aku akan beritahumu kalau ada pembeli lukisanmu lagi.”

“Terima kasih, Nayoung. Kau memang yang terbaik!” Hyerin menghapus air matanya, lalu berjalan keluar butik tanpa memperhatikan sekelilingnya; termasuk pria pirang bermata biru yang sedang menghentikan mobilnya tepat disamping Hyerin dan keluar menghampirinya.

“Enzo-ya..”

“Oy! Kenapa kau pulang duluan? Kan sudah kubilang aku akan menjemputmu” Hyerin hanya menatap Enzo datar. tidak menjawab sepatah katapun. Aneh, gadis ini kenapa? Biasanya kalau dia tidak menjawab setidaknya dia tersenyum. Enzo membungkukkan punggungnya, membuat wajahnya sejajar dengan gadis didepannya. Matanya sembab, dia pasti tidak tidur lagi semalam demi tugasnya atau— dia habis menangis?

“Apa yang terjadi?” tanya Enzo sedikit panik, tapi kemudian dia mengingat sesuatu. “Apakah kau.. masih memikirkan soal insiden itu?”

Hyerin menggeleng.

“Lalu apa? Ibumu tidak mengizinkanmu berangkat ke Paris?”

“Bukan itu..” Hyerin tertunduk, menggigit bibir bawahnya sendiri. “Bisakah kita membicarakannya di tempat lain? Kau lapar?”

*

“A-Aku akan dijodohkan, Enzo-yah..”

Sebagai tanggapan, cup mie instan yang dipegang Enzo baru saja dibeli terlepas dan jatuh ke jalanan jembatan didekat sungai Han.

“Aku juga belum siap..” kata Enzo, masih menatap gadis didepannya dengan mata terbelalak. sementara Hyerin memiringkan kepalanya. apa maksudnya?

“Eh?” Pria itu mengusap dahinya gugup. “Aku— Entahlah.. aku merasa belum siap ditinggal menikah oleh orang yang kusukai.”

Hyerin tertawa mendengar ucapan Enzo. Pria itu selalu tahu caranya membuat suasana hatinya membaik.

“Bisakah kau berhenti menganggap semua ini candaan?” tanya Enzo dengan tatapan tajam, membuat gadis didepannya terbungkam dan jantungnya serasa berhenti. Jadi selama ini.. dia menyimpan perasaan pada Hyerin? tapi bagaimana bisa Hyerin mempercayainya? Enzo juga mengatakan hal-hal seperti itu pada gadis lain disekolahnya.. hanya saja bahasanya sedikit berlebihan. Hyerin menatap Enzo sekali lagi— pria ini memang sedikit aneh, sehingga tidak akan ada yang tahu ia sedang bercanda atau serius. sangat sulit ditebak. Tapi kali ini ekspresinya berbeda dengan saat ia mengucapkannya pada gadis lain. dia tidak bercanda.

“Tapi Hyerin, sebelum kau menikah.. bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”

“N-Neh?”

“Bolehkah aku tetap selalu seperti ini? selalu bersama denganmu seperti hari-hari biasanya?”

*

Ahn Hyerin menghabiskan setengah jam terakhir untuk membongkar lemarinya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengenakan sweater merah dengan flare skirt hitam dan ikal-ikal cantik menggantung di rambut panjangnya. Lima menit selanjutnya ia gunakan untuk mematut dirinya didepan cermin, memoles lipstik berwarna merah cherry diatas bibir tipis yang biasanya polos tanpa sentuhan make-up. Cantik, tapi ini sama sekali bukan dirinya. dadanya seketika bergemuruh, untuk siapa sebenarnya dia berdandan secantik ini?

Putra dari Nyonya Shin-Ah.. seperti apa ya orangnya? Sebenarnya dari kemarin dia sempat bertanya-tanya pada ibunya dan belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Terakhir kali dia bertemu Nyonya Shin-Ah pada saat dia masih mengenyam bangku sd. Dia bahkan lupa seperti apa wajahnya. Yang jelas, Nyonya Shin-Ah berasal dari keluarga terpandang, dan itu artinya putranya tidak akan jauh-jauh dari ibunya.

TING TONG

Hyerin tersentak begitu seseorang memencet bel rumahnya. Waktunya sudah habis. Itu pasti Nyonya Shin-Ah dan putranya yang akan dijodohkan dengan Hyerin. Hyerin buru-buru turun ke ruang tamu, memutar gagang pintu dengan hati-hati dan— Benar, Wanita berusia akhir 50-an itu berdiri didepan Hyerin sambil tersenyum ramah, mengekspos kerutan disekitar matanya. Sudah sangat lama Hyerin tidak bertemu dengannya dan gadis itu merasakan dejávu ketika melihat wajah Nyonya Shin-Ah. Rasanya wajah Nyonya Shin-Ah tidak terlalu asingㅡ mengingatkannya pada seseorang yang dia pernah lihat, tapi siapa..? atau hanya karena mereka sudah lama tidak bertemu?

Yang dia ingat, Nyonya Shin-Ah adalah teman dekat ibunya di simply cafe, dia sangat menyukai Hyerin kecil dan menganggap Hyerin sebagai anaknya sendiri. Bahkan sampai sekarang dia selalu mengirimkan barang yang Hyerin butuhkan via pos, sampai seperti itu. Dan sekarang, saat Hyerin bertemu dengannya lagi, Nyonya Shin-Ah menjodohkan Hyerin dengan putranya. Tamatlah riwayatnya.

“Shin-Ah!” tiba-tiba Ibu Hyerin berlari kearah mereka, menghambur memeluk Nyonya Shin-Ah yang tampak begitu gembira dan membalas pelukan ibunya dengan sangat antusias seakan tidak bertemu berpuluh-puluh tahun.

“Aku sangat merindukan kalian!!” seru Nyonya Shin-Ah, kemudian menatap Hyerin yang berdiri dibelakang ibunya dengan tidak percaya. “Ah, Hyerin-ahㅡ Itukah kau?”

“Annyeonghaseyo, Shin-Ah Ahjumma.” Hyerin membungkuk sopan.

“Omona.. Sudah sangat lama kita tidak bertemu dan kau tumbuh menjadi gadis yang cantik. Sudah kuduga..” Nyonya Shin-Ah menatap Hyerin dan ibunya secara bergantian; mereka sangat mirip. Ahn Hyerin benar-benar mewarisi kecantikan ibunya.

Hyerin mengulas senyum. “Gomawoyo, ahjumma.”

“Oh ya, Dimana putramu yang tampan itu?” tanya Nyonya Ahn.

“Ada didepan, sedang mengunci mobil.. mungkin?” jawab Nyonya Shin-Ah, kemudian melirik Hyerin yang tengah terbelalak begitu sosok pria yang tahu-tahu sudah ada didalam pagar berjalan kearah mereka. Sosok pria jangkung yang melangkah penuh percaya diri dengan tatapan tajamnya.

Dan detik itu jantungnya berhenti berkerja. Ini bukan yang pertama kalinya dia bertemu tapi perasaan itu masih sama seperti pertama kali mereka bertemu. dan detik itu dia tahu arti dari dejávu yang dia rasakan beberapa saat yang lalu.

Nyonya Shin-Ah sangat mirip dengan ibu pria ini; pria yang selalu muncul di mimpi dan khayalannya.

*

Hyerin tertegun. Orang tua mereka saling bertukar cerita satu sama lain sedangkan gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat; berharap dirinya tidak pernah berbicara. Yang dia lakukan sedari tadi hanyalah menundukan kepalanya; menatap kedua tangannya yang saling menggenggam di atas pahanya. tubuhnya seperti baru saja disengat listrik tegangan tinggi; entah kata-kata apa yang cocok untuk menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini tapi yang jelas dia benar-benar syok dan ingin pingsan. jantungnya yang semula sempat terhenti kini berdebar sangat kencangㅡ hingga dia takut pria yang menjadi sumber ketakutannya itu bisa mendengarnya.

Cho Kyuhyun; duduk didepannya dengan Nyonya Shin-Ah disebelahnya, menyesap teh buatannya dengan santai. Hyerin sudah berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa dia sedang bermimpi tapi suara pria itu terdengar sangat nyata. Tidak mungkin. Tidak mungkin pria yang selalu ada dimimpinya itu berada didalam dirumahnya. Tidak mungkin pria itu adalah putra dari Nyonya Shin-Ah. Hyerin menundukan kepalanya, benar-benar tidak habis pikir dengan kejutan luar biasa yang diberikan ibunya. Ia bahkan tidak tahu harus gembira atau menangis.

“Kyuhyun-ah.. apakah kau sudah pernah bertemu Hyerin sebelumnya?” pertanyaan Nyonya Shin-Ah membuat Hyerin nyaris gagal jantung. Pertanyaan itu lebih terdengar seperti ‘Dia bukan fans mu kan?’ Oh tidak. Bagaimana jika Kyuhyun masih ingat kejadian waktu itu? Hyerin bersumpah dia hanya melompat dari jendela dan pergi dari sini sebelum dia dikuliti hidup-hidup oleh pria itu.

“Tidak.” jawab Kyuhyun dingin dan hanya mendengar itu jantung Hyerin hampir copot. Suaranya seperti malaikat. Dia masih ingat itu. tapi untuk sepersekian detik Hyerin merasa lega ternyata dia tidak ingat kejadian tempo hari.

“M-Mana mungkin juga kan, Hyerin ini jarang sekali keluar rumah, dia lebih sering menghabiskan waktu melukis sketsa pakaian untuk dijual ke paris.” sergah Ibu Hyerin mencoba meninggikan imej putrinya. Wajah Hyerin memerah menahan malu.

“Aigoo, benar-benar menantu idaman.” komentar Nyonya Shin-Ah.

Hyerin memicingkan mata dan tersenyum segan, pertama kalinya seumur hidupnya mendengar pujian seseorang membuatnya merasa tidak nyaman dan ingin pindah ke planet lain. Yang benar saja nyonya, bagian mana yang kau sebut menantu idaman? aku tidak punya bakat luar biasa seperti putramu, hanya gadis biasa yang menyusahkan semua orang. batin Hyerin. Sementara Cho Kyuhyun duduk santai didepannya dengan raut wajah tidak senang; seakan menolak pernyataan ibunya mentah-mentah. Jelas dia tidak senang, Pria itu mempunyai Shin Minyoung yang sempurna. Kenapa harus dijodohkan dengan gadis yang bukan siapa-siapa?

*

Hyerin masih mematung dengan tatapan tidak percaya ketika Nyonya Shin-Ah dan Cho Kyuhyun meninggalkan rumahnya. Catat, seorang Cho Kyuhyunㅡ baru saja keluar dari rumahnya. Dan yang lebih parah lagi, mereka dijodohkan. Mereka akan menikah. Seorang Ahn Hyerin akan menikah dengan Seorang Cho Kyuhyun. Tidak bisa dibayangkan. Hanya mendengar suaranya di kehidupan nyata saja membuat jantungnya hampir copotㅡ apalagi mengingat mereka akan tinggal serumah, dia bisa pingsan. 

Tapi mengapa membayangkan itu membuatnya sedikit merasa bahagia..?
Memliki Cho Kyuhyun adalah impian semua gadis. Mereka semua berkhayal sampai-sampai menulis kisah cinta tentang Kyuhyun dengan karakter gadis cantik nan baik hati buatan merekaㅡ dan hanya dirinya yang menjadikan fiksi itu kenyataan.. Tidak. tapi dia bukan karakter gadis yang sempurna buatan mereka. dirinya sama sekali tidak pantas bersanding dengan Cho Kyuhyun meskipun dulu dia sempat berharap begitu. Pria itu juga sudah mempunyai kekasih yang seribu kali lipat jauh lebih baik darinya. Meskipun pada kenyataannya mereka dijodohkan; Hyerin bukan tipe wanita yang egois dan tidak tahu diri. Dia tidak boleh egois.

“Eomma..” Hyerin mendesah pelan, menggenggam ujung roknya dengan erat. “Kenapa harus Kyuhyun oppa? Setahuku dia sudah punya kekasih..”

“Selama belum terikat, masih ada kesempatan, bukan?”

Hyerin bergidik. mengejutkan ibunya bisa berkata segampang itu. “Tapiㅡ”

“Tapi kau menyukainya kan?” tebak ibunya; tepat sasaran. Ini semua bukanlah ketidak sengajaan, Ibunya memang tahu betul dia mengidolakan pria itu. Ahn Hyerin sendiri juga memang kagum pada Cho Kyuhyun; dia selalu berusaha menghibur orang, kapanpun, bahkan meskipun saat itu dia sedang sakitㅡ dia pernah menyanyi untuk anak-anak panti asuhan untuk menghibur mereka. dia juga tidak segan datang kerumah sakit untuk menghibur fansnya yang terkena penyakit kanker hingga akhir hayatnya.

Gadis itu menghela nafas. “Aku bahkan baru saja ingin melupakannya.. Lagipula, meskipun Nyonya Shin-Ah menyukaiku tapi Kyuhyun oppa sama sekali tidak pantas bersanding denganku, Eomma.”

“Tapi..” Nyonya Ahn menatap putrinya dengan iba, “Semua orang berhak bahagia, Hyerin-ah. Begitu juga dengan dirimu.”

*

Hyerin tertegun ketika melihat Shin Minyoung di sampul majalah yang dibelinya. Gadis itu membuka halamannya dengan sedikit terburu-buruㅡ Hyerin tidak tahu betul siapa gadis itu dan setidaknya dia ingin sedikit mencari tahu tentang kekasih Kyuhyun itu.

Disana disebutkan bahwa Shin Minyoung mendapat perlakuan yang tidak pantas dari netizen sejak awal debut. Dia dianggap tidak pantas masuk sm karena keluarganya terlalu miskin. sebelum debut Shin Minyoung menjadi tulang punggung keluarganya dan rela menjadi pembantu untuk menghidupi ayahnya yang sakit keras. Karena itu Shin Minyoung dianggap hina dan tidak pantas menjadi idolㅡ dan itu bertambah parah sejak dia berpacaran dengan Cho Kyuhyun. Penggemar Kyuhyun mengikutinya sepanjang hari hingga membuatnya merasa terancam, bahkan pernah ada menyekapnya lalu menghajarnya habis-habisan. Tapi dia sangat tabah; selalu memaafkan penggemarnya dan tidak pernah berkata kasar seperti idola lainnya ketika menghadapi fans fanatik.

Hyerin sangat terkejut. Bagaimana bisa gadis secantik itu memiliki latar belakang seperti itu? Shin Minyoung tidak hanya cantik, tapi dia juga memiliki hati selembut sutra. Tak heran Cho Kyuhyun memilihnya sebagai pasangannya. Hyerin menggelengkan kepalanya, memikirkan hal itu hanya membuat jantungnya serasa dipukul.

“Oyㅡ” suara baritone disebelahnya memecahkan lamunannya. Enzo dan dia masih berada di kelas sejak bel berbunyiㅡ Enzo sibuk menyelesaikan lukisannya sementara dia sibuk membaca majalah.

“Ayo pulang. Diluar sudah sepi.” ajak Enzo.

Hyerin bangkit dari kursinya dan melingkarkan tali ranselnya di salah satu pundaknya. “Hari ini.. aku pulang sendiri saja.”

Enzo sedikit terkejut dengan penolakan Hyerin dan perasaan cemas menyapu hatinya, apakah gadis itu mulai merasa canggung dengannya? atau lebih buruk— gadis ini sedang berusaha menjauh darinya? Sebenarnya ini salahnya sendiri, Kenapa dia menyatakan perasaannya secepat itu? Padahal dia belum siap untuk menerima resikonya. selama ini mereka selalu bersama-sama dan Enzo tidak bisa membayangkan bisa melewatkan satu hari saja tanpa gadis itu.

“T-Tapiㅡ”

“Lepaskan aku.” Hyerin menepis tangan Enzo yang masih mengenggam tangannya. 

“Maaf tapi.. aku hanya ingin sendiri. Tolong biarkan aku seperti ini saja.”

Pria itu tak bergeming, menatap wajah gadis itu beberapa saat lalu menghela nafas. “Baiklah.. hati-hati dijalan.”

Hyerin melangkah menjauhi Enzo, melewati jalanan sepi yang di kedua sisinya dikelilingi pohon-pohon mapel. Matanya yang berkaca-kaca berkaca-kaca menatap daun-daunnya yang mulai berjatuhan. Ini bukan hal yang baik untuk mengawali awal musim gugur.

Tidak bisa dipungkiri, Hyerin memang masih mempunyai perasaan pada Cho Kyuhyun. Sama seperti halnya kekasih; melupakan seseorang yang sangat kau dambakan tidak semudah itu. Gadis itu memang tidak punya kenangan manis apapun dengan pria itu, tapi pria itu tidak pernah hilang didalam khayalan dan mimpi-mimpinya. Tapi disamping itu, Hyerin harus menerima kenyataan bahwa pria itu sudah mempunyai kekasih yang jauh lebih baik darinya; Apakah dirinya yang bukan siapa-siapa itu tega tiba-tiba datang dan menghancurkan kisah cinta mereka? Bagaimana jika dia yang berada di posisi gadis itu?

Tiba-tiba Hyerin membenci dirinya sendiri. Kehadirannya di dunia ini sudah merugikan banyak orang. Seharusnya dia tidak bertemu dengan Kyuhyun dan menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya; Seharusnya dia tidak pergi ke paris dan tidak menghalangi cita-cita Enzoㅡ yang jelas lebih pantas darinya, dan seharusnya dia tidak pernah merepotkan orang tuanya.

Semua itu bercampur menjadi satu dan membuat perasaan Hyerin semakin kacau.

“Awas!!!”

Sebuah suara menarik Hyerin ke kenyataan dan nafas gadis itu tercekat ketika sebuah besi yang melesat dengan kecepatan tinggi menghantam keras tubuhnya. Dan semuanya menjadi gelap.

*

Sirine mobil polisi tak berhenti berbunyi. Beberapa pria dengan baju serba putih mengangkat seorang wanita dengan wajah bersimbah darah keluar dari mobil dan memasukkannya kedalam ambulance. Orang- orang di jalan yang semula berteriak sekarang menonton kejadian itu dengan tatapan ngeri.

Dan Cho Kyuhyun tidak sadar akan hal itu. Yang dia tahu adalah baru saja gadis yang dia cintai mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan pria itu dari kecelakaan.

“Maaf, tapi kemungkinan gadis ini selamat sangat kecil.. lukanya terlalu parah.”

Mendengar pernyataan itu jantung Kyuhyun berhenti berkerja, seluruh tubuhnya mati rasa dan detik itu Kyuhyun berharap tuhan segera mencabut nyawanya.

*

Butuh beberapa saat bagi Hyerin sebelum akhirnya dia berhasil membuka matanyaㅡ meskipun kepalanya masih terasa berputar-putar dan tubuhnya sulit untuk digerakanㅡ seperti ditimpa beban yang sangat berat. Matanya sayup-sayup menangkap beberapa orang yang juga terbaring lemah seperti dirinya dan wanita berseragam serba putih di sekitarnya.

“Kau tidak perlu melakukan semua ini.. Minyoung-ah.. Kenapa bukan aku saja?”
Sebuah suara disampingnya mengagetkannya. Hyerin menoleh dan kemudian tertegun ketika menyadari bahwa suara itu adalah milik Cho Kyuhyun; Pria itu berdiri dengan kaki yang bergetar hebat disamping ranjang sebelahnyaㅡ pakaiannya bersimbah darah dan wajahnya yang pucat menatap sendu gadis yang tergeletak diatasnya.

*


21 November, 2018.

Cho Kyuhyun memandang bosan kerumunan orang yang sedang menyantap berbagai macam makanan yang dihidangkan di pesta ini; bertanya-tanya sampai kapan acara ini akan selesai karena punggungnya mulai pegal selama dua jam berdiri. Sementara gadis dengan gaun pengantin yang berdiri disampingnya tampak lebih bersemangatㅡbahkan sibuk berfoto dengan saudara-saudaranya yang datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.

Cho Kyuhyun tidak pernah mengira hari sesuram ini terjadi dalam hidupnya. Ini sama sekali bukan yang dia harapkan; ditinggal mati oleh kekasihnya dan malah menikah dengan seorang wanita biasaㅡ yang bahkan adalah penggemarnya. Terlebih lagi mereka terpaksa menikah karena permintaan orang tua mereka masing-masing yang bersahabat baik sejak kecil.

Dan pada akhirnya pernikahan mereka digelar sederhana saja, Kyuhyun hanya mengundang anggota Super Junior dan beberapa kerabat dekatnya. Ini sengaja dia lakukan agar pernikahan mereka tidak disorot media dan aman dari penggemar fanatiknya diluar sana. bukan tidak mungkin dia dimakan hidup-hidup oleh penggemarnya jika mereka mengetahui pernikahan ini.

*

“Didapur ada banyak makanan, jika kau lapar, buat saja.” Kyuhyun melangkah gontai melewati ruang makan yang bergaya minimalis, diikuti dengan gadis dibelakangnya yang terkagum-kagum memperhatikan rumah baru mereka dari segala sisi.

“Kamarmu disini, aku di lantai atas. Jangan ganggu aku, kecuali kalau darurat.” katanya tegas. Gadis itu mengerenyit, menatap punggung suaminya dengan terkejut. “Neh?”

“Apakah kau berharap kita tidur sekamar?” sindir Kyuhyun.

Ahn Hyerin terdiam sejenak, menundukkan kepalanya karena malu. Tidak. Tentu saja tidak. Hanya karena mereka menikah bukan berarti mereka bisa bersikap seperti suami-istri. Mereka berbeda dengan pengantin lainnya yang menikah karena cinta; mereka menikah karena perjodohan. Terlebih lagi hubungan mereka adalah penggemar dengan idolanya. Bisa menikah dan satu atap dengan pria itu saja dia seharusnya sudah sangat bersyukur. “A-Aniyoㅡ”

Kyuhyun berdehem. “Bukankah sudah jelas? aku menyetujui pernikahan ini hanya karena ibuku; aku sudah bersumpah akan menuruti semua keinginannya sampai akhir hayatnya. Karena dia mengidap penyakit berat dan masa hidupnya hanya tinggal sebentar lagi..” kata Kyuhyun datar tapi mampu menyayat hati gadis didepannya. “Jadi jika sudah tiba saatnya, kau bisa pergi.”

“J-Jadi Nyonya Shin-Ahㅡ” Hyerin menghela nafas. “Baiklah, aku mengerti.”

“Oh ya, dan soal insiden waktu itu.. aku minta maaf. Aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi.. kecuali kalau darurat.” tutur Kyuhyun dingin.

Sebenarnya dia memang masih mengingat kejadian saat dia membentak Hyerin dibelakang panggung, tapi dia sengaja tidak mengungkit itu didepan ibunya.

“N-Neh..” Hyerin mengangguk, kemudian masuk ke kamarnya dan nafasnya tercekat. Semua barang-barang miliknya sudah tersusun rapi disana. Sepertinya Kyuhyun memang sudah berencana pisah kamar dengan dirinya tapi.. kenapa sampai seperti ini? sampai sebegitu takutnya Hyerin ingin satu kamarnya dengannya?

Ahn Hyerin mendekati kalender yang diletakan dipojok ruangan, menatapnya beberapa saat sebelum kemudian gadis itu mengambil spidol hitam dan melingkari salah satu tanggal disana.

“Maaf jika aku menyakitimu, Hyerin. Tapi aku harus melakukannya..” gumam Hyerin pada dirinya sendiri.

*

Cho Kyuhyun mematut dirinya di cermin, membenarkan kerah kemejanya yang sedikit berantakan. Hari ini adalah jadwal latihan koreografi untuk music video Super Junior yang terbaru jadi dia harus segera berangkat, tapi tiba-tiba indra aroma bawang putih dan kaldu ayam merasuki indra penciumannya. Apa gadis itu memasak sesuatu?

Pria itu turun kebawah dan mata elangnya menangkap gadis dengan rambut panjangnya yang tergerai berdiri didepan konter dapur. Gadis itu menyingkap rambutnya dan menguncirnyaㅡ mengekspos leher jenjangnya yang seputih susuㅡ Kyuhyun meneguk ludah, sial, ada apa dengannya?

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, bermaksud mengembalikan akal sehatnyaㅡ lalu kembali memperhatikan tangan gadis itu yang sedang memotong-motong daging ayam dan memasukkannya kedalam panci. Uap panas mengebul dari dalam sana dan aroma yang dihasilkannya membuat cacing-cacing didalam perut Kyuhyun menjerit.

Detik kemudian gadis itu berbalik, menoleh kearah Kyuhyun dan pria itu spontan membuang muka.

“K-Kyuhyun oppa.” bisik Hyerin gugup, wajah cantiknya memerah karena canggung. Mungkin kenyataan bahwa dirinya berada dibawah atap yang sama dengan pujaan hatinya masih terasa seperti mimpi.

“Apa?” tanya pria itu dinginㅡyang sedikit menciutkan nyali gadis itu untuk kembali berbicara.

“S-Sebenarnya akuㅡ” Hyerin menatap lantai, menyembunyikan kegugupannya. “Aku sepertinya memasak terlalu banyakㅡjadi aku menyisakannya untukmuㅡ”

Kyuhyun mendengus. “Tidak usah, aku harus bersiap-siap sekarang.”

Hyerin merengut, terlihat sangat kecewa dengan jawaban Kyuhyun. Pria itu terlihat tak acuh tapi toh dia sebenarnya dia hanya manusia biasa yang masih merasa tidak tega melihat wajah seperti itu. Dan dia juga sudah tidak mampu berpura-pura tak tertarik dengan aroma lezat masakan yang dibuat gadis ini.

Pria itu memejamkan matanya dan menghela nafas. “Baiklah.”

Setelah persetujuan itu senyum di wajah Hyerin mengembang, sangat senang Cho Kyuhyun mau mencicipi masakannya.

“Baiklah. Tunggu sebentar.” Gadis itu mengacungkan telunjuknya sebelum berbalik dan berjalan ke dapur.

Cho Kyuhyun duduk di depan meja ruang makan; pura-pura sibuk membaca koran yang tergeletak di sofa tapi diam-diam matanya memperhatikan gadis yang sedang memasak untuknya. Dia sempat terang-terangan berkata media bahwa dia tidak akan pernah menikah dengan fansnya karena kebanyakan dari mereka terlalu berlebihan dan itu sangat mengganggunya; tapi sepertinya gadis ini berbeda dari yang lainnya. Ahn Hyerin terlihat tenang dan sabar sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi bukan berarti Kyuhyun bisa menerima gadis ini sebagai istrinyaㅡ meskipun dia mengakui bahwa Ahn Hyerin memang lumayan cantik. Kyuhyun juga belum mengenal siapa gadis itu sebenarnya.

“Kau masak apa?” tanya Kyuhyun sambil berpura-pura membolak-balik korannya.

“Sup hangat.”

Deg. Kyuhyun terdiam. Rasanya ada yang memukulnya tepat di jantung. Dengan sangat keras.


“Oppa, ini sup hangat untukmu!”


“Kenapa harus sup, Minyoung-ah? biasanya kau membuatkanku japchae atau ayam goreng.”


“Karena aku percaya sesuatu yang hangat bisa menenangkanmu di hari hari yang suram.”

Gadis itu meletakkan mangkuk berisi sup hangat didepan Kyuhyun, Pria itu bergidik dan tak sadar air mata menggenang dipelupuk matanya.

*

“Apa ada yang terjadi?” tanya Manager Kim heran, belakangan ini Kyuhyun terlihat muram setelah kematian Shin Minyoung tapi hari ini dia begitu semangat menghafalkan lirik untuk album terbarunya nanti.

Sejujurnya tidak ada yang spesial hari ini, hanya saja sup rumput laut buatan Hyerin tadi pagi benar-benar membuatnya semangat lagi seperti yang dikatakan Minyoung. Syukurlah, setidaknya kehadiran gadis itu dirumahnya sedikit menguntungkan.

“Lupakan. Kau bawa flashdisk nya kan?” tanya Manager Kim, tidak sabar melihat hasil pekerjaannya yang ada didalam flashdisk yang dia maksud.

Kyuhyun terdiam, meraba-raba sakunya dan detik berikutnya wajahnya berubah pucat.

“Jangan bilang kau meninggalkannya dirumah.” Manager Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin Kyuhyun terlalu semangat hari ini sampai lupa dengan tanggung jawabnya.

“A-Aku minta maaf. Aku akan menelepon orang rumah untuk mengantarnya.”

Manager Kim mendengus, “Baiklah, tapi aku tidak akan memaafkanmu kalau kau menghilangkannya.”

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, mencari kontak istrinya; mungkin gadis itu bisa mengantarkan flashdisknya kesini. Tapi tiba-tiba jarinya terhenti; tersadar bahwa dia tidak pernah menyimpan nomor gadis itu, bahkan sampai sekarang. Sial, ada apa dengan dirinya hari ini?

“Bagaimana?”

Kyuhyun memasukkan ponselnya kedalam sakunya dengan kesal. “Ck, sepertinya aku harus kembali kerumah. Akan kukembalikan setelah makan siang.”

*

Ahn Hyerin menghabiskan setengah jam terakhir dengan mondar-mandir di ruang tamu sambil menggenggam benda kecil dari besi berbentuk persegi yang dia temukan di ruang makan tadi pagi. Apa yang harus dia lakukan? Apa benda ini penting untuk Kyuhyun? Haruskah dia memberikannya pada pria itu?

Tidak, jangan gila, Hyerin. Kau bukan siapa-siapa, mana bisa masuk gedung itu sembarangan? Tapi bagaimana jika benda ini penting dan Kyuhyun mendapat masalah? dia benar-benar harus memberikannya pada pria itu.

*

Gadis itu berdiri dipinggir jalan, menunggu lampu merah sebelum akhirnya dia bisa melanjutkan perjalanannya. Sebenarnya gedung SM Entertainment tidak begitu dekat dari rumahnya, tapi dia tetap memilih jalan kaki agar terhindar dari macet.

“Hyerin!”

Baru saja gadis itu berjalan tiba-tiba sosok pria bertubuh tinggi dengan hoodie hitam dan masker diseberang jalan melambai padanya. Hyerin memiringkan kepalanya; menerka-nerka siapa sosok yang menyapanya dari kejauhan, tapi toh pria itu berjalan menghampirinya.

“Annyeong?” Pria itu tersenyum dibalik maskernya namun Hyerin hanya bisa melihat matanya yang berwarna biru gelap.

“J-Jwiseonghamnida, apa aku mengenalmu?”

“Aku..” Pria itu membuka maskernya perlahan, memperlihatkan wajah kaukasia yang tampan. “Enzo.”

“O-Oh, yaampun, aku pikir siapa!”
Enzo terkekeh. “Aku pikir reaksimu akan lebih dari itu.”

Hyerin mengerutkan alisnya. “Maksudmu? R-Reaksi apa?”

“M-Maaf, aku tidak ingat.” Enzo tiba-tiba menyadari sesuatu dan dadanya terasa sedikit sesak. “Selamat atas pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa datang waktu itu.”

“T-Tidak apa-apa..”

“Bagaimana kehidupanmu sekarang? Apakah.. kau sudah jauh lebih bahagia?” tanya Enzo segan. Sebenarnya ini bukan topik pembicaraan yang pantas selama beberapa bulan tidak bertemu, tapi dia bahkan tidak tahu apa yang harus dibahas sekarang ini, toh mereka sudah tidak bisa terlalu dekat seperti dulu lagi; Hyerin sudah menjadi istri orang dan bahan pembicaraan mereka yang dulu-dulu tidak akan pantas lagi mereka obrolkan.
Hyerin memaksakan senyum. mendengar orang menanyakan kabarnya membuat dirinya merasa semakin terpuruk. “Kurang lebih seperti itu.”

Enzo tersenyum, mendengar bahwa sahabatnya baik-baik saja membuat perasaannya sedikit tenang. “Ngomong-ngomong, Kau mau kemana pagi-pagi begini?”

“Ituㅡingin ke kantor suamiku.”

“Mau kuantar?” tawar Enzo.

“Eh? T-Tidak perlu, terima kasih.”

“Tidak apa-apa, ayo. kebetulan aku juga lewat sana.”

Hyerin menatap pria itu yang masih tersenyum padanya. “Baiklah..”

*

Enzo menghentikan mobil dipinggir jalan, matanya memperhatikan gedung besar itu lewat kaca mobil. Banyak penggemar yang menunggu diluar dan pria itu menjadi sedikit khawatir. “Kau yakin tidak mau kuantar sampai dalam?”

“T-Tidak perlu repot-repot. Terima kasih sudah mengantarkanku sampai sini.” ucap Hyerin sebelum keluar dari audi hitam milik Enzo.

Enzo memperhatikan gadis itu yang mulai menjauh darinya. Gadis itu tidak seperti Ahn Hyerin yang dia kenal selama ini; Ahn Hyerin tidak pandai menyembunyikan perasaannya; dia sangat ekspresif dan selalu terlihat ceria. Tapi kali ini dia kelihatan sedikit tertutup dan lebih kaku dari biasanya. Apa dia sudah berubah? Atau memang ada yang mengubahnya?

“Hyerin-ahㅡ” panggil Enzo. Hyerin terpaksa menoleh dan menatap pria itu dari kejauhan.

“Jaga dirimu baik-baik.”

Hyerin hanya mengangguk. “Neh.”

Setelah pertemuan yang sangat singkat itu mobil Enzo menghilang dari pandangannya dan gadis itu memutuskan tidak masuk lewat pagar yang melainkan melewati pintu rahasia dibelakang gedung yang tidak tahu dari mana dia dapatkan. Yang jelas, pintu rahasia ini sering digunakan para idol untuk bisa keluar tanpa sepengetahuan penggemar. Tapi apa yang harus dia lakukan didalam sana? apakah dia bisa langsung saja masuk ke ruangan Kyuhyun? bagaimana jika orang-orang mencurigainya? Hyerin mengetuk dahinya, memaki dirinya sendiri yang tidak pernah berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu.

“Hyerin-ah!!”

Hati Hyerin mencelos begitu menemukan seorang gadis yang dia kenal berjalan kearahnya. Gadis itu tersenyum kepadanya, memamerkan lesung pipinya. Dia mengenakan mini dress merah muda berwarna senada dengan sepatu stilleto miliknya. Manis sekali. benar-benar tipikal gadis yang dicintai semua pria.

“N-Nayoung?”

“Kau sedang apa disitu? Ayo masuk!” gadis itu menarik tangan Hyerin, mengajaknya masuk kedalam gedung.

“Aku sekarang trainee disini. Tapi tidak lama lagi aku akan debut.” tutur Nayoung ketika mereka sudah duduk dengan nyaman di kantin sambil menikmati coklat panas. “Kau pasti terkejut ya.. Maaf aku tidak sempat memberitahumu, Sajangnim tidak pernah memperbolehkanku memegang ponsel.”

“Tidak apa-apa..” Hyerin tersenyum segan, matanya diam-diam mengamati gadis yang duduk didepannya itu. Kalau diperhatikan, Lee Nayoung memang seperti dewi kecantikan. Tidak mengejutkan bahwa sm meloloskannya di audisi tahun lalu meskipun bakat tarik suaranya tidak sehebat Taeyeon. Tapi dia yakin sekali gadis itu akan menjadi Visual dari girlband apapun yang akan dia masuki nanti. Wajahnya sudah cantik natural, dia tidak perlu memakai makeup atau bahkan melakukan prosedur operasi plastik seperti trainee lainnya; karena pada dasarnya tidak ada yang harus diperbaiki darinya.

Nayoung menyadari tatapan Hyerin dan mengerenyit. “K-Kenapa? aku masih gemuk ya?”

“Tidak kok.. Justru aku iri dengan tubuhmu yang sangat porposional.” puji Hyerin.

“Aniyo.. aku malah iri padamu. Kau biasanya makan dalam porsi normal tapi tubuhmu bisa sebagus itu. Sedangkan aku yang harus tidak makan tiga hari tapi turun setengah kilo pun tidak. Sementara manager akan menghukumku jika berat badanku tidak turun.” tutur Nayoung sedih, Gadis itu sebenarnya bingung dengan standard kecantikan di korea. Sepertinya mereka benar-benar dituntut untuk menjadi tulang.

Hyerin menatap dengan sahabatnya itu dengan iba. “Aigoo.. menyiksa sekali, padahal tubuhmu kan sudah bagus seperti itu.”

“Mungkin aku harus berusaha lebih keras lagi..” Nayoung menghela nafas. “Oh ya, ngomong-ngomong, Apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin bertemu oppa-oppa suju?”

Hyerin terkesiap. Bagus, sekarang Nayoung mencurigainya. Dia harus jawab apa?

“A-Ani, aku ingin bertemu temanku, dia salah satu staff disiniㅡ” jawab gadis itu asal, dia benar-benar belum memikirkan itu sebelumnya jadi dia terpaksa menjawab seadanya.

“Oh begitu, padahal jika kau ingin bertemu oppadeul, mulai sekarang aku bisa mengantarmu.” Nayoung terkekeh.

“T-Tidak perlu kok..” tolak Hyerin halus, kemudian berdiri dari kursinya dengan hati-hati. “Sudah dulu ya, a-aku harus pergi. Temanku sudah menunggu..”

*

“Ada yang ingin bertemu denganku?”
Kyuhyun baru saja masuk kedalam ruang rekaman untuk mengambil kunci mobilnya dan dahinya langsung berkerut.

“Neh. Tadi dia mencarimu tapi aku tidak tahu kau dimana jadi aku suruh tunggu disini saja.” jawab wanita berambut coklat terang yang tak lain adalah Kim Taeyeon.

“Siapa?”

Kyuhyun melongo ke sudut ruangan yang dibatasi sekat kayu dan detik kemudian hatinya mencelos menemukan gadis yang sedang duduk rapi di ruangannya dengan wajah tak berdosa. Demi tuhan, apa yang ada didalam pikiran gadis itu sampai nekat datang kesini?

“Ahn Hyerin?”

Gadis itu menatap kearahnya dengan terkejut. Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan berbalik menatap Taeyeon dengan tajam.

“Taeyeon-ssi, bisa tolong tinggalkan kami sebentar?” pinta Kyuhyun, Taeyeon mengangguk dan menuruti perintah seniornya itu.

“Kau pikir apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa masuk?” tanya Kyuhyun cemas, sesekali menengok kanan-kiri; memastikan tidak ada yang melihat mereka.

“L-Lewat pintu belakang.”

Kyuhyun mengerutkan alisnya, masih belum percaya dengan fakta bahwa istrinya bisa menerobos kedalam agensinya. “Pintu belakang? darimana kau tahu pintu belakang?”

“Ituㅡ S-Sebenarnya aku hanya ingin mengembalikan iniㅡ” jawab Hyerin pelan, mengeluarkan flashdisk milik Kyuhyun dari dalam tasnya.

Kyuhyun tertegun sejenak, kemudian merampas flashdisk dari tangan istrinya dengan cepat. Untuk beberapa saat Kyuhyun menatap gadis itu dengan khawatir; naik apa dia kesini? apa dia sendirian? bukankah berbahaya seorang perempuan berjalan ditengah musim dingin begini? apalagi gadis itu terlihat sangat ringkih dan kedinginan. Kyuhyun sempat mempertimbangkan apakah setidaknya dia harus memberikan jaketnya pada gadis iniㅡ tapi kemudian dia ingat waktunya sangat tidak tepat dan dia pun mengurungkan niatnya.

“Tunggu disini.” suruh Kyuhyun, kemudian membuka pintu rekaman dan kebetulan menemukan seorang pria tua yang sedang membawa kain pel.

“Oh, Kang Ahjussiㅡ” panggil Kyuhyun, pria itu mendekat dan Kyuhyun membisikkan sesuatu. “Tolong panggilkan supir untuk mengantar gadis ini pulang. beritahu aku kalau dia sudah sampai rumah.”

Setelah pria tua yang disebut Kang Ahjussi itu mengangguk dan pergi melaksanakan perintah, Kyuhyun kembali kedalam ruangan dan menatap gadis didepannya dengan tajam.

“Cepat kebawah, sudah kupanggilkan taksi untuk mengantarmu. Jangan coba-coba datang kesini lagi, arraseo?”

“A-Arraseo.. Maaf.. aku pergi dulu.” Hyerin membungkuk kecil sebelum kemudian dia berbalik arah, berjalan lemah keluar ruangan. Kyuhyun menghela nafas kasar. Sejujurnya dia merasa brengsek telah bersikap seperti itu pada Hyerin; dia bahkan tidak sempat berterima kasih. Sebenarnya dia juga bisa saja bertanggung jawab dengan mengantarnya pulang tapi dia tidak ingin siapapun mengetahui hubungan mereka dan sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.

Detik berikutnya Taeyeon kembali masuk ke ruangan dengan wajah khawatir. “Sunbaenim, siapa gadis itu?”

“Hanya seorang teman.” jawab Kyuhyun cuek.

Taeyeon masih kelihatan cemas. “Serius? dia menangis, lho..”

*

Bruk! Hyerin memekik kecilㅡwajahnya menabrak bahu seseorang.

“Hyerin-ah.. Kau tidak apa-apa?”

“M-Maafㅡ” ucap Hyerin, mengadah melihat siapa yang ditabraknya kemudian tertegun begitu menyadari bahwa dia baru saja menabrak Choi Siwon. “S-Siwon oppa?”

“Kenapa kau menangis? Kau mencari Kyuhyun?” tanya Siwon bingung, wajahnya terlihat sedikit khawatir.
Hyerin menghapus air matanya dan memasang senyum palsu. “T-Tadi aku sudah menemuinya. A-Aniyo, aku hanya sedang influenza, yaampun, aku lupa membawa tisuㅡ”

“Kyuhyun membuatmu menangis?” tebak Siwon tiba-tiba, Hyerin menarik nafas kaget. Bagaimana dia bisa tahu?

“T-Tidakㅡ Aku tidak apa-apa, oppa.”
Siwon menghela nafas, dia masih ingat pernah membela gadis ini di backstage ketika Kyuhyun membentaknya dan dia khawatir Kyuhyun benar-benar melakukannya lagi. Terlebih lagi beberapa hari yang lalu Kyuhyun sempat bercerita padanya bahwa mereka hanya dijodohkan dan saat itu Siwon menceramahinya habis-habisan hingga pria itu menyebutnya abeojji. “Maaf, aku bukannya ingin ikut campur soal keluargamu; tapi Kyuhyun adalah dongsaengku, jadi sebagai hyungnya aku tidak ingin membiarkannya berkelakuan yang tidak-tidak.”

Hyerin tertegun sejenak, tak sadar bibirnya bergetarㅡterharu dengan perkataan Siwon. “K-Kami baik-baik saja, oppa. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. J-Jwiseonghamnida, aku permisi dulu.”
Gadis itu membungkuk kecil, kemudian pergi meninggalkan Siwon yang masih menatapnya dengan iba.

*

Hyerin menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan semangat, bibirnya menggumamkan lagu through the night yang dibawakan IU dengan suara pelan. Cho Kyuhyun ternyata sudah menanam bunga matahari, anggrek dan beberapa jenis bunga lainnya disana ketika rumah ini dibangun. Kebetulan sekali dirinya sangat suka berkebun dan melihat-lihat bungaㅡ yang baginya itu bisa menenangkan suasana hatinya. Senyum lembut menghiasi wajah cantiknya, ternyata mereka punya kesukaan yang sama.

“Ibumu meneleponku tadi pagi. Kita diundang ke acara 20tahun perusahaan ayahmu.” kata Kyuhyun memecah keheningan setelah dua jam mereka berada di tempat yang sama tanpa berbicara sama sekali. Pria itu sedari tadi berkutat dengan pspnya dibelakang Hyerin yang sibuk menyiram tanaman. Jangan tanya kenapa, mereka memang sangat jarang berbicara kecuali benar-benar ada ada yang harus dibicarakan.

“Neh? A-Acara?” Senyum di wajah Hyerin memudar dan gadis itu berhenti menyiram bunga. Sebenarnya dia membenci saat-saat seperti itu. Dimana dia harus bersandiwara; berpura-pura mesra dengan Kyuhyun didepan orang tuanya, kemudian dia akan berharap Kyuhyun tidak sedang berpura-pura dan menyalahkan dirinya sendiri yang telah berpikir seperti itu.

*

“Maaf kami hanya bisa membawakan ini, Eommoni. Dimana abeoji?”

“Aku tidak bersamanya sejak tadi, mungkin dia sedang berbicara dengan rekan kerjanya. Oh, tidak apa-apa, Kyuhyun-ah. Ini sudah lebih dari cukup.” Nyonya Ahn menerima bingkisan yang diberikan menantunya dengan wajah gembira. “Apakah kalian bersenang-senang?”

Pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Ahn sempat membuat Hyerin yang berdiri disamping suaminya bingung apa yang harus dia jawabㅡ tapi detik berikutnya gadis itu tertegun merasakan tangan kanan Kyuhyun melingkar di pinggangnya.

“Tentu saja.” Kyuhyun merangkul Hyerin erat, berusaha terlihat akur didepan orang tua gadis itu. Sementara gadis itu sendiri merasakan pipinya terbakar dan dadanya berdebar kencang. Inilah yang paling dibenci Hyerin. Meskipun hanya sandiwara, tapi setiap kali mereka melakukan kontak fisik reaksi aneh itu selalu muncul.

Nyonya Ahn terkekeh. “Baguslah kalau begitu, kami senang mendengarnya.”
“Geundae.. Hyerin-ah, kau tahu hari ini hari apa?” tanya Nyonya Ahn.

“Hngng? tentu saja hari kamis. M-Memangnya ada apa? maaf.. apa aku melewatkan sesuatu?” jawab Hyerin dengan wajah menyesal.

Belum sempat Nyonya Ahn menjawabnya tiba-tiba atmosfer di sekeliling mereka berubah. Suasana pesta yang semula ramai seketika berubah menjadi hening. Hyerinㅡseperti yang lainnyaㅡ berpaling kearah pintu masukㅡ yang sangat menarik perhatian.

Nyonya Lee berjalan dengan anggun kearah mereka, terlihat luar biasa cantik dan berkelas dikalangan wanita seusianya; wajahnya mengkilap seperti porselen; gaun panjang berwarna red wine membungkus tubuh rampingnya dan syal bulu binatang melingkari lehernya, seorang gadis yang juga luar biasa cantik mengikutinya dari belakangㅡLee Nayoungㅡ tersenyum ramah pada setiap orang yang menyapanya. Semua orang menatap mereka dengan terkejut seakan melihat malaikat yang baru saja jatuh dari langit.

“Maaf kami terlambat.” ujar Nyonya Lee menyesal, tak sengaja menatap Cho Kyuhyun yang langsung menjaga jarak dengan Hyerin.

“Hyerin-ah, annyeong!” sapa Nayoung, terlihat sangat senang melihat Hyerin tapi sebaliknya wajah Hyerin terlihat pucat dan hanya tersenyum masam pada gadis itu. Sangat kebetulan bahwa Lee Nayoung adalah putri dari teman ibunya. Ini bukan pertanda yang baikㅡKarena itu artinya Lee Nayoung dan ibunya melihatnya bersama Kyuhyun.

Lee Nayoung kemudian menatap kearah Kyuhyun dan kontan membungkuk. “Annyeong haseyo, sunbaenim.”

“Senang bertemu dengan kalian.” Kyuhyun berbalik membungkuk sopan, tidak terlihat terkejut dengan kehadiran Nayoung. Mereka toh satu agensi dan wajar saja jika sudah saling mengenal.

“Aku mau mengambil wine sebentar, permisi.” Kyuhyun kembali membungkuk sebelum berjalan meninggalkan mereka.

“N-Nayoung-ah.. B-Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Hyerin cemas ketika Kyuhyun sudah pergi.

“Kenapa kau panik begitu, Hyerin-ah?” Nayoung tertawa kecil, mungkin mengerti kenapa gadis itu begitu terkejut dengan kehadirannya. “Aku sudah tahu kok. tidak mungkin aku mengkhianati sahabatku sendiri kan?” bisik gadis itu pelan.

“Oh, Jadi Nayoung dan Hyerin saling mengenal?” tanya Nyonya Lee, melirik Hyerin dengan bingung; seakan gadis itu benar-benar berbeda dengan putrinya yang luar biasa cantik dan tidak mungkin mereka bisa berteman.

Nayoung merangkul lengan Hyerin. “Hyerin bahkan temanku sejak sma, eomma!”

“Jinjja? Aigoo, kau sangat cantik..” berbeda dengan tutur katanya yang ramah, wajah Nyonya Lee terlihat seperti tidak begitu ikhlas saat mengatakannya. “Sekarang kau sudah kuliah? dimana?”

 “Neh, saat ini aku mengambil jurusan art di UOKA.” Hyerin tersenyum segan, sama sekali tidak menyadari pandangan Nyonya Lee yang menatapnya dengan aneh.

“Jinjjayo? Berarti kau sangat pandai melukis ya, ibumu pasti bangga.” puji Nyonya Lee lagi sambil melirik Nyonya Ahn yang tengah tersipu.

“Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa bertemu dengan Kyuhyun? aku benar-benar tidak menyangka kalian bisa menikah.” ujar Nyonya Lee ramah tapi sarat penindasan terdengar di sisi lain. Senyum di wajah Hyerin sekejap menghilang. Jadi mereka sudah tahu bahwa Kyuhyun dan Hyerin sudah menikah? Apa jangan-jangan ibunya mengundang mereka?

“Oh, mereka tidak sengaja bertemu di universitas Kyuhyun, saat itu Hyerin sedang ikut seminar disana.” sergah Nyonya Ahn, terpaksa berbohong untuk menutupi identitas putrinya.

“Oh ya? aku kira kalian seperti yang ada di fiksi penggemar.” komentar Nayoung polos.

Hyerin tertegun. Uh-Oh, rasanya dia harus segera pergi dari tempat ini sebelum Lee Nayoung mengulitinya. Gadis itu terlalu polos dan spontan hingga Hyerin takut dia akan mengatakan hal yang tidak diinginkannya.

Nyonya Lee menatap putrinya dengan bingung. “Fiksi penggemar?”

“Iya! fiksi yang dibuat penggemar! Biasanya ceritanya berisi khayalan tentang tokoh tersebut, misalnya.. cerita tentang penggemar yang tidak sengaja bertemu dengan idolanya, dan mereka menikah.” jelas Nayoung tanpa dosa. Hyerin kembali tertegun. tapi toh dia mencoba untuk kelihatan tidak tersindir. dia tahu Nayoung tidak sengaja mengatakannya, gadis itu hanya terlalu polos dan yang dikatakannya memang benar adanya.

“Ah, tentu saja itu tidak mungkin, namanya juga hanya fiksi kan. Mana mungkin seorang idola dan penggemar bisa saling mencintai!” Nyonya Lee tertawaㅡseolah-olah yang dikatakan putrinya adalah hal konyol. “Kecuali kalau mereka berada di lingkungan yang sama. Seperti satu agensi itu baru mungkin. Malah tadinya kukira Cho Kyuhyun malah lebih dekat dengan Nayoung.”

Kata-kata Nyonya Lee seperti petir di siang hari yang membuat tubuh Hyerin membeku. Yang benar saja, bagaimana wanita itu bisa mengatakan hal seperti itu didepan istri Cho Kyuhyunㅡyang juga adalah sahabat dari putrinya sendiri?

“Eommaㅡ” Nayoung menyikut lengan Nyonya Lee, merasa sangat tidak enak dengan perkataan ibunya itu. sementara Nyonya Ahn hanya bisa tersenyum masam, benar-benar tidak nyaman dengan pembicaraan ini.


“Memangnya kenapa kalau seorang idola menikahi penggemarnya?”
suara baritone yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka itu mampu membuat suasana hening sejenak.

Hyerin mengadah dan darahnya berdesir menyadari bahwa Cho Kyuhyun tengah berdiri disampingnya, menatap mereka berempat yang terkejut melihatnya.

 “Setahuku, jika kau benar-benar tulus mencintai seseorang, tidak ada alasan yang membuatmu mencintainya. Kau tidak peduli siapa dirinya, atau dari mana dia berasal, Yang kau pedulikan saat itu hanyalah kebahagiannya.” ujar Kyuhyun cuek. “Aku yakin mereka punya pikiran seperti itu. Hanya saja orang-orang yang iri dan suka meremehkan tidak mengetahuinya.”

Sekarang Nyonya Lee lah yang seperti baru saja tersambar petir. Mata bulatnya yang dipoles eyeliner tebal menatap Cho Kyuhyun dengan terkejut; pria itu benar-benar membuatnya terlihat seperti wanita jahat. orang-orang disekitarnya yang semula terkagum-kagum padanya sekarang menatapnya dengan jijikㅡseolah topeng di wajahnya telah lepas dan mereka semua kecewa dengan wajah aslinya.

Sementara semburat merah mewarnai wajah Hyerin. Apa itu artinya pria itu membelanya secara tidak langsung?

“Ah, sepertinya aku terlalu banyak berkomentar. Jwiseonghamnida.” kata Kyuhyun pura-pura baru menyadari perkatannya.

“A-Aaahㅡ M-Mungkin kau benarㅡ” Nyonya Lee sangat malu, menahan kuat keinginannya untuk menyembunyikan separuh wajahnya dibalik syal bulu binatangnya. Lee Nayoung menatap ibunya dengan tidak percaya, wanita itu benar-benar tidak bisa menahan diri.

Kyuhyun hanya tersenyum dan melemparkan pandangannya kearah Hyerinㅡ membuat jantung gadis itu berdebar kencang. “Hyerin-ah, appamu sudah kesini? dari tadi kita belum bertemu dengannya kan?”

“A-Aniㅡ”

“Sebaiknya kita menemuinya. Dia tidak melihatmu denganmu sejak pernikahan kita, masa kalian berada ditempat yang sama tapi dia tidak bisa bertemu dengan putrinya yang cantik ini, hm?” kata Kyuhyun dengan nada menggoda, menatap istrinya dalam-dalam dan detik itu Hyerin lupa caranya mengontrol dirinya sendiri; dia pasti terlihat seperti udang rebus sekarang. Mereka seperti suami-istri ‘sungguhan’ saja.

“Kami permisi dulu.” pamit Kyuhyun, terlihat sangat sopan dan berbakti meski pada kenyataannya dia baru saja mempermalukan wanita itu didepan umum.

Kyuhyun menggandeng tangan Hyerin, berjalan menjauhi mereka tapi tiba-tiba Lee Nayoung mengejar mereka dari belakang. “T-Tunggu!”

“Hyerin-ah, K-Kyuhyun oppaㅡ a-aku benar-benar minta maaf atas perkataan eommaku.” sesal Nayoung dengan nafas tersengal. “Eomma tidak bermaksud seperti itu.”

“T-Tidak apa-apa, Nayoung-ah.. a-aku mengerti.” jawab Hyerin.

“Kalau begitu aku permisi, sekali lagi aku minta maaf.” Nayoung membungkuk sekali lagi sebelum berbalik dan kembali ke sisi ibunya.

“Kau yakin kehadiranmu tidak mengganggunya?” tanya Kyuhyun dingin.
Hyerin mengerenyit. “A-Apa?”

“Gadis itu. Lee Nayoung. Kau yakin dia menyukaimu?”

“Kau ini bicara apa? Tentu saja! Kami sudah berteman sejak lama.” cetus Hyerin, menatap Kyuhyun dengan tidak percaya. Kenapa dia bisa punya pikiran seperti itu?
Kyuhyun mendengus sinis. “Aku bukannya membelamu, tapi dia dan ibunya sudah keterlaluan menempatkanmu di situasi seperti itu. Kau tidak merasa ya?”

Hyerin terdiam. Gadis itu benar-benar tidak merasa seperti itu, dia yakin mereka tidak bermaksud menyindirnya. mereka toh tidak tahu cerita sebenarnya. Tapi kenapa Kyuhyun begitu peduli?

*

Nyonya Ahn menusuk steaknya dengan tidak bersemangat, mata sayunya memandang panorama gunung didepannya dengan tatapan kosong. padahal saat ini dia sedang makan malam dengan suaminya di salah satu restoran elite setelah acara seremoni selesai. berbagai makanan mewah ala prancis dan kue tart blackforest yang dihiasi lilin-lilin cantik diatasnya tersusun rapi diatas meja makan. Dan tidak ada satupun yang terlihat menggiurkan di mata Nyonya Ahn.

“Kenapa Hyerin dan Kyuhyun tidak datang?” Tuan Ahn yang duduk didepannya menyadari kegelisahan istrinya itu.

“Tidak. bahkan tidak ingat hari ini adalah hari ulang tahunku. Maksudkuㅡaku tidak begitu mengharapkan ucapan darinya tapi..” Nyonya Ahn menghela nafas berat. “Biasanya dia paling pertama mengucapkannya padaku secara spontan. Tapi tadi sore dia bahkan hanya berbicara seadanya padaku.”

Tuan Ahn tertawa. “Kau terlalu berlebihan. Mungkin Hyerin sedang banyak pikiran.”

“Entahlah.. tapi aku merasa.. setelah kecelakaan itu Hyerin sedikit berubah, aku sering melihatnya berbicara sendiri..”

Raut wajah Tuan Ahn berubah dan Keningnya membentuk kerutan yang dalam; perkataan istrinya benar-benar tidak masuk akal. “Tapi dokter bilang dia tidak apa-apa kan? tidak ada yang harus dikhawatirkan, aku yakin dia hanya sedikit stress. Kau tahu kan sebentar lagi kompetisinya dimulai? Harusnya kau mendukungnya, bukan malah mencurigainya yang aneh-aneh seperti itu.”

“Justru kau yang harus mendukungnya. Kau hanya menuntutnya untuk mendapat prestasi yang bagus tapi kau tidak pernah peduli padanya. Bagaimana kalau sebenarnya kau yang membuatnya seperti itu?!” cecar Nyonya Ahnㅡsebelum kemudian sadar bahwa dia baru saja menghancurkan suasana. “M-Maaf. L-Lupakan saja.”

Tuan Ahn menutup matanya, menghela nafas panjang. “Geurae. Kalau kau masih tidak yakin, besok kita periksakan lagi.”

*

Enzo menatap Hyerin yang sedang duduk mematung disebelahnya. Sedari tadi gadis itu hanya menatap kanvasnya tanpa menyentuhnya sama sekali. Yoon songsaengnim menyuruh mereka meniru gambar sebuah rumah tapi Hyerin sama sekali tidak melakukannya. Tidak biasanya gadis itu seperti ini, malah biasanya dia paling bersemangat. Sepertinya dia benar-benar ada masalah..

“Hyerin, Kenapa kau tidak mulai menggambar?” tegur Yoon songsaengnim yang sedari tadi memperhatikan Hyerin dari jauh.

Hyerin merasakan tangannya bergetar dan keringat dingin membasahi dahinya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Bagaimana ini? Seharusnya dia tidak pergi kesini.

Hyerin menggenggam kuasnya dengan gemetar. “Aku.. aku tidak bisa.”

“Hyerin-ah, ghwenchanayo?(baik-baik saja?)” tanya Enzo khawatir.

“Maafㅡ akhir-akhir ini aku sedang tidak fokus.” Hyerin berdiri dari kursinya dan membungkuk. “Maafkan aku songsaengnimㅡ”

Gadis itu langsung menarik tasnya dan berlari keluar ruangan.

“Hyerin!!” pekik Enzo, ikut berlari keluar kelas untuk mengerjar Hyerinㅡ namun gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.

*

Kyuhyun baru saja selesai menghafal lirik salah satu lagu terbarunya ketika ponsel didalam sakunya bergetar. Pria itu segera meraih ponselnya dan sedikit terkejut ketika mengetahui siapa yang meneleponnya. Ada angin apa hingga tiba-tiba mertuanya menelepon?

“Kyuhyun-ah, apakah Hyerin ada dirumah?” suara Nyonya Ahn terdengar panik di telepon.

“Aku masih di kantor jadi aku tidak tahu, Eommoni. memangnya ada apa?” jawab Kyuhyun tenang.

“Tadi pagi guru lukisnya bilang dia bersikap aneh dan langsung kabur dari kelasnya, tapi sampai saat ini ponselnya tidak bisa dihubungi.”

“Neh?” tanya Kyuhyun lagi, sejenak mengira pendengarannya keliru.

“Kyuhyun-ah, bisakah kau pulang sebentar untuk mengeceknya? tolong kabarkan aku jika dia ada dirumah. Tapi jika dia tidak ada, carilah dia secepatnya, Kyuhyun-ah. Gadis itu tidak sedang baik-baik saja, dia bersikap aneh akhir-akhir ini. aku takut sesuatu terjadi padanya. Aku benar-benar memohon padamu.”

*

Meski terus mengumpat sepanjang jalan toh Kyuhyun tetap menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah; memperhatikan sekelilingnya dengan teliti seandainya menemukan gadis ituㅡ sebelum detik kemudian jantungnya berdegup kencang ketika melewati sebuah rumah mewah berwarna putih dengan taman yang luas didepannya. Itu.. rumah Shin Minyoung. Dan Ahn Hyerin berdiri didepan pintunya.

Cho Kyuhyun mengerjapkan matanya; sejenak mengira pengelihatannya keliru. Tapi ternyata yang dilihatnya memang benar-benar istrinya; gadis itu terus mengetuk pintunya beberapa kali namun tidak ada yang kunjung membukanyaㅡ sepertinya tidak ada orang yang didalamnya. Kyuhyun buru-buru melepas sabuk pengamannya, dia harus turun untuk mengecek apa yang gadis itu lakukan disana.

“Ahn Hyerinㅡ” 

Gadis itu berbalik dan menarik nafas kaget, tubuhnya menegang ketika menangkap sosok Kyuhyun dibelakangnya. Sesungguhnya Cho Kyuhyun terkejut. Sangat terkejut. tapi toh dia menatap gadis itu dingin.

“Kenapa.. Kau disini?” tanya Kyuhyun parau.

Hyerin diam seribu bahasa, seperti tidak tahu apa yang harus dia jawab.

“Ahn Hyerin, jawab aku.” Kyuhyun menatap gadis itu dengan tajam. “Kenapa kau ada dirumah Minyoung? Apa kau punya hubungan dengannya?”

“A-Akuㅡ” setiap pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun membuat hati Hyerin mencelos. Gadis itu tertunduk, entah apa yang ditakutinya hingga dia tidak dapat menjawabnya.

“Sebenarnya.. Kau ini siapa, Ahn Hyerin?”

-To Be Continued-

Advertisements

22 thoughts on “Different Person [Chapter 1]

  1. kayaknya kyuhyun disini belom tau ya?kalo orang yang diselametin sama minyong itu hyerin?
    terus aku binggung deh apa hyerin menderita efek abis kecelakan itu apa itu pengaruh tekanan dari lingkungan sekitar karna dinikah sama kyu?abisnya dia jd linglung gitu?ditambang kayaknya si nayoung itu keknya ular berbisa yg siap matok kapan aja wkwkwk

  2. Kok hyerin jadi aneh ya semenjak dia kecelakaan,
    Sebenarnya dia kenapa sih?
    Bingung, trus ama hubungan hyerin sama minyoung?

    Nextnya jan lama” ya eon udah gak sabar dan penasaran liat kelanjutannya

  3. Jgn2 jiwa Hyerin sama Minyoung ketuker lagi wkt kecelakaan. Soalnya Hyerin kayak aneh gimana gitu, sama keluarganya juga gitu..
    Ditunggu bgt next partnya
    Fighting buat next part !!!

  4. Kok aneh ya hyerin?? Apa jiwa hyerin ketuker sama minyoung atau gmn??
    Penasaran…
    Tp hyerin masih inget sama ortunya tp sama ulang tahunnya lupa sih..
    Hyerin jgn terlalu polos sama nayoung keliatan bgt dia g tulus sama kamu…

  5. Maaf jika aku menyakitimu, Hyerin. Tapi aku harus melakukannya..” gumam Hyerin pada dirinya sendiri.
    Ini maksudnya apa…? Ad minyoung dlem tubuh hyerin.? Atau mereka bertukar peran…? Apa mereka oplas trus ketuker.? Ato jiwanya aja yg ketuker..? Aku pusing… hehehe

    Trus mengenai kecelakaan itu, knpa mereka bisa breng kecelakaannya, bukannya hyerin yg ketabrak ya.? Kok dia gak apa2… ?

    1. itu nanti di jelasin di chapter ke 3 nanti kok, jgn pusinggg hehehe

      Itu kejadiannya barengan, pas banget waktu hyerin kecelakaan, minyoung juga kecelakaan tapi yg selamat hyerin doang, minyoung udah gabisa diselamatin lagi. mian klo bikin bingung T.T

  6. Yakin nayoung gak sma kluan y sma eomma y. Dan hyerin kam saat itu kclkaan sma minyoung? Ommmpp

    Knpa yah dia?

  7. Apa mungkin Jiwa nya Hyerin ketukar smaa Minyoung???_-”
    Jdi yang nyelametin Hyerin itu Minyoung? Dan yang selamat cuman Hyerin doang.. masih gk ngerti.. kenapa Hyerin bisa berubah gitu_- apa Jan” Hyerin smaa Minyoung bekerja smaa;v /apaandah;v/
    Entah kenapa, greget sama karakter Nayoung disini_- ugh! Pen nakol aja bawaannya_-
    Mungkin aja si Hyerin di rasuki arwah Minyoung@.@ /kebanyakan nonton sinetron guaaa;v/

  8. Membingungkan sekaligus menegangkan
    Jd maksudnya jiwa hyerin ketukar dgn jiwa nya minyoung gtu????
    Dan satu lagi kyknya nayoung berteman sama hyerin ga tulus

  9. Maksudnya apa ini? kenapa hyerin jadi aneh? ada apa dengan hyerin 😦 kyu kejam banget sih sama hyerin 😥 apakah sebenarnya kyu didunia nyata seperti ini ya huwwaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s