Angst · Romance

CEO’s Ex Wife [Chapter 5]

Story By Erina Suzumiya

Cast:

Ahn Hyerin | Cho Kyuhyun | Lee Donghae | Choi Sekyung (OC)| Cho Joon-ah (OC) | Cho Jae-Kyung (OC) as Mrs. Cho

Genre: Romance, Angst

Rating: PG-17

DON’T BE A SILENT READER ‚̧

Click ‘BACK’ if you don’t like this storyūüėä

Choi Sekyung naik keatas panggung dengan percaya diri„Ö° didampingi Cho Kyuhyun yang kemudian berdiri didepan mikrofon. Hari ini adalah acara launching Botanical Garden Residence dan gadis itu yang berperan sebagai pembawa acara harus tampil dengan maksimal.

“Selamat pagi. Apakah kalian suka dengan acara hari ini?” tanya Kyuhyun lantang pada para peserta acara dan semuanya berteriak ‘Yaa’ dengan semangat.

“Sebelumnya ayo kita beri tepuk tangan untuk gadis cantik disebelahku ini, Choi Sekyung-nim. Acara ini adalah ide jenius dari Choi Sekyung-nim!” kata Kyuhyun di mikrofon seraya melirik gadis disebelahnya yang kini tersipu malu dan tersenyum enggan pada semua penonton.

Rupanya Choi Sekyung langsung mendapat perhatian dari semua peserta karena sekarang suara tepuk tangan yang meriah dan pujian-pujian kagum padanya bergaung di seluruh ruangan. Karyawan yang lain juga sangat mengagumi Sekyung. Gadis itu memang terkenal ramah dan sopan sehingga mudah bagi orang-orang untuk menyukainya.

“Selanjutnya, kita akan tampilkan bagian terpenting dari acara ini. Kalian sudah siap?” tanya Kyuhyun yang kembali dijawab antusias oleh peserta.

Detik kemudian layar proyektor dibelakang mereka menampilkan sebuah video dan suasana yang semula ricuh seketika menjadi hening. Wajah orang-orang disana terlihat bingung dan terkejut menonton video itu. Sekyung yang menyadari perubahan situasi itu mengerutkan kening, kemudian menoleh kebelakang„Ö° dan video yang diputar di layar proyektor itu membuat matanya nyaris melompat dari tempatnya.

Itu bukan video biasa; melainkan rekaman cctv. Di layar itu terlihat dirinya sedang masuk diam-diam kedalam ruang kerja Hyerin, kemudian diam-diam menukar kertas miliknya dengan milik Hyerin. Sekyung sontak menarik nafas kaget, dia mundur satu langkah dan matanya mengedar ke penonton yang sekarang menatapnya dengan tidak percaya. Bagaimana bisa? Siapa yang memutar video ini?

Dan belum selesai rekaman itu mengejutkan mereka, rekaman yang lain lagi kembali diputar dan membuat mereka; terutama karyawan di perusahaan memekik kaget. Yaitu rekaman disaat Hyerin menuduh Sekyung menukar kertasnya dan Sekyung membela diri.

Sekyung membeku, menatap Kyuhyun disebelahnya dengan mata membelalak; kilat kekecewaan dan dendam terlihat jelas di wajah pria itu. Dan detik itu Sekyung hampir serangan jantung menyadari bahwa ini semua adalah rencana Kyuhyun untuk mempermalukannya.

“Bagaimana rasanya, Choi Sekyung? enak kan?” tanya Kyuhyun pada Sekyung yang sangat ketakutan; keringat dingin membasahi pelipisnya dan tubuhnya bergetar tak karuan saking syoknya.

Dan rekaman yang terakhir benar-benar membuat suasana menjadi tegang. Ini adlaah puncaknya. Dimana Sekyung sedang berada di klub malam bersama laki-laki hidung belang dengan minuman keras dikedua tangannya.

Choi Sekyung memandang ngeri kearah orang-orang yang beberapa menit lalu terkagum-kagum sekarang menatapnya dengan jijik. Tidak ada yang pernah menyangkanya, tentu saja. Choi Sekyung yang anggun dan terlihat sangat professional itu tidak mungkin melakukan hal serendah itu.

“Tidak, i-itu bukan aku!!” pekik Sekyung seraya berjalan mundur, sementara sekarang orang-orang itu menyorakinya, melemparinya dengan gelas plastik dan properti yang ada disana.

Choi Sekyung tersentak‚ÄĒ dadanya berdebar sangat kencang, nafasnya terengah-engah dan pelipisnya bersimbah keringat dingin. Tapi kemudian dia sadar bahwa dia hanya habis bermimpi buruk dan menghela nafas lega. Bagaimana dia bisa mimpi sepanjang dan seburuk itu? Lebih tepatnya, apa yang membuatnya tiba-tiba bisa bermimpi seaneh ini? Apa dia mabuk? Seingatnya kemarin malam dia tidak minum apapun di bar, dia hanya menongkrong sambil merokok, lalu menelpon Donghae dan„Ö°

Sekyung terbelalak. Tidak, tidak. Itu juga bagian dari mimpinya kan?

Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya„Ö° mencari sosok Cho Kyuhyun„Ö° tapi matanya malah menangkap secarik kertas diatas nakas disebelah ranjangnya. Sekyung mengambil kertas itu lalu membacanya dengan penasaran. Dan detik itu dia sadar bahwa mimpi buruk itu memang nyata. Choi Sekyung menggenggam kertas gugatan cerai itu dengan tangan bergetar hebat. Kapan Kyuhyun mengurus kertas ini? Apa dia sudah membuatnya dari jauh-jauh hari? Gadis itu menggeleng cepat, nafasnya kembali tercekat dan sepertinya dia akan pingsan untuk yang kedua kalinya.

Tapi detik kemudian suara langkah yang mendekat mengejutkannya. Gadis itu menengadah, jantungnya hampir copot begitu melihat sosok yang berdiri didepan pintu kamarnya yang terbuka lebar.

“Oppa„Ö°” panggil Sekyung parau, matanya berkaca-kaca menatap suaminya yang berjalan menghampirinya. Pria itu tidak menyunggingkan senyum atau mengucapkan selamat pagi seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi, tapi juga tidak terlihat marah. Untuk sepersekian detik dia mengira pria itu akan memeluknya atau mengatakan bahwa dia memaafkannya, tapi ternyata pria itu hanya ingin mengambil kunci mobilnya dari nakas disebelahnya dan kemudian berbalik meninggalkannya. Sama sekali tidak melakukan interaksi pada gadis itu; seolah gadis itu hanya benda mati atau pajangan yang tidak berarti.

“Kyuhyun oppa!!” teriak Sekyung, berharap pria itu menoleh. Tapi pria itu masih tidak menggubrisnya.

Sekyung lompat dari ranjangnya, berlari menghampiri Kyuhyun dan menarik lengannya. “Oppa, tolong jangan lakukan ini!!” katanya keras, air mata mulai membasahi wajahnya.

Kyuhyun sama sekali tidak merespon, dia bahkan tetap berjalan seakan tidak ada apa-apa dan membiarkan gadis itu menarik tangannya hingga gadis itu terseret-seret.

“Baiklah oppa aku mengaku,” isak Sekyung, mencoba menarik perhatian Kyuhyun. “Ahyoung itu memang anak dari kekasihku sebelum aku menikah denganmu, aku hanya takut kau marah dan kecewa karena itu aku tidak bilang, tapi aku bukan pelacur oppa!!”

Kyuhyun mendengar penjelasan Sekyung, tapi akal sehatnya menolaknya mentah-mentah. Sudah tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari gadis ini.

Sekyung menarik nafas kaget melihat Kyuhyun yang sama sekali tidak menghiraukannya. Gadis itu tidak menyerah, Kali ini dia berlutut dan memeluk kaki Kyuhyun erat-erat.

“Oppa, aku benar-benar minta maaf!! tolong jangan lakukan itu oppa, aku tidak bisa hidup tanpamu, berikan aku kesempatan!! apapun akan kulakukan, apapun!!” jerit Sekyung, mengeratkan pelukannya pada kaki Kyuhyun hingga pria itu terpaksa menghentikan langkahnya.

“Jangan buat aku menendangmu.” kata Kyuhyun dingin dan sungguh-sungguh„Ö° meskipun sebenarnya dia tidak akan mungkin berbuat kasar terhadap wanita. Tapi jika wanita ini sudah kelawatan, dia tidak menjamin bisa memegang prinsip itu dengan baik.

Sekyung bergidik ngeri. Hatinya serasa dicabik-cabik. Ini tidak mungkin. Cho Kyuhyun tidak mungkin mengatakan ini padanya. Pria itu selalu menghargainya dan memperlakukannya seperti seorang putri, tapi kenapa sekarang pria itu malah membuatnya tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang memeluk-meluk kakinya tanpa sebab?

“Aku sudah berbaik hati padamu masih mengizinkan perempuan sepertimu menginjakkan kaki di rumahku.” Kyuhyun menatap Sekyung dikakinya dengan sangat tajam hingga membuat gadis itu sesak nafas. Seandainya tatapan dan kata-kata tajam saja bisa membunuh seseorang, mungkin Sekyung sudah mati tersayat-sayat.

“Kau ingat kata-kataku saat pernikahan kita?” tanya Kyuhyun dingin.

Jantung Sekyung berhenti berdetak. Memorinya tiba-tiba berputar seperti kaset rusak. Ya. Dia ingat. Saat itu Kyuhyun naik keatas panggung untuk menyanyikannya lagu dan mengatakan kata-kata manis untuknya. Itu adalah momen yang paling tidak terlupakan dalam hidupnya.

Kyuhyun memalingkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. “Saat itu aku bilang aku sangat mencintai Choi Sekyung, gadis itu adalah gadis terbaik dan tercantik yang pernah ada. Aku akan terus menemaninya dan mencintainya sampai akhir hayatnya.”

“Tapi sekarang, bagiku gadis itu sudah mati.”

Genggaman Sekyung di kaki Kyuhyun melonggar„Ö° sekujur tubuhnya terasa sangat lemas dan tak bertenaga. Choi Sekyung hanya bisa berlutut di lantai dan menangis tersedu-sedu. Sekarang semuanya terasa sangat nyata. Semuanya sudah berakhir.

*

Choi Sekyung meringkuk dan menutup matanya, membiarkan air matanya terus mengalir„Ö° bersamaan dengan air shower yang mengguyur kepalanya dan tubuhnya yang masih terbalut gaun malam. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Kyuhyun benar-benar sudah mengakhirinya.

“Kau ingat kata-kataku saat pernikahan kita?”

“Saat itu aku bilang aku sangat mencintai Choi Sekyung, gadis itu adalah gadis terbaik dan tercantik yang pernah ada. Aku akan terus menemaninya dan mencintainya sampai akhir hayatnya.”

“Tapi sekarang, bagiku gadis itu sudah mati.”

Sekyung memeluk kedua lututnya dengan erat, air matanya mengalir semakin deras dan tubuhnya menggigil. “Tidak.. Ini belum berakhir.. Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu melupakanku secepat itu..” gumam Sekyung dengan suara gemetar. Gadis itu meletakkan dagunya di lututnya dan terdiam sejenak, entah apa yang sekarang ada dipikirannya.

Detik berikutnya Sekyung menghapus air matanya, mematikan shower dan berjalan ke kamar untuk mengambil ponselnya dalam keadaan basah. Gadis itu menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya; kemudian saat nafasnya mulai teratur, dia menghubungi nomor seseorang di ponselnya.

“Halo, Donghyun oppa.” kata Sekyung tenang pada lawan bicaranya di ujung sana. “Apa kau masih di jepang?”

“Aku baru sampai di Korea besok.” suara lawan bicaranya terdengar tidak terlalu jelas karena banyak klakson mobil dan suara lain yang berbicara. “Ada apa, Sekyung-ah?”

Sekyung terdiam sejenak, pandangannya kembali mengabur. “Bisakah.. kau menjemputku dan Ahyoung?”

*


Seoul Station, 16:00PM

“Eomma.. Kenapa eomma diam saja? Eomma sedang memikirkan apa?” tanya Joon-ah bingung kenapa ibunya sedari tadi hanya berdiri disebelahnya dengan mata menerawang. Gadis kecil ini memang sangat peka pada sekitarnya„Ö° terlalu peka malahan.

Hyerin bergidik, menggeleng dan mengusap lembut kepala putrinya. “Tidak apa-apa Joon-a.. Tidak ada yang eomma pikirkan, kok..”

“Ahjussi sebentar lagi datang kok, eomma. Ahjussi kan sudah janji akan datang jam 4.” kata Joon-ah membuat hati Hyerin mencelos.

“E-Eomma tidak sedang memikirkan ahjussi kok!!” sergah Hyerin, tak sadar wajahnya memerah mendengar perkataan putrinya beberapa detik yang lalu. Bagaimana putrinya yang masih balita itu bisa mempunyai pikiran seperti itu? Padahal Hyerin sendiri juga tidak sedang memikirkan Kyuhyun. Dia hanya belum bisa melupakan kejadian tadi pagi; Nyonya Na tiba-tiba datang kerumahnya dan ingin membelinya. Itu benar-benar masih membuatnya syok berat„Ö° meskipun pada akhirnya Nyonya Na meminta maaf padanya dan pergi dari rumahnya.

Joon-a masih menatap Hyerin dengan alis berkerut, tapi detik kemudian sebuah mobil sport berwarna silver metalik yang berhenti didepan mereka menarik perhatiannya.

“Itu dia Ahjussi!!” seru Joon-ah, dengan semangat melangkah kearah mobil itu namun Hyerin segera menahan lengannya.

“Hei, Itu bukan mobil Ahjussi, Joon-ah!” sahut Hyerin. Dia tahu Kyuhyun biasanya memakai mobil audi hitam favoritnya. Lagipula mobil ini terlihat sangat mahal dan mewah, ia tahu betul Kyuhyun paling tidak suka memakai sesuatu untuk dipamerkan.

Joon-ah mendesah kecewa, lalu kembali berdiri disebelah ibunya dengan malas„Ö° tapi tak lama seseorang keluar dari mobil itu dan membuat mereka terperangah.

Cho Kyuhyun benar-benar berdiri di samping mobil itu, menatap Hyerin dan Joon-ah yang menatap dirinya tanpa berkedip. Pria itu kemudian menyunggingkan senyum separuhnya yang menawan„Ö° membuat Hyerin tertunduk malu.

“Ahjussi!!”

Joon-ah spontan berlari menghampiri Kyuhyun dan melompat kedalam pelukannya. Pria itu memeluk putrinya erat hingga tak sadar memutar-mutarnya di udara saking senangnya.

“I„Ö°Ini.. mobilmu, Kyuhyun-ssi?” tanya Hyerin tidak percaya. Mobil ini masih sangat mengkilap tanpa cela„Ö° seperti benar-benar dijaga kebersihannya dan belum pernah terkena debu sama sekali.

“Yah, aku memang hampir tidak pernah memakainya. Ini hanya kupakai jika ada acara yang menurutku spesial saja. Cah, Ayo masuk.” jawab Kyuhyun sambil membukakan pintu mobil sebelah kanan depan, kemudian mengerenyit menatap Hyerin yang masih mematung ditempatnya. “Hye„Ö°”

“A-Aku duduk dibelakang saja. Biar Joon-ah yang didepan.” ujar Hyerin seraya berjalan ke belakang Kyuhyun, namun Joon-ah menarik tangannya.

“Aniyoo, eomma, Joon-a mau dipangku eomma didepan!!” rengek Joon-ah.

Kyuhyun menaikan alisnya menatap Hyerin seakan meminta gadis itu menuruti permintaan putrinya. Hyerin hanya menghela nafas pasrah sebelum akhirnya dia menurut dan duduk di jok depan„Ö° diikuti dengan Joon-ah yang kemudian duduk dipangkuannya.

Setelah menutup pintu untuk mereka, Kyuhyun duduk di jok pengemudi dan menekan sesuatu pada pinggir pintu hingga atap mobilnya terbuka dengan sendirinya. Joon-ah bertepuk tangan kegirangan. Dia sudah tidak sabar menghabiskan waktunya di funfair bersama orang tuanya ini. Kyuhyun sudah berjanji akan menjadi ‘appa’nya nanti.

Suasana kemudian berubah hening setelah mobil mulai melaju. Gadis kecil itu melebarkan kedua tangannya dan menutup matanya, membiarkan angin menerpa tubuh mungilnya. Tapi kemudian dia membuka sebelah matanya untuk mengintip apa yang sedang dilakukan Kyuhyun. Pria itu tidak bicara apa-apa, wajahnya juga tertekuk dan terlihat sedikit gelisah.

“Ahjussi? Ahjussi kenapa diam?” tanya Joon-ah heran. Hari ini ‘appa’ dan eommanya kelihatan tidak semangat sekali.

“Aku tidak apa-apa, Joon-a-yah. Aku hanya terlalu senang.. jadi bingung mau bicara apa.” Kyuhyun mengusap rambut putrinya dengan tangan kiri yang semula dia gunakan untuk menyetir sambil memaksakan senyum„Ö° mencoba menyembunyikan kegelisahannya dan suasana hatinya yang sebenarnya sangat kacau.

*

Joon-ah tidak bisa menahan rasa senangnya ketika mereka berjalan beriringan masuk kedalam funfair; Kyuhyun menggandeng tangan kirinya sementara Hyerin menggandeng tangan kanannya. Ini adalah hari pertama gadis kecil itu punya ‘orang tua’. Rasanya sangat menyenangkan berada ditempat seindah ini bersama orang tuanya. Ini adalah mimpinya dari dulu. Joon-ah memperhatikan berbagai wahana di tempat ini yang sebagian besar berwarna pastel dengan terkagum-kagum.

“Berarti sekarang Joon-a sudah punya appa dan eomma, ya?” tanya Joon-ah riang.

Hyerin tersenyum simpul, mengusap kepala putrinya. “Iya, Joon-ah. Untuk hari ini saja, ingat.”

Langkah Joon-ah terhenti ketika mereka melewati wahana carousel. Kyuhyun dan Hyerin ikut berhenti dan menoleh kearah carousel yang diperhatikan putri mereka.

“Joon-a mau naik itu?” tanya Kyuhyun yang langsung dijawab dengan anggukan cepat. Pria itu segera membeli karcis dan menuntun mereka naik keatas wahana.

“Appa, naikkan eomma ke kudanya, dong!” seru Joon-ah„Ö° membuat Kyuhyun mengerutkan alis. “Lihat, ahjussi itu juga menaikkan anaknya dan eommanya” tambahnya lagi sambil menunjuk kearah pria yang sedang membantu istrinya naik keatas ‘kuda’ dengan susah payah.

“Eo-Eomma bisa sendiri„Ö°” Hyerin berjengit begitu merasakan ada yang mengangkat tubuhnya dari belakang. Gadis itu menoleh dan jantungnya berdegup sangat kencang ketika menyadari Kyuhyun sedang berusaha menaikkannya ke ‘kuda’nya. Pria itu sejenak tersenyum pada Hyerin yang menatapnya dengan pipi memerah.

“Sekarang giliran Joon-a.” Kyuhyun meninggalkan Hyerin tanpa menyadari ‘efek’ yang ditimbulkannya, kemudian membantu gadis kecilnya naik sebelum akhirnya dia naik ke ‘kuda’nya sendiri.

Kyuhyun dan Hyerin tak sengaja saling melempar senyum begitu melihat putri mereka yang tak bisa berhenti tertawa begitu carouselnya mulai bergerak turun naik dan memutar. Tubuh mungilnya sampai gemetaran saking senangnya.

Setelah beberapa menit yang membahagiakan itu, akhirnya carouselnya berhenti bergerak dan Kyuhyun membantu Joon-ah untuk turun dengan hati-hati.

“Selanjutnya mau naik apa?” tanya Kyuhyun pada Joon-ah yang berjalan mendahuluinya.

“Itu!” jawab Joon-ah cepat, telunjuknya yang mungil menunjuk kearah ‘istana’ besar yang terbuat dari balon.

Kyuhyun mengangguk dan menggiring gadis kecil itu kedalam sana. Joon-ah tampak sangat senang karena didalamnya banyak permainan yang bisa dicobanya seperti perosotan, mandi bola dan lain sebagainya.

“Kami tunggu disini ya!” kata Hyerin keras sambil melambai pada Joon-ah yang sudah berada didalam. Gadis itu berdiri disebelah Kyuhyun yang juga memperhatikan putrinya dari kejauhan. Mereka tidak bicara apapun dan fokus mengawasi putri mereka, tapi akhirnya Kyuhyun menyadari gadis itu yang tampak sedang menerawang jauh„Ö° dan bukannya memperhatikan putri mereka. Wajahnya juga tampak sedih.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun dingin„Ö° menahan keinginan untuk bertanya ‘kau baik-baik saja?’

Hyerin mendegus, pura-pura tidak mengerti. “Apanya?”

Kyuhyun menatap gadis disebelahnya itu dengan tajam. “Aku tahu ada sesuatu yang terjadi padamu. Sejak tadi kau muram begitu.”

Hyerin terdiam sejenak. Apa dia harus menceritakannya pada Kyuhyun?

“Sebenarnya..” Hyerin menghela nafas, menatap putrinya yang sedang bermain dari kejauhan dengan hampa.

“Sejak kemarin aku bertemu dengan Nyonya Na.”

Mata Kyuhyun melebar. Apa Na Yoorim mengatakan sesuatu pada Hyerin? dia juga sebenarnya sudah mulai curiga sejak wanita itu mengatakan ingin membantu Hyerin.

“Pertama kali aku bertemu dengannya di supermarket. Dia membayar belanjaanku dan mengantarku pulang. Dia bilang dia sebenarnya adalah teman ibuku.” jelas Hyerin pelan.

“Dan keesokan harinya dia datang kerumahku, Dia ingin mengambilku dan Joon-a.”

Kyuhyun terperangah. sejenak mengira pendengarannya keliru. Gadis itu mengatakan Na Yoorim ‘mengambilnya’ seakan-akan dirinya dan putrinya adalah barang dan bukannya manusia. “M-Mengambilmu.. Kau bilang?”

Hyerin mengangguk lemah, matanya mulai berkaca-kaca. “Dia bilang sebenarnya ini pesan ibuku. Sebelum meninggal ibuku berpesan jika suatu hari dia bertemu denganku, aku sebaiknya ikut dengannya. Tapi tentu saja aku tidak mau, aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku juga belum terlalu mengenalnya.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Ini benar-benar tidak masuk akal. Sedekat itukah hubungan Nyonya Na dengan ibunya Hyerin sampai menyuruhnya ikut dengannya? Nyonya Na memang pernah bilang padanya bahwa dia adalah teman ibunya Hyerin yang sudah meninggal; tapi sekarang Kyuhyun jadi curiga, bahwa mungkin saja Nyonya Na hanyalah seseorang yang disuruh ibunya untuk mengambil Hyerin. Tapi.. bagaimana bisa?

“Dia akhirnya pergi dari rumah kami dan meminta maaf. Tapi tetap saja aku takut.. karena Lee Ahjumma juga mengusirnya dengan cara yang tidak baik. Aku takut kalau dia masih ingin mengambilku..” lanjut Hyerin dengan suara gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Kyuhyun menatap Hyerin yang sekarang kelihatan sangat gelisah dan ketakutan. Diam-diam mencoba menyentuh bahu gadis itu dan mengusapnya pelan. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Karena dia tidak mungkin menghapus air mata gadis itu seperti yang dulu dia lakukan. Dia sudah tidak pantas untuk melakukannya.

“Hey, Tenanglah. Kau akan baik-baik saja. Aku akan awasi dia. aku tidak akan membiarkannya mengambilmu.” ujar Kyuhyun.

Hyerin tersenyum sendu. Mendengar perkataan Kyuhyun barusan membuat suasana hatinya sedikit lebih tenang. Pria itu terdengar begitu sungguh-sungguh dan entah kenapa dia percaya yang dikatakan pria itu kali ini bukan sekedar omong kosong.

“KYAAA!!”

Hyerin dan Kyuhyun terbelalak begitu mendengar jeritan putrinya.

“J-JOON-A-YA!” Kyuhyun berlari masuk kedalam wahana dan menghampiri Joon-ah yang sekarang duduk sambil memegangi kakinya. Sepertinya kakinya terkilir. Dia jatuh ketika berusaha memanjat jaring-jaring yang ada disana.
“D-Dimana lagi yang sakit?” tanya Kyuhyun cemas, berlutut didepan putrinya dan memperhatikan bagian tubuhnya yang lain„Ö° memastikan bahwa hanya kakinya yang terluka.

Hyerin ikut berjalan menghampiri Joon-ah dengan tergesa-gesa. Wajahnya jadi pucat karena panik„Ö° takut sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya. “Ayo kita pulang saja, Joon-ah.”

“Tidaak, Joon-a tidak mau pulang eomma! Joon-a tidak apa-apa!” Joon-ah menggeleng cepat, berusaha meyakinkan ibunya dia baik-baik saja.

“Tidak apa-apa, biar aku yang gendong Joon-a.” kata Kyuhyun seraya mengangkat tubuh mungil Joon-ah, putrinya itu kontan melingkarkan kedua kakinya dengan perlahan di pinggang ayahnya; sementara tangannya memeluk ayahnya erat-erat agar tidak jatuh. Hyerin yang berdiri disamping Kyuhyun mengusap rambut Joon-ah, Gadis kecil ini sangat kuat. Dia bahkan tidak menangis seperti anak-anak pada umumnya. Dia hanya menangis jika ada sesuatu yang menyangkut ayahnya atau keluarganya.

“Hey, coba lihat itu!” seru Kyuhyun, telunjuknya yang panjang menunjuk kearah stall wild wild west yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Wild Wild West adalah permainan tembak-tembakan yang berhadiah boneka jika menang. Mata Joon-ah langsung berbinar-binar melihat boneka minnie mouse berukuran besar yang digantung didepan stall.

“Lihat, appa akan mendapatkannya untuk Joon-a. Joon-ah sama eomma dulu, eoh?” kata Kyuhyun sambil ‘menyerahkan’ Joon-ah kepada ibunya.

Kyuhyun membayar koin untuk dua kali bermain, lalu pemilik stall memberikannya pistol mainan. Pria itu tampak sangat fokus membidik target dan kemudian menembaknya. Tembakan pertama tidak berhasil, maka dia mencobanya lagi dan kembali gagal. Tapi pria itu tidak mau menyerah, dia terus-terusan membeli koin lagi meskipun sudah gagal sampai yang keenam kalinya.

Hyerin hanya menatap Kyuhyun dengan iba. Ini tidak mungkin berhasil. Pemilik stall nya curang. Entah trik apa yang dia pakai hingga tidak ada yang bisa menembak sasaran.

Kyuhyun menoleh kearah Joon-a yang memandanginya sambil memelas. “Tenang, Joon-a-ya, Aku pasti berhasil.” katanya yakin seraya memberikan uang lagi pada sang pemilik stall. Mencoba peruntungan yang ketujuh kalinya. Kali ini dia membidik dengan lebih hati-hati dan penuh perhitungan, Tapi usahanya lagi-lagi gagal.

Pria itu mengerang kesal. “Baiklah, sepertinya aku harus menggunakan ‘kekuatan’ku.”

Mata Joon-ah melebar. “Neh? Appa punya ‘kekuatan’?”

“Iya! Sekarang coba Joon-ah tutup mata dulu.” suruh Kyuhyun dan Joon-ah menurut.

Pria itu menyeret penjaga stall kebelakang arena itu dan memberinya sejumlah uang dari dalam dompetnya. “Ambil ini. Dan berikan aku bonekanya.”

Sang penjaga stall mengangguk cepat, mengambil boneka yang diinginkan Kyuhyun dan memberikannya pada pria itu. Hyerin yang melihatnya hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

“Nah, sekarang buka mata Joon-ah.” kata Kyuhyun ketika dia sudah berdiri didepan Joon-ah dengan boneka didepan wajahnya.

“Waaah! daebak!” seru Joon-ah kagum, gadis itu kontan memeluk boneka yang diberikan Kyuhyun dan mengucapkan terima kasih.

“Joon-ah senang?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan Joon-ah dan ciuman kecil dipipinya.

Pria itu kemudian mengambil Joon-ah dari dekapan ibunya dan menggendongnya. “Kalau begitu, ayo pulang. Sudah mau malam.”

Joon-ah memberontak. “Andwaeee! Joon-a tidak mau pulang!”

“Kita sudah terlalu lama disini, Joon-ah. Ayolah” kata Hyerin.

“Tidak mau!” rengek Joon-ah sambil bersembunyi dibalik pundak ayahnya.

Hyerin menghela nafas. “Kenapa, Joon-ah-ya? Kan Joon-ah sudah senang, sudah mencoba semua mainannya..”

“Joon-a masih mau bersama appa dan eomma Joon-a. Joon-a mau begini saja selamanya.” jawab Joon-ah, wajahnya terlihat memelas dan sedih.

“Tidak bisa, Joon-ah„Ö°” jawab Hyerin lemah.

“Kenapa eomma? Kenapa kita tidak bisa begini terus eomma?” tanya Joon-ah kecewa.

Hyerin menaikan alisnya menatap Kyuhyun, meminta pria itu menjawab pertanyaan putrinya. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menjelaskan yang sebenarnya pada Joon-ah?

“Siapa bilang kita tidak bisa bersama-sama terus Joon-a-ya?” Kyuhyun tertawa kecil, tangannya membelai pipi putrinya dengan lembut.

“Jangan khawatir. aku akan mencari cara agar kita terus bersama. Tapi.. Joon-ah bersabar sedikit, okay? Aku tahu ini akan sedikit sulit, tapi aku pasti akan segera memperbaikinya.”

Hyerin terkesiap, otaknya gagal mencerna maksud dari kata-kata Kyuhyun. Apa maksudnya?

“Ayo kita beli eskrim, baru setelah ini kita pulang, oke?” ujar Kyuhyun. Joon-ah tersenyum dan mengangguk kecil, mendadakan bahwa ia setuju.

Pria itu berjalan ke kios eskrim untuk memesan tiga cone eskrim; eskrim coklat-stroberi dengan chocochip diatasnya untuk Joon-ah, eskrim stroberi untuk Hyerin dan eskrim coklat untuknya. Mereka kemudian duduk di bangku kosong sambil memandangi matahari yang mulai terbenam, tempat ini mulai gelap tapi detik kemudian lampu-lampu wahana dinyalakan„Ö° membuat tempat ini terlihat sangat indah.

Tak bisa dipungkiri, Hyerin merasa sangat senang dan bahagia hari ini. Bukan karena dia dibawa ke tempat yang bagus, Tapi karena ini pertama kalinya dia menghabiskan waktu dengan putrinya dan Kyuhyun, ayah dari gadis kecil itu. Ini adalah impiannya dari dulu. Yah, meskipun keadaannya sudah berbeda.

“K„Ö°Kyuhyun-ssi.. Apa ini tidak terlalu berlebihan..?” tanya Hyerin sambil menunduk, menatap eskrimnya dengan senyum bodoh.

Kyuhyun mengerutkan alis. “Apanya?”
Hyerin menyesap ujung eskrimnya dengan pelan. “Kau membawa kami dengan mobil pribadimu.. lalu sudah menghabiskan banyak uang hari ini untuk Joon-ah..”

“Aku akan melakukan apapun untuk membuat Joon-ah bahagia.” bisik Kyuhyun di telinga Hyerin„Ö° membuat gadis itu bergidik.

Dan tentu saja untuk membuatmu bahagia juga, Ahn Hyerin. Batin Kyuhyun.

Hyerin tersenyum simpul, melirik kearah Joon-ah yang sedang menikmati eskrim sambil sesekali tersenyum pada ayahnya yang sedang memangkunya. Dia tidak pernah melihat Joon-ah sebahagia ini sebelumnya; Joon-ah lebih sering diam dan murung karena merasa berbeda dengan anak-anak lain. Selama ini gadis kecil itu juga hampir tidak pernah keluar rumah; Hyerin tidak pernah menyisakan gajinya untuk mengajak putrinya itu jalan-jalan seperti ini. Gajinya langsung habis untuk membayar sekolah Joon-ah dan membantu membeli keperluan sehari-hari untuk Nyonya Lee„Ö° yang telah merawatnya dan Joon-ah selama ini. Tapi kemudian kehadiran Kyuhyun membuat Joon-ah menjadi gadis yang ceria.

*

Cho Kyuhyun menghentikan mobilnya didepan rumah yang gelap itu„Ö° yang tak lain adalah rumah kediaman keluarga Lee. Pria itu sendiri yang menawarkan Hyerin untuk mengantarnya dan putri mereka sampai rumah dan gadis itu menyetujuinya.

“Kenapa lampunya mati semua? Tidak ada orang?” tanya Kyuhyun bingung melihat tidak ada lampu yang menyala di rumah itu.

“Dirumah.. sedang tidak ada orang. Donghae oppa bilang dia menemani Lee Ahjumma arisan malam ini.” jelas Hyerin.

Pria itu melirik Joon-ah yang tertidur lelap di pangkuan Hyerin sejenak, gadis kecil itu pasti lelah. “Kalau begitu aku bawa Joon-ah masuk, ya?” tanya Kyuhyun yang hanya dijawab dengan anggukan pelan gadis itu.

Setelah persetejuan dari Hyerin, Kyuhyun langsung menggendong Joon-ah dan membawanya keluar mobil„Ö° sementara Hyerin membuka pintu rumah dengan kunci cadangan.

“Kamarnya disini.” Hyerin menuntun Kyuhyun masuk kearah kamar yang bernuansa pastel itu dan membiarkan Kyuhyun menidurkan putrinya diatas tempat tidur berukuran sedang. Pria itu mencium kening putrinya yang sedang terpejam, lalu melangkah keluar dari kamarnya dan berhenti di teras.

Hyerin mengerutkan alisnya. “Ada apa, Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun maju satu langkah hingga mereka hanya berjarak beberapa senti„Ö° membuat gadis itu tersentak kaget dan refleks melangkah mundur hingga hampir terhuyung kebelakang, tapi Kyuhyun segera menahan pinggang gadis itu agar tidak jatuh. Hyerin menundukan kepalanya, menyembunyikan rona merah dipipinya yang sudah terlanjur dilihat oleh Kyuhyun.

“Ahn Hyerin, Bolehkah.. aku memelukmu?”

Hyerin tertegun. Dia tidak bisa menjawab apapun, hanya mematung ditempatnya dan menatap Kyuhyun didepannya dengan mata berkaca-kaca; yang entah mengapa terlihat seperti membiarkan pria itu mencoba melakukannya. Kyuhyun menutup matanya. Ya tuhan, dia tidak mampu lagi menahan keinginannya untuk memeluk gadis ini. dia juga tidak ingin orang lain yang melakukannya.

Dan pada akhirnya Kyuhyun menarik gadis itu kedalam pelukannya. Dia tidak perduli lagi dengan kenyataan bahwa dirinya adalah pria brengsek atau egois yang tidak pantas untuk memeluk gadis ini. Perasaan ini sudah sangat menyiksa dan tak terbendung lagi. Gadis itu juga tidak menolaknya. Maka Kyuhyun memanfaatkan kesempatan itu baik-baik untuk memeluk gadis itu lebih erat dan membelai rambut panjangnya; menghirup aroma shampoo strawberry yang sudah lama sekali tidak memenuhi rongga penciumannya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa dia sangat merindukan aroma ini. Dia merindukan gadis ini. Dia merasa seperti ingin mati setiap mengingat betapa tololnya dia telah menyia-nyiakan gadis ini. Seharusnya mereka tidak pernah berpisah. Seharusnya dia bisa memeluk gadis ini setiap hari.

“Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan putri kita.” ucap Kyuhyun pelan, dia bisa merasakan tubuh gadis itu menegang didalam dekapannya. Dan beberapa detik kemudian dia melepas pelukannya dengan berat hati.

“A-Aku juga.. berterima kasih telah mengajak Joon-ah jalan-jalan.” kata Hyerin malu, perlahan mengadah menatap Kyuhyun yang lebih tinggi darinya. Pria itu tersenyum geli melihat semburat merah di pipi Hyerin yang kontras dengan kulit putih susunya. Rasanya dia jadi ingin menciumnya seperti yang selalu dia lakukan dulu. Tapi tentu saja, Kali ini dia harus bisa menahan keinginan yang satu itu.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jika ada sesuatu, hubungi aku.” ucap Kyuhyun seraya menepuk bahu gadis itu yang sekarang menatapnya tanpa berkata apapun.

*

“Ahyoung! Ahyoung, bangun!!” Sekyung menepuk-nepuk pipi putrinya yang masih terlelap di ranjangnya. Ahyoung mengerjap, sayup-sayup menatap ibunya dengan bingung.

“Ayo kita pergi, Ahyoung. Kita harus segera pergi dari sini.” kata Sekyung pelan, sesekali melihat belakang, berjaga-jaga siapa tahu ibu mertuanya melihat mereka.

Gadis kecil itu bangkit dari ranjangnya sambil mengusap-ngusap matanya. “Pergi? Kita mau kemana, eomma?”

“Kau akan tahu nanti. Ayo cepatlah, Ahyoung.” ujar Sekyung, tangan kananannya menarik tangan Ahyoung dan yang satunya lagi untuk menyeret koper berukuran besar.

“Kita mau ke tempat papa ya, eomma? Bagaimana kalau appa marah lagi?” tanya Ahyoung sambil berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah ibunya meninggalkan kamar bernuansa merah muda itu.

“Ingat ya, mulai sekarang jangan panggil dia appa. Dia bukan appamu. Dia sudah tidak peduli lagi pada kita!” gretak Sekyung membuat putrinya semakin tidak mengerti. Gadis itu kemudian membuka pintu ruang tamu tapi detik berikutnya dia tertegun ketika mendengar suara langkah dibelakangnya.

“Lho, Sekyung-ah?”

Sekyung berbalik, matanya membelalak menatap Nyonya Cho dibelakang mereka seperti melihat hantu. Tidak, lebih mengerikan malah. “E-Eommonim„Ö°”
“Kalian mau kemana, bawa koper pagi-pagi begini?” tanya Nyonya Cho„Ö° membuat Sekyung hampir saja terkena serangan jantung.

“Ah,” Sekyung tersenyum kaku. Apa yang harus dia katakan? “Aku ingin mengantar Ahyoung ke kebun binatang. Hari ini dia ada tamasya kesana.” jelasnya cepat.

“Ah benarkah? Kalau begitu hati-hati, ne?” Nyonya Cho tersenyum lebar, kemudian berlutut dan mengecup Ahyoung yang kebingungan. “Semoga perjalanan kalian menyenangkan.” ucap wanita itu. Sekyung mengangguk, bibirnya tertarik kesamping„Ö° membentuk senyuman miring yang sangat, sangat kecil.

*


Privacy Corporation, 12:35PM

“Tolong dihitung, ya.” kata Hyerin sopan setelah menyerahkan tray makanannya pada gadis penjaga kantin, tapi kemudian gadis penjaga kasir itu menatap Hyerin dengan alis berkerut.

“Tidak sekalian nasinya juga? Nona makannya sedikit sekali.” komentar gadis kasir itu iba ketika melihat yang dibeli Hyerin dan menghitungnya. Dari kemarin dia melihat Hyerin hanya membeli sepotong kue dan air mineral untuk makan siangnya.

“Ah itu saja. Aku memang sedang diet.” jawab Hyerin berbohong, sebenarnya nafsu makannya memang terbang keluar beberapa hari terakhir ini. Banyak hal tidak menyenangkan yang berkelebat di pikiran dan hatinya sehingga berpengaruh dengan nafsu makannya. Terutama saat Sekyung datang ke kantor ini hanya untuk mengintimidasinya.

“Jaga kesehatanmu, nona. Kau sangat cantik, jangan sampai kurus, sayang kan.” kata gadis itu, lalu bergidik menyadari kalimatnya yang lancang dan buru-buru menutupinya. “Ah, totalnya 500 won.”
Hyerin tersenyum geli, lalu memberikan uang pada gadis kasir itu dan menerima traynya.

“Terima kasih” ucap Hyerin seraya tersenyum pada gadis kasir yang sekarang membungkuk kecil padanya.

Gadis itu kemudian berjalan ke salah satu meja kantin yang kosong dan meletakkan tray makanannya diatas meja„Ö° namun sekumpulan wanita yang duduk di meja sebelah menatapnya dengan sinis.

“Maaf, bangku ini ada orangnya.” kata salah satu wanita itu dingin„Ö° yang entah kenapa lebih terdengar seperti ‘maaf kau tidak bisa duduk didekat kami’. Bahkan sekarang wanita yang lain menaruh tas nya di meja itu untuk menegaskan kalimat temannya barusan.

Hyerin mengerenyit. “Neh? Maaf, kalau begitu aku akan pindah.” ujar Hyerin segan, kemudian mengambil tray nya kembali dan mencari meja yang kosong disekitarnya.

Hyerin akhirnya memutuskan untuk meletakkan tray nya di meja kecil di pojokan dekat jendela; disini hanya terdapat dua bangku yang saling berhadapan„Ö° yang sepertinya disediakan untuk dua orang. Gadis itu duduk di salah satu bangku itu dan menghela nafas berat, menatap shortcake stroberi yang dibelinya dengan tidak berselera. Apa semua orang benar-benar membencinya?

“Gara-gara dia Sekyung keluar dari perusahaan.”

Deg. Hyerin tertegun mendengar suara sekumpulan wanita tadi. Jadi.. Sekyung keluar? gara-gara dirinya? Bagaimana bisa?

“Benarkah? Jadi gara-gara dia?”

“Ya siapa lagi memangnya? dia menuduh Sekyung mencuri idenya. Sepertinya dia memang ingin menyingkirkan Sekyung dari sini agar bisa dekat dengan Tuan Cho. Benar-benar tidak tahu malu.”

Tidak. Kenapa mereka punya pikiran seperti itu?

“Dia juga pernah membawa anak ke kantor. Padahal dia karyawan baru disini. Sepertinya dia janda. Sudah jelas dia ingin mencuri perhatian Tuan Cho.”

“Gadis itu benar-benar tidak tahu diri. Dia pikir Tuan Cho mau dengannya?”

“Mana mungkin! Jangankan Tuan Cho, aku yakin satu perusahaan tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya.”

“Maaf aku terlambat.”

Hyerin terkesiap mendengar suara lain yang lebih berat diantara mereka„Ö° tidak, suara itu berasal dari depannya. Dan sekarang dia mendengar suara bangku didepannya yang digeret kebelakang.

Gadis itu menengadah, melihat siapa yang berada didepannya dan detik kemudian jantungnya berdegup kencang. ‘Tuan Cho’ tengah tersenyum padanya, meletakkan tray makanan di meja dan duduk didepannya tanpa dosa. Suasana kantin yang ricuh seketika menjadi hening. Sekumpulan wanita tadi menatap mereka dengan ekspresi seperti baru saja disambar petir.

“S-Sajangnim?” gumam Hyerin bingung, Terlambat.. katanya? Memangnya dia punya janji dengan pria ini?

“Sssh.” Kyuhyun meletakkan telunjuknya didepan bibirnya, menyuruh gadis itu untuk mengecilkan suaranya. “Kuharap kau tidak keberatan makan siang denganku.” bisiknya pelan.

Hyerin tidak menggubris, hanya menunduk sambil memotong-motong shortcakenya dengan gugup. Apa pria ini sengaja membuat orang-orang itu kesal?

“Bagaimana keadaan putri kita sekarang?” tanya Kyuhyun keras„Ö° membuat sekumpulan wanita tadi kembali menatap mereka dengan tidak percaya.

“A-Apa?” tanya Hyerin kaget mendengar pertanyaan frontal itu. Baiklah, sepertinya pria ini memang sengaja melakukannya.

Kyuhyun menyendok nasi diatas piringnya lalu memakannya dengan cuek. “Ya, dia sudah baikan? Kemarin kan dia jatuh..”

“Iya.. dia sudah baikan.” Hyerin menggigiti shortcakenya dengan sedikit salah tingkah, matanya melirik orang-orang yang masih memperhatikan mereka dengan mulut terbuka lebar. Uh-Oh, Tampaknya setelah ini dia akan mendapat sindiran lebih sadis lagi. Tapi disisi lain Hyerin juga merasa puas telah membuat mereka geram.

“Syukurlah kalau begitu.” ucap Kyuhyun.
Hyerin tidak berkomentar apapun, setelah itu mereka terdiam beberapa saat dan melanjutkan makannya masing-masing. Tapi gadis itu berencana menanyakan sesuatu yang sedari tadi sangat ingin ditanyakannya setelah menghabisi kuenya.

“Umm, Sajangnim..” kata Hyerin pelan, berusaha sekecil mungkin agar tidak ada yang mendengarnya.

“Ng?” Kyuhyun berhenti dari kegiatan makannya sejenak dan memperhatikan gadis itu.

“Kudengar Sekyung-ssi keluar dari perusahaanmu. Apakah itu benar?”
Kyuhyun terperangah. Tak sengaja menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Rasanya seperti ada yang menghujam jantungnya setiap mendengar nama itu.

“Maaf, L-Lupakan saja..” sergah Hyerin menyadari ekspresi Kyuhyun yang tak diduganya.

Kyuhyun tersenyum pahit, lalu melanjutkan makannya. Pria itu benar-benar tidak menjawab pertanyaannya. Hyerin terenyuh, memperhatikan Kyuhyun yang sekarang tampak tidak berselera.

Beberapa menit kemudian pria itu menyelesaikan makanannya dan suasana kantin sudah sepi, sekumpulan wanita yang menyindirnya tadi sudah pergi entah kemana.

“Jangan pernah dengarkan omongan orang-orang. Itu hanya omong kosong. Mereka tidak tahu apa-apa tentangmu.” kata Kyuhyun, menyunggingkan senyum miringnya„Ö° kemudian bangkit dari kursinya dan melengos begitu saja.

Hyerin masih menatap Kyuhyun dengan curiga. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun dan Sekyung? Apapun itu, semoga saja tidak berhubungan dengan dirinya.

*

“Sebentar lagi eomma pulang, Joon-ah-ya. Eomma sedang membeli susu untuk Joon-ah.” kata Hyerin pada ponselnya, tangan kanannya memegang ponsel sementara tangan yang sebelahnya lagi memegang kantong belanjaan yang cukup berat.

Gadis itu bermaksud berjalan keluar toko kecil itu tapi tiba-tiba dia merasakan seseorang dibelakangnya menabrak punggung kirinya dengan sangat keras„Ö° hingga membuatnya terhuyung kedepan dan semua belanjaannya jatuh berserakan di lantai.

“Aduh, aku benar-benar minta maaf..”

Hyerin sedang memungut kembali belanjaannya ketika mendengar suara wanita didekatnya. Gadis itu mengadah keasal suara wanita yang terkesan dibuat-buat itu, dan detik kemudian dia terkejut melihat Nyonya Cho yang tengah berdiri didepannya. Sudah sangat lama Hyerin tidak melihat mantan mertuanya ini dan dia tidak banyak berubah; masih kelihatan luar biasa mencolok dengan riasan wajah yang tebal, dia juga mengenakan banyak perhiasan di beberapa bagian tubuhnya dan tentu saja„Ö° jubah bulu binatang favoritnya yang hanya dia dan tuhan yang tahu berapa harganya.

Hyerin bangkit dengan susah payah dan kemudian tersenyum segan pada wanita itu. “Eommonim, apa kabarmu?”

“Ah,” Nyonya Cho memaksakan senyum, lebih kelihatan tidak begitu senang melihat gadis itu. “Kebetulan sekali kita bertemu. bisa bicara sebentar?”

*

Ahn Hyerin menyetujui ajakan Nyonya Cho untuk duduk didepannya, di sebuah taman yang tak jauh dari toko kecil tadi. Hyerin tidak mengerti kenapa tiba-tiba Nyonya Cho ingin berbicara padanya di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini. Setahunya tidak ada yang perlu dibicarakan karena mereka sudah sangat lama tidak ada hubungan apa-apa lagi.

“Ada apa tiba-tiba, eommonim?” tanya Hyerin sopan.

Nyonya Cho mendengus. “Eommonim? Kau lupa siapa dirimu sekarang, Ahn Hyerin?” tanyanya dingin, membuat Hyerin bergidik kaget. Uh-Oh, sepertinya Nyonya Cho memang sengaja menjauh dari keramaian karena ingin membahas topik yang mungkin akan menarik perhatian orang-orang.

“M-Mianhamnida, kalau begitu.. Nyonya Cho. Apa ada.. yang perlu kita bicarakan?” tanya Hyerin bingung.

“Aku minta padamu tolong berhenti berusaha mendekati Kyuhyun lagi.”
Hyerin tertegun.

“A-Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak pernah mendekati Kyuhyun-ssi„Ö°”

“Jangan pura pura tidak mengerti!! Kemarin tetanggaku bilang dia melihatmu pergi dengan putraku bersama anakmu ke funfair. Dan yang lebih parah lagi, kalian memakai mobil pemberian ayah Kyuhyun yang bahkan tidak pernah dia pakai!!” cecar Nyonya Cho, membuat Hyerin kembali tertegun. “Memangnya kau tidak tahu dia sudah punya istri dan anak? Yang seharusnya menikmati semua itu istri sahnya dan anaknya, bukan kau dan anakmu!!”

Nyonya Cho menghela nafas frustasi, memijat pelipisnya yang pening. “Sudah kuduga akhirnya jadi begini. Dari awal aku sudah tahu kalian pasti akan berhubungan lagi. Seharusnya aku tidak membiarkan Kyuhyun menyuruhmu kerja ditempatnya.”

“A-Aku benar-benar minta maaf, Eommonim. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mendekati Kyuhyun-ssi atau mengambil hak keluarganya. Dia hanya ingin bertemu dengan putrinya.” jelas Hyerin, tak berani menatap Nyonya Cho yang sedang menatapnya dengan kilat kemarahan dimatanya.

“Putrinya?” desis Nyonya Cho. “Benarkah anakmu itu putrinya? atau kau hanya mengaku-ngaku bahwa itu anak Kyuhyun agar dia mau mengajak anakmu jalan jalan dan memberi harta bendanya pada kalian?”

“Kau salah, Eommonim! Cho Joon-ah itu memang benar-benar putrinya, dia cucumu, Eommonim! aku bisa membuktikannya jika perlu!” sergah Hyerin.

“Oh tidak perlu, aku juga tidak begitu perduli.” Nyonya Cho menggeleng cuek, membenarkan jubah bulu binatang kebanggaannya. “Pokoknya aku tidak mau tahu, Ahn Hyerin. Hari ini juga, tolong segera mengundurkan diri dari perusahaan putraku. Dan jangan pernah temui putraku lagi. Apapun alasannya.”

“A-Apa?”

Hyerin menatap Nyonya Cho dengan terkejut„Ö° tidak percaya wanita itu menyuruhnya melakukan semua itu. Dia benar-benar belum siap jika harus mengundurkan diri dari perusahaan Kyuhyun. Karena itu artinya dia harus menunda impiannya sebagai desainer interior lagi dan dia harus mencari pekerjaan yang baru lagi. Dan disisi lain dia juga tidak ingin memisahkan Joon-ah dari ayahnya. Gadis itu baru saja menemukan kebahagiannya. Apa Hyerin tega merenggutnya lagi?

“T-Tapi, Eommonim.. aku benar-benar hanya berkerja disana, tidak pernah ada maksud untuk mendekati Kyuhyun-ssi! dan aku juga tidak mungkin memisahkan mereka, Eommonim. Kyuhyun-ssi juga berhak untuk menemui Joon-ah. Walau bagaimanapun, Joon-ah tetap adalah putrinya.” kata Hyerin dengan wajah memelas, meskipun dia tahu Nyonya Cho tidak mungkin iba padanya. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkannya.

“Aku sudah bilang aku tidak perduli!!” bentak Nyonya Cho kasar. “Jauhi putraku. Atau aku tidak segan-segan melakukan cara yang lebih kasar padamu.”

Nyonya Cho bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju mobil mercedesnya yang diparkir didepan taman„Ö° meninggalkan Hyerin yang masih menatapnya dengan nanar.

“Eommonim, Tunggu!” teriak Hyerin, berlari menyusul Nyonya Cho dan menarik lengan wanita itu. “Aku akan keluar dari perusahaan Kyuhyun, Tapi kumohon, izinkan Kyuhyun bertemu dengan putrinya, eommonim! Aku tidak ingin memisahkan mereka!”

Nyonya Cho menepis tangan Hyerin. “Kubilang tidak!! Apa kau tidak mengerti bahasa manusia? Minggir kau!”

“Eommonim„Ö°”

“KUBILANG MINGGIR!!” Nyonya Cho mendorong Hyerin hingga gadis itu jatuh ke aspal. Wanita itu mendengus sinis, sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat gadis itu jatuh dan merintih kesakitan.

“HYERIN-AH!!!”

Nyonya Cho dan Hyerin sama-sama menoleh keasal suara dan menemukan wanita paruh baya dengan kaos oblong berlari menghampiri mereka.

“Lee Ahjumma?” desis Hyerin sambil menahan sakit di betisnya. “K-Kenapa Ahjumma ada disini?”

“Aku berniat menyusulmu tadi, Kau tidak apa-apa?” tanya Nyonya Lee cemas seraya menolong Hyerin untuk berdiri dengan hati-hati, matanya melirik Nyonya Cho dengan tatapan membunuh.

“Kau pikir apa yang kau lakukan?” bentak Nyonya Lee.

“Maaf, tapi siapa dirimu tiba-tiba ikut campur urusan kami?” tanya Nyonya Cho bingung. “Kau bertingkah seperti kau ibunya saja. padahal Ibunya saja membuangnya.”

Hyerin terkesiap. Rasanya seperti ada yang menghujam jantungnya dengan sangat keras. Dia tahu sejak dulu Nyonya Cho memang tidak begitu suka padanya, Tapi dia benar-benar tidak menyangka wanita itu tega menjatuhkannya secara terang-terangan seperti itu.

Nyonya Lee menggertakan giginya, sangat tidak terima dengan perlakuan Nyonya Cho pada Hyerin. “Aku memang bukan ibunya tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti gadis ini.”

“Ahjumma..” gumam Hyerin parau.

“Jadi kau mantan mertuanya ya? Kupikir kau orang kaya yang berpendidikan dan bermoral. Tapi ternyata cara berterima kasihpun kau tidak pernah diajarkan. Sungguh menyedihkan.” kata Nyonya Lee tajam.

“A-Apa?” Nyonya Cho menatap Nyonya Lee dengan terkejut„Ö° tak percaya wanita asing yang berdiri didepannya ini berani merendahkannya. Apa wanita ini tidak tahu siapa yang sedang dihadapinya?

“Kau seharusnya berterima kasih pada Hyerin telah menolong putramu malam itu!! Dia hampir mati demi putramu!” seru Nyonya Lee. Dia masih ingat malam ketika Hyerin pulang ke rumah dengan perban dikepalanya dan gadis itu terpaksa menceritakan kejadian itu padanya.

“Menolong putraku, kau bilang?” Nyonya Cho mendengus meremehkan, menatap kearah Hyerin dengan penuh dendam. “Dia hanya ingin mencuri perhatian putraku! Kau tidak lihat itu?”

“Tapi aku tidak heran, biasanya seseorang yang dibesarkan sebagai pelacur memang suka merusak rumah tangga orang lain.”

Hyerin kembali terkejut dengan sindiran tajam Nyonya Cho. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat„Ö° darah dibawah kulitnya mulai mendidih. Kali ini wanita itu benar-benar melewati batas yang ada.

“Jaga bicaramu, Nyonya.” sergah Nyonya Lee, sejenak menatap Hyerin yang mematung ditempatnya„Ö° tak tahu harus berbuat apa. “Aku sangat mengenal Hyerin, aku tahu betul dia seperti apa. Yang kau tuduhkan pada Hyerin sama sekali tidak benar. Suatu saat kau akan menarik kata-katamu dan menyesalinya.”

Hyerin menatap Nyonya Lee dengan mata berkaca-kaca. “Ahjumma„Ö°”

“Ayo pergi, Hyerin-ah.” Nyonya Lee berbalik arah, menggandeng tangan Hyerin dan berjalan meninggalkan Nyonya Cho yang tak bergeming dan masih menatap mereka dengan tidak percaya.

“A-Apa-apaan itu?” gumam Nyonya Cho dengan bibir bergetar. Masih tidak terima dengan kenyataan bahwa orang yang tidak se ‘level’ dengannya berani melawannya.

“Menyesal? Menarik kata-kataku? Apa dia sedang berkhayal?”

*

“Ahjussi, kenapa eomma belum pulang juga?” tanya Joon-ah pada Donghae yang duduk dipinggir ranjangnya. Pria itu baru saja membacakannya buku cerita pengantar tidur, dia bilang ibunya pasti akan pulang setelah ceritanya selesai, tapi buktinya sampai sekarang ibunya belum pulang juga.

“Eomma akan pulang kalau Joon-ah tertidur setelah ahjussi membacakan cerita. Biasanya begitu kan?” kata Donghae seraya mencubit pelan pipi Joon-ah dengan gemas. “Jadi sekarang tidurlah, Joon-ah-ya.”

“Baiklah, Ahjussi.” Joon-ah menguap, lalu mencari posisi nyaman untuk tidur. Donghae menarik selimut bulu berwarna pink di bawah kaki Joon-ah dan menyelimuti tubuh gadis kecil itu. “Semoga mimpi indah, Joon-ah-ya.” ucap Donghae seraya mengecup kening Joon-ah.

Lee Donghae tersenyum begitu melihat gadis kecil itu terpejam dengan nafas teratur„Ö° yang menandakan dia sudah tidur. Pria itu kemudian mengembalikan buku cerita didalam lemari Joon-ah tapi tiba-tiba dia mendengar pintu rumahnya diketuk berkali-kali.

“Ya, tunggu sebentar!” sahut pria itu sambil berjalan tergesa-gesa ke ruang tamu untuk membukakan pintu.

Dan setelah pria membuka pintu, pria itu tersentak menemukan Ibunya dan Hyerin yang sedang terisak dengan wajah bersimbah air mata. Matanya sampai bengkak, sepertinya dia sudah sangat lama menangis. Ya tuhan, siapalagi yang membuat gadis ini menangis?

“Hyerin-ah? apa yang terjadi? Eomma? apa-apaan ini?” tanya Donghae cemas, menangkup wajah Hyerin dan menghapus air mata gadis itu.

“Ibunya Kyuhyun mendorong Hyerin sampai jatuh.” jawab Nyonya Lee, wajahnya terlihat sangat kesal.

Donghae menatap ibunya dengan terkejut. “Apa?”

“Mereka tidak sengaja bertemu dan Nyonya Cho langsung mengancam Hyerin dan mengintimidasinya. Hyerin berusaha berbicara baik-baik padanya, tapi dia mendorong Hyerin hingga jatuh dan terluka.” jelas ibunya.

“Dimana yang sakit?” Donghae hampir tidak mendengar penjelasan ibunya, dia lebih khawatir dengan kondisi Hyerin. “Apa kakimu sakit?” tanyanya sambil memperhatikan Hyerin dari kepala sampai kaki„Ö° mengecek bagian mana saja yang terluka.

“Aku tidak apa-apa oppa..” jawab Hyerin ketika Donghae menemukan sedikit lecet di betisnya.

“Ini harus segera diobati. Sebaiknya kau duduk dulu.” Donghae membantu Hyerin duduk di sofa dengan sangat hati-hati„Ö° seakan gadis itu benar-benar tidak bisa berjalan sama sekali.

“Tunggu sebentar.” katanya sebelum berlari kecil kearah dapur dan kembali dengan membawa kotak obat.

“Oppa, aku tidak apa-apa, itu hanya goresan kecil..” ujar Hyerin dengan suara serak karena habis menangis, memperhatikan Donghae yang sekarang sibuk meneteskan betadine di lukanya, meniup-niupnya lalu menutupnya dengan plester.

“Apanya yang tidak apa-apa?” Donghae kemudian duduk disebelah Hyerin dan memasang tampang serius. “Sekarang, ceritakan semuanya padaku.”

Hyerin tidak bergeming, hanya menatap Donghae datar dengan matanya yang bengkak dan berkaca-kaca. Pria itu menghela nafas, kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya„Ö° seperti yang biasa dia lakukan.

“Ceritakan padaku, Hyerin-ah.. Apa yang telah dia lakukan padamu?” bisik Donghae lembut, berharap dengan begitu gadis ini menjadi lebih tenang.

“Aku sudah lelah dengan semua ini, Donghae oppa..” kata Hyerin lirih. rasanya dia malah ingin menangis lagi. Kenapa dia sangat payah mengontrol emosinya?

“Aku sepertinya ingin benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan Kyuhyun. Tadi Nyonya Cho memaksaku untuk keluar dari sana, dan disisi lain.. aku juga sudah tidak tahan dengan Sekyung yang selalu mengintimidasiku.. dia mengancam akan menyebarkan masa laluku.. dan sekarang, satu perusahaan juga membenciku.” isak Hyerin. “Seharusnya aku memang tidak pernah bertemu lagi dengan Kyuhyun oppa..”

Donghae terbungkam. Rasanya seperti ada yang menamparnya dengan sangat keras. Dia tidak menyangka penderitaan gadis ini sampai separah itu. Bagaimana jika gadis ini sampai tahu bahwa dirinya juga termasuk orang yang membuatnya menderita? Ya tuhan..

Donghae mengelus punggung gadis itu, mencoba menenangkannya. “Maafkan aku Hyerin-ah.. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan jadi begini. Ini salahku juga yang tidak bisa menjagamu dengan baik..”

Hyerin menggeleng di pelukan Donghae hingga kaos pria itu basah oleh air matanya. “Ini bukan salahmu oppa. Ini salahku, Aku tetap bersikeras untuk berkerja di perusahaan Kyuhyun oppa, karena kupikir ini adalah kesempatanku untuk mewujudkan cita-citaku. Padahal aku sudah tahu resikonya seperti apa. Dan ternyata aku tidak kuat menghadapinya..”

Donghae menghela nafas, “Sudah, sudah, jangan menyalahkan dirimu lagi. Kalau begitu besok, undurkan diri dari sana. Setelah itu aku akan membantumu mencari perkerjaan baru untukmu, okay?” kata Donghae yang dijawab dengan anggukan kecil Hyerin. Gadis itu tersenyum haru, Lee Donghae benar-benar pria yang baik. Selama ini dia selalu ada disisinya, mendukungnya dan membantunya dalam segala hal. Tidak hanya itu, Donghae juga sangat menyayangi putrinya.

Bahkan dia pernah sempat berpikir, Lee Donghae pantas menggantikan posisi Cho Kyuhyun.

Tapi kenapa.. dia malah menganggap Donghae sebagai seorang ‘kakak’? Kenapa dia tidak pernah sadar bahwa sosok Donghae lebih berarti dari itu?

*

“Hei, Joon-ah-ya, jangan pegang-pegang itu!” omel Donghae pada Joon-ah yang tak bisa diam dan memegangi semua benda yang ada di mobilnya, dia jadi tidak bisa fokus menyetir karena tangan gadis itu yang usil. Hyerin yang duduk di jok belakang hanya terkekeh geli melihat Donghae yang terlihat seperti bapak-bapak yang memarahi anaknya.

Hari ini, seperti biasa; Donghae dan Hyerin mengantar Joon-ah kesekolah sebelum mereka berangkat kerja. Sebenarnya hari ini Donghae harus berangkat pagi, tapi dia rela terlambat demi mengantar Joon-ah. Dari kemarin Joon-ah merajuk karena ‘ahjussi’ nya itu jadi jarang mengantarnya ke sekolah lagi sejak pindah kantor.

“Cah, turun.” kata Donghae setelah melepas sabuk pengaman Joon-ah dan membukakan pintu untuk gadis kecil itu.
Joon-ah turun dari mobil sambil tertawa girang. “Terima kasih, Ahjussi.”

“Tunggu sebentar.” Donghae ikut turun, mengambil uang dari dalam dompetnya lalu menyelundupkannya di kantong rok Joon-ah dan berbisik pelan. “Ini uang jajan untukmu. Jangan bilang-bilang ibumu, eoh?”

“Yah, oppa!! Aku melihatnya! Jangan beri dia uang jajan! Kau mau buat dia sakit?” omel Hyerin dari dalam mobil.

Joon-ah memberengut, diam-diam melirik ibunya yang tengah menatapnya dengan sinis. “Yah.. ketahuan kan, ahjussi..”

“Biarkan saja, Hyerin-ah. Joon-ah hanya ingin membeli squishy seperti teman-temannya. Dia tidak akan jajan sembarangan.” bela Donghae.

Hyerin menatap Joon-ah dengan mata membelalak. “Benar ya, hanya beli mainan. Janji? Pokoknya jangan jajan sembarangan, eoh? Kan tadi eomma sudah membawakan Joon-ah bekal.”

Joon-ah mengangguk, tersenyum lebar pada Donghae. “Iya eomma.”

“Yasudah, masuk sana.” suruh Hyerin.

“Eomma, Ahjussi, dadah!” kata Joon-ah melambaikan tangannya sebelum berlari masuk ke dalam sekolahnya.

Lee Donghae memperhatikan gadis kecil itu dari kejauhan, sesekali melambaikan tangannya ketika Joon-ah melihatnya. Hyerin ikut turun dari mobil, kemudian berdiri disamping Donghae. Pria itu tersenyum padanya dan Hyerin merasakan dadanya berdegup kencang. Haruskah dia mengatakannya sekarang?

“Oppa..” panggil Hyerin ragu-ragu.

“Ada apa, Hyerin-ah?” tanya Donghae bingung. Hyerin menggigit bibir bawahnya, takut dengan reaksi Donghae saat mendengar perkataannya. Tapi gadis itu yakin, Donghae tidak akan mungkin mengecewakannya.

“Donghae oppa.. maukah kau menjadi ayah dari Joon-ah?”

Donghae menatap Hyerin dengan terkejut. Ini aneh. Seharusnya dia menjerit kesenangan dan histeris tapi.. kenapa sekarang dia malah merasa sangat bersalah dan bingung dengan perasaannya? Kenapa Lee Donghae? bukankah ini keinginanmu sejak dulu? Bukankah ini memang rencanamu?

Hyerin menatap Donghae dalam-dalam, meyakinkan pria itu bahwa dia sungguh-sungguh. “Aku serius, oppa.”

“Ah,” Donghae tersenyum kecut, sebenarnya kesal dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba bingung dengan perasaaannya sendiri. “Aku.. tentu saja aku mau, Hyerin-ah, tapi.. apakah kau yakin?”

Hyerin mengangguk malu. “Tadinya aku mengira oppa adalah kakakku yang baik untukku.. Tapi sekarang aku sadar, oppa juga bisa menjadi ayah yang baik untuk Joon-ah.”

Donghae hanya tersenyum, menyenderkan kepala Hyerin di bahunya dan mengusap-ngusap bahu gadis yang kini dirangkulnya itu.

*

“Jwiseonghamnida..”

Kyuhyun sedang melamun didepan laptopnya ketika mendengar suara wanita didepannya dan pintu ruangannya terbuka lebar. Pria itu menengadah, menemukan salah satu anak buah kepercayaannya yang tengah berjalan menghampirinya.

“Eunhye-ssi..”

Gadis cantik yang dipanggil Eunhye itu menyerahkan map tebal berisi kertas pada Kyuhyun. “Ini contoh rumah yang kau minta, sajangnim.”

Kyuhyun menerima map itu, mengeceknya dengan asal-asalan dan kemudian meletakkannya diatas meja. “Oke. Terima kasih.” ucapnya pada gadis itu.

“Ne, Jwiseonghamnida.” gadis itu membungkuk kecil sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangannya.
Kyuhyun menghela nafas frustasi, menatap semua yang ada didepannya dengan muak. Sesungguhnya akhir-akhir ini dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Bagaimana dia bisa berpikir jernih sementara kepalanya hampir pecah saking banyaknya masalah di yang berkelebat pikirannya? sejak kemarin dia mencoba untuk bersikap baik-baik saja tapi kali ini dia sudah tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dirinya memang sedang hancur.

“Jwiseonghamnida..”

Lagi-lagi Kyuhyun mendengar suara wanita dan pintu yang dibuka lebar. Pria itu mengerang kesal. Sebaiknya orang itu segera pergi dari sini atau dia akan kena semprot.

“Tolong tinggalkan aku sebentar!” sahut Kyuhyun setengah membentak. Dia benar-benar tidak peduli apa dan siapa yang„Ö°

“M-Maaf..”

Kyuhyun terperangah begitu melihat siapa yang diusirnya dan berjalan mundur.

“H-Hyerin?” gumam Kyuhyun, menatap gadis yang membawa map putih di tangannya itu. “M-Masuk saja..” ujarnya lagi, merasa sangat bodoh menyuruh gadis itu masuk keruangannya lagi setelah mengusirnya.

Hyerin menyunggingkan senyuman segannya yang cantik„Ö° membuat hati Kyuhyun berdebar-debar.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun dingin, lalu melirik kursi didepannya„Ö° sebagai isyarat agar Hyerin untuk duduk disitu. “Duduk.”

Hyerin mengangguk, kemudian duduk didepan Kyuhyun dengan sedikit takut. Kyuhyun menatapnya dengan dahi berkerut dan rasanya keberanian yang sudah dia kumpulkan sejak tadi tiba-tiba lenyap.

“Hye„Ö°”

“Sajangnim..” Hyerin menyerahkan map yang dia bawa tadi pada Kyuhyun„Ö° membuat kerutan di dahi pria itu semakin dalam karena bingung. “Aku.. sudah memutuskan ingin keluar dari sini.”

“Apa?”

Kyuhyun terperangah„Ö° Rasanya seperti baru saja ada yang menamparnya dengan sangat keras. “Tapi.. Kenapa?”

“Maafkan aku Sajangnim, Aku tidak bisa mengatakan alasannya.” Hyerin menunduk, tak berani menatap wajah pria itu. Dia tahu ini pasti akan membuat pria itu sangat marah, karena sepertinya Cho Kyuhyun sedang ada masalah dengan Sekyung dan sekarang dirinya menambah masalah baru lagi.

Kyuhyun menghela nafas berat, sangat berat. Dadanya terasa sangat sesak. Sepertinya dia benar-benar sedang di uji.

“Apa ini karena Sekyung?” tanya Kyuhyun parau.

Hyerin menggeleng lemah. “Ada banyak alasan kenapa aku harus mengundurkan diri dari sini. Maafkan aku.”

Kyuhyun mengusap wajahnya dengan gusar. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin memaksa gadis itu untuk mengakui alasannya atau melarangnya pergi. Gadis itu sudah memberinya kesempatan untuk bertemu kembali dengannya dan putrinya setelah perbuatan kejam yang dilakukannya dan seharusnya itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak berhak meminta apapun dari gadis itu. Malah seharusnya gadis itulah yang meminta pertanggung jawabannya, bukan sebaliknya!

“Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Kyuhyun-ssi.” kata Hyerin lirih„Ö° dan perkataan itu menorehkan luka baru di hati Kyuhyun.

“Jwiseonghamnida.” ucap Hyerin sebelum bangkit dari kursinya dan membungkuk kecil. Gadis itu kemudian berbalik, meninggalkan Kyuhyun yang masih terperangah di tempatnya.

“Hyerin„Ö°”

Kyuhyun menghela nafas sesaat, lalu menepis semua yang ada diatas meja„Ö° membuat buku-buku dan pajangan diatasnya jatuh berserakan di lantai.

*

Cho Kyuhyun membanting pintu mobilnya dengan kasar, lalu masuk kedalam rumah mewahnya dengan gusar. Dia bahkan tak menghiraukan ibunya yang baru saja membukakan pintu untuknya.

“Kyu, kau pulang lebih awal?”

Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan ibunya dan langsung melengos ke kamarnya.

“Kenapa kau?” tanya Nyonya Cho dengan suara lantang„Ö° membuat Kyuhyun terpaksa mengurungkan niatnya untuk melangkah.

“Dari kemarin kau uring-uringan terus seperti ini.. Kau memikirkan Hyerin?” cibir Nyonya Cho.

Pria itu berbalik, berdiri menghadap ibunya dengan wajah pucat. “Hyerin sudah keluar hari ini.”

Nyonya Cho menghela nafas lega sambil mengelus dada. “Ohh, bagus kalau begitu. Akhirnya keluar juga dia.”

Kyuhyun mengerutkan kening, curiga dengan seringai yang tersungging di bibir Nyonya Cho.

“Apakah eomma bertemu dengan Hyerin?” tanya Kyuhyun.

“Kenapa?” tanya Nyonya Cho pura-pura tidak tahu.

Kyuhyun menatap ibunya itu dengan tajam. “Jawab pertanyaanku eomma, apakah eomma bertemu dengan Hyerin?”

Nyonya Cho mendengus, menatap kearah lain disamping putranya dengan tatapan dendam. “Ya, aku bertemu gadis itu. Aku memberinya sedikit pelajaran.”

Kyuhyun tersentak„Ö° menatap ibunya dengan tidak percaya. “Kenapa eomma melakukan itu?” tanya Kyuhyun tegas, dia tidak ingin mendengar seperti apa ‘pelajaran’ yang dilakukan ibunya pada Hyerin.

“Karena dia pantas mendapatkannya.” jawab Nyonya Cho cuek.

Kyuhyun menutup matanya, meredam emosinya yang mulai bangkit. Dia tidak ingin menjadi anak durhaka yang berani berkata kasar pada ibunya.

“Aku masih mencintainya, Eomma.” kata Kyuhyun tegas„Ö° membuat ibunya hampir terkena serangan jantung saking terkejutnya.

“A-Apa katamu?”

“Ya. Aku masih mencintainya, Eomma. Aku masih mencintai Ahn Hyerin.”

PLAK!!

“Apa kau masih waras, Cho Kyuhyun? Lalu bagaimana dengan Sekyung? dan putrimu? Sadarlah! Kau sudah punya istri dan anak, dan sekarang kau bilang kau masih mencintai wanita murahan itu?” cecar ibunya itu tanpa ampun, matanya membelalak menatap putranya seakan ingin menelannya hidup-hidup. “Ya tuhan, apa yang telah wanita itu lakukan padamu?”

“Ini bukan salahnya, eomma.” sela Kyuhyun, sama sekali tak terpengaruh dengan tamparan keras yang meninggalkan bekas kemerahan dipipinya. “Dia tidak melakukan apapun. Dari awal ini memang salahku, aku langsung menghakimi gadis itu tanpa mendengarkan penjelasannya. Dia menjadi pelacur karena dijual, bukan karena kemauannya sendiri.”

Nyonya Cho terperangah mendengar perkataan putranya beberapa detik lalu„Ö° wajahnya berubah pucat pasi. “Apa? Dijual?”

“Dan aku.. Aku dan Sekyung akan segera bercerai.” tambahnya lagi.

“A„Ö°A„Ö°Apa kau bilang?”

“Berhenti membela Choi Sekyung, eomma. Sekarang semuanya sudah jelas. Orang yang selalu kau bilang terdidik dan terhormat, kenyataannya malah sebaliknya. dia lah yang pelacur, eomma!” kata Kyuhyun tajam.

Nyonya Cho menatap putranya dengan tidak percaya. Demi tuhan, apa yang sedang terjadi diantaranya dan istrinya? “K-Kau ini bicara apa, Kyu? Apakah kau baru saja mengatakan istrimu pelacur?”

Kyuhyun menatap kearah lain dengan hampa. “Aku memergokinya di club malam, di bar khusus wanita penghibur. Saat itu dia sedang menelepon seseorang.”

Nyonya Cho membeku. Sejenak mengira Kyuhyun sedang mengarang bebas, tapi ekspresi putranya saat ini terlihat sangat terluka dan sungguh-sungguh.

“Dan kau tahu apa yang gadis itu katakan diteleponnya?” lanjut Kyuhyun.

Nyonya Cho masih tak bergeming. Jantungnya berdegup sangat kencang dan menyakitkan menunggu putranya itu menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dia bilang, seseorang mengancamnya akan memberitahuku bahwa Ahyoung bukan anakku.”

Rasanya seperti ada yang menarik arwah Nyonya Cho dari tubuhnya. Tidak mungkin. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Dan aku punya buktinya, eomma.” Kyuhyun menghela nafas berat, dadanya terasa sesak dan sakit. “Aku punya bukti bahwa Ahyoung bukan anak kandungku. Aku juga tidak tahu Ahyoung itu anak siapa, Sekyung berhubungan dengan banyak pria.”

“Tidak mungkin„Ö° Ahyoung.. bukan anakmu?” tanya Nyonya Cho parau„Ö° rasanya oksigen didalam tubuhnya terkuras habis hingga rasanya dia ingin pingsan.

“Kalau sudah begini eomma mau bilang apa? Waktu itu eomma sendiri yang memaksaku untuk menikahi gadis yang eomma kira lebih baik, eomma bilang eomma hanya ingin membuatku bahagia tapi ternyata eomma malah menjerumuskanku.” kata Kyuhyun dingin, tapi kilat kekecewaan dan kesedihan yang amat sangat terlihat jelas dimatanya„Ö° membuat hati Nyonya Cho tersayat-sayat. Dia tidak pernah melihat putranya serapuh ini sebelumnya.

“Kalau saja eomma membiarkanku mencari Hyerin dan bertanggung jawab pada gadis itu semuanya tidak mungkin jadi begini..”

Nyonya Cho tak berkutik. Dia benar-benar tidak harus berkata apa dan berbuat apa. Dia hanya bisa menatap dinding didepannya dengan air mata berlinang.

“Dokter, apa yang terjadi pada gadis itu dok? bolehkah saya melihat keadaannya?” tanya Nyonya Cho panik pada pria berpakaian serba putih yang berdiri tegak didepannya. Dia takut. Benar-benar takut sampai hal-hal buruk terjadi pada gadis yang baru saja menyelamatkan putranya dari kecelekaan.

Sang dokter menatap wanita itu dengan sedikit menyesal. “Maaf, Saat ini Nona Choi tidak bisa ditemui. Dia masih sangat syok akibat jatuh dari ketinggian.”

“Ya tuhan..” Nyonya Cho memegangi pelipisnya yang sudah basah oleh keringat dingin, matanya kemudian beralih ke putranya yang duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan ekspresi yang jauh berbeda dengannya„Ö° dia tampak tenang seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Dan tentu saja itu membuat emosi Nyonya Cho bangkit. Tapi wanita itu menghela nafas dalam-dalam, mencoba menahan keinginannya untuk meledak dan duduk perlahan disamping putranya.

“Kyuhyun-ah.. Tak bisakah kau membuka pintu hatimu untuk Choi Sekyung?” tanya Nyonya Cho pelan„Ö° berusaha untuk tidak membuat Kyuhyun berekasi macam-macam. “Lihatlah, dia sampai mengorbankan nyawanya untukmu.”

Nyonya Cho menggenggam kedua bahu putranya yang masih memasang wajah tak acuh. “Kyuhyun-ah, dengarkan eomma. Berhentilah mencari wanita itu„Ö°”

“Tapi yang aku perbuat padanya sudah keterlaluan, eomma! Aku harus bertanggung jawab!” sergah Kyuhyun.

Nyonya Cho membelalakan matanya, benar-benar tidak mengerti jalan pikiran putranya. Harus bagaimana lagi dia menyadarkan pria yang keras kepala ini? “Tapi dia sudah mengkhianatimu, Cho Kyuhyun! Sadarlah!! Yang dia kandung didalam perutnya juga pasti bukan anakmu! untuk apa kau mengkhawatirkan wanita seperti itu, sedangkan disini wanita yang lebih baik dan setia padamu? Nikahi dia, Cho Kyuhyun! aku yakin hidupmu akan lebih bahagia!”

“Tidak mungkin!!” jerit Nyonya Cho histeris. Putranya benar. Ini semua salahnya. Ternyata selama ini yang dilakukannya hanyalah menjerumuskan putranya sendiri. Nyonya Cho menggeleng cepat, lututnya terasa sangat lemas. Wanita itupun jatuh dan berlutut ke lantai, menangis sejadi-jadinya.

*


Gangnam District, 21:00PM

“Tidak, tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu berkerja di tempat ini. Kau boleh membantuku, tapi bukan berarti kau juga bisa bekerja disini!” omel Donghae pada Hyerin yang sedang membantunya mengangkat kardus-kardus berisi alkohol kedalam bar seperti biasanya. Donghae tidak begitu keberatan gadis itu membantunya berkerja, tapi tentu saja dia sangat tidak setuju jika gadis itu ikut berkerja di tempat ini.

“Kenapa oppa? Aku kan tidak berkerja yang macam-macam, hanya membantu memindahkan barang-barang ke gudang. Lagipula aku kan selalu kesini bersamamu. Kau bisa mengawasiku kapan saja kan?” kata Hyerin berusaha meyakinkan Donghae agar mengizinkannya.

Donghae menggeleng. “Tetap tidak boleh. Kau tidak pantas berkerja disini, Hyerin-ah. Aku akan membantumu mencari perkerjaan yang lebih baik untukmu. Pekerjaan yang benar-benar kau inginkan dan pantas untukmu. Aku janji itu.” ujar Donghae berjanji. Dan Hyerin tahu itu bukan janji kosong. Lee Donghae tidak pernah mengingkari janjinya.

Senyum lembut menghiasi wajah cantik Hyerin. “Terima kasih oppa.”

Donghae tersenyum masam. “Sebaiknya kau masuk kedalam mobil duluan.”

“Neh, Kalau begitu aku duluan, oppa.” jawab Hyerin lalu berjalan kearah parkiran bar„Ö° melewati jalanan sepi dan gelap itu dengan sedikit terburu-buru. Dia takut seandainya bertemu dengan orang yang punya niat jahat ditengah jalan; apalagi dengan bodohnya hanya memakai kaos tipis dan celana pendek yang biasa dia pakai untuk tidur.

Hyerin bergidik mendengar suara langkah dibelakangnya. Gadis itu kontan menoleh dan terkejut„Ö° namun yang dilihatnya bukanlah penjahat atau semacamnya. Tapi juga bukan seseorang yang dia ingin temui saat ini.

“K„Ö°Kyuhyun-ssi„Ö° apa yang kau„Ö°”
Pria tampan dengan setelan mahal itu tidak menjawab apapun, dia hanya menatap Hyerin selama beberapa detik kemudian berjalan menghampirinya dengan langkah pelan; seolah setiap langkah dipenuhi keraguan bahwa Hyerin akan menolaknya.

Gadis itu membeku ditempatnya. Jantungnya berdegup kencang begitu pria itu berhenti dan berdiri dengan jarak yang sangat amat dekat dan tatapan terpancang padanya. Ini sangat aneh; Seharusnya hatinya sudah hancur sejak empat tahun yang lalu, tapi bagaimana bisa-bisanya dia masih merasakan perasaan seperti ini pada orang yang sudah melukainya? Tidak, Hyerin. Kau tidak boleh lemah seperti itu lagi. Kau harus realistis kali ini. Batin Hyerin.

“Aku minta maaf atas perlakuan ibuku kemarin.” ujar Kyuhyun pelan, kilat penyesalan terlihat jelas dimatanya.

Hyerin tersenyum kecut. “Lupakan saja, Kyuhyun-ssi. Aku permisi.” pamitnya sebelum berjalan meninggalkan Kyuhyun.

“Aku masih mencintaimu, Ahn Hyerin.”

Deg. Mendengar suara itu langkah Hyerin terhenti. Gadis itu menoleh, menatap pria yang berdiri dibelakangnya itu dengan tidak percaya.

“Aku ingin menebus kesalahanku, Hyerin-ah. Tolong beritahu apa yang harus kulakukan.”

Hyerin berbalik, menengadah menatap Kyuhyun yang jauh lebih tinggi darinya. “Kalau begitu pergilah dari kehidupanku, Kyuhyun-ssi. Jangan temui aku dan putriku lagi.”

Kyuhyun terperangah. “A-Apa?”

“Kenapa, Kyuhyun-ssi?”

“Hyerin-ah, aku..” Kyuhyun menghela nafas berat. Hatinya terasa sangat sesak dan sakit. Tidak. Dia tidak mungkin sanggup melakukannya; sehari saja tidak melihat Hyerin dan putrinya membuatnya hampir gila. Apalagi jika tidak bisa bertemu lagi dengan mereka? dia bisa mati! “Aku tidak bisa melakukan itu..” lanjutnya pelan.

“Kenapa? Buktinya kau bisa hidup empat tahun tanpa diriku? Kenapa sekarang kau bilang kau tidak bisa?” tantang Hyerin.

“Karena sekarang aku sudah menyadarinya.”

“Mungkin ini sudah sangat terlambat tapi akhirnya aku sadar bahwa aku memang pria paling brengsek dan kejam di dunia ini. Sejak aku menyadari itu rasanya aku ingin mati saja.” ujar Kyuhyun lirih, dadanya terasa semakin sesak dan sekarang pandangannya mengabur. “Aku tahu aku tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubahnya, Tapi tolong biarkan aku bertanggung jawab atas semua yang sudah kuperbuat, Hyerin-ah. Setidaknya aku ingin membuat kalian bahagia di masa depan. Izinkan aku memperbaikinya!” lanjutnya dengan suara serak. Berpura-pura tegar dan tenang adalah salah satu keahliannya tapi sepertinya kali ini pertahanannya akan runtuh.

“Apalagi yang harus diperbaiki? Aku sudah terlanjur hancur, Kyuhyun-ssi. Kau tahu itu.” kata Hyerin dingin„Ö° sebenarnya dia merasa sedikit tidak nyaman mengatakan semua itu pada Cho Kyuhyun. Ini pertama kalinya dia bersikap begini pada Kyuhyun; selama ini dia selalu menjadi istri yang patuh dan tunduk pada pria itu, dan dia tidak bisa menghilangkan sifat itu bahkan sampai mereka dipertemukan kembali. Tapi kali ini dia ingin berubah. Dia sudah lelah menghadapi semua ini dan dia tidak boleh menjadi lemah lagi.

“Dan aku sudah pernah bilang bahwa aku sudah memaafkanmu. Jadi jangan merasa bersalah lagi. Aku tidak meminta pertanggung jawabanmu. Tolong jangan temui aku lagi. aku lelah, Cho Kyuhyun.” kata Hyerin tegas„Ö° yang langsung meluluh lantahkan pertahanan Kyuhyun.

“Hyerin„Ö°”

“Sialan! Tinggalkan dia sendiri!” Lee Donghae tahu-tahu sudah ada disamping Kyuhyun, menatap pria itu dengan tatapan membunuh.

Kyuhyun menggertakan giginya, mata elangnya melirik Donghae dengan tajam dan mengancam. “Minggir. Ini urusanku dengan Hyerin.”

“Hei, Kau tidak tahu ya?” Donghae menarik kerah kemeja Kyuhyun hingga tubuhnya tercondong kedepan. “Mulai sekarang, apapun yang berurusan dengan Hyerin, berurusan denganku. Kau dengar itu?”

Kyuhyun memalingkan wajah dengan angkuh. “Brengsek, Harusnya aku membunuhmu waktu itu.”

“Ya, sayang sekali. Seharusnya kau melakukannya. Aku berterima kasih telah membiarkanku hidup dan memberikan kesempatan itu padaku.” Donghae mendengus sinis„Ö° membuat Kyuhyun menatapnya dengan terkejut dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Sekarang giliranku yang akan melindungi Hyerin dan merawatnya. Dan jangan coba-coba mengambilnya dariku. Dia milikku.”

“Bajingan!!” Kyuhyun menonjok wajah Donghae dengan kepalan tangannya hingga pria itu tersungkur. Donghae menggertakan giginya, lalu bangkit dan membalas tonjokan Kyuhyun lebih keras„Ö° menjorokan tubuhnya ke tanah dan kemudian menghajar wajahnya tanpa ampun hingga pria itu mengeluarkan darah dari hidung serta mulutnya.

“HENTIKAN OPPA!!” pekik Hyerin, memeluk tubuh Donghae dari belakang agar berhenti menghajar Kyuhyun. Kyuhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali berdiri dan menyeka darah yang mengalir di beberapa bagian wajahnya dengan tenang„Ö° seolah dia sedang mengusap keringat dan bukannya darah. Pukulan seperti itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit dan penyesalan di hatinya yang amat sangat sekarang ini.

Hyerin mengadah, menatap Kyuhyun dengan tatapan terluka. “Apa yang kau lakukan? Apa kau belum puas melihatku menderita, Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun terbungkam. Kata-kata Hyerin barusan seperti tamparan keras untuknya. Apa yang telah dia lakukan? Dia bermaksud untuk bertanggung jawab dan menolong Hyerin, tapi kenapa dia malah membuat gadis itu terluka dan lebih menderita lagi?

“Ternyata sifat egoismu itu belum berubah juga ya, Kyuhyun-ssi.” gumam Hyerin getir, Kyuhyun terkejut melihat rahang gadis itu yang mengeras. Dia benar-benar marah. “Kenapa kau menghajar Donghae oppa? Apa kau tidak terima dia bersamaku? Kemana saja kau selama ini?”

Kyuhyun tertegun. Ya, dia memang bodoh. Dia terperangkap kedalam jebakan Choi Sekyung dan menelantarkan Hyerin. Dan sekarang dia bersikap egois dengan tidak terima gadis itu bersanding dengan orang lain. Dialah bajingan yang sebenarnya. Lee Donghae tidak bajingan; setidaknya pria itu yang merawat Hyerin dan putrinya selama ini, dan harusnya dia berterima kasih pada pria itu, bukan malah melampiaskan kekesalannya pada pria itu.

“Sekarang giliran keluargamu hancur, Kau bilang kau menyesali perbuatamu dan menyuruhku untuk tetap disampingmu. Kau pikir aku ini mainan?”

Tidak. Dia tidak bermaksud seperti itu. Dia sudah menyesal sejak mengetahui kebenaran itu dari Nyonya Kang, bukan setelah keluarganya hancur. Dan dia hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang dia sudah perbuat. Tapi sepertinya dia benar-benar sudah terlambat, gadis itu sama sekali sudah tak membutuhkannya.

Hyerin memalingkan wajahnya, menatap kearah lain dengan mata berkaca-kaca.”Aku akan segera menikah dengan Donghae oppa. Jadi tolong jangan temui aku lagi, Kyuhyun-ssi.”

Kata-kata yang keluar dari bibir Hyerin tak henti-hentinya membuat Kyuhyun terkejut tapi kali ini adalah puncaknya. Kyuhyun tak sanggup lagi membendung air mata yang sejak tadi ditahannya. Hatinya serasa dicabik-cabik.

“Ayo pergi, oppa.” kata Hyerin pada Donghae, lalu berbalik meninggalkan Kyuhyun yang sekarang membeku di tempatnya; menatap mereka dengan wajah bersimbah darah dan air mata.

To Be Continued..

Advertisements

143 thoughts on “CEO’s Ex Wife [Chapter 5]

  1. wahhhhh hyeri sama donghae akan menikah????
    seneng banget, akhirnya kyuhyun mendapatkan karmanya.
    kyuhyun akan hancur berkeping-keping melihat wanita yang di cintainya akan menikah dengan pria lain..
    nyonya cho juga pasti sedang merasakan penyesalan juga setelah apa yang dia lakuin terhadap hyeri dan juga cucu kandungnya joon-a.

  2. Kasihan jugak sih sama kyu tapi y gimana lagi dulu dia yang salah, sekarang dia mau balikan hyerin nya mau nikah sama donghae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s