Angst · Romance

CEO’S Ex Wife [Chapter 6]

Story By Erina Suzumiya

Cast:

Ahn Hyerin | Cho Kyuhyun | Lee Donghae | Choi Sekyung (OC)| Cho Joon-ah (OC) | Cho Jae-Kyung (OC) as Mrs. Cho

Genre: Romance, Angst

Rating: PG-17

DON’T BE A SILENT READER ❤

“Ini kopinya, Tuan Cho..”

“Untukmu saja, Eunhye-ssi. Aku sudah buat sendiri tadi pagi.” sahut Kyuhyun tanpa melirik kopi yang diletakkan bawahannya diatas meja. Dia terlalu sibuk berkutat dengan laptopnya.

“N-Neh?” Eunhye mengerutkan alis, mengira pendengarannya keliru.

“Ya, Untukmu saja.” kata Kyuhyun lagi, masih berkutat pada laptopnya.

“Tuan Cho.. bisa kubantu?” tawar Eunhye khawatir melihat atasannya yang kelihatan begitu sibuk. Sebenarnya gadis itu heran kenapa akhir-akhir ini atasannya itu tidak pulang kerumah dan berkerja 24 jam tanpa henti. Dia bahkan mau repot-repot menggunakan mesin fotokopi dan mengangkat telepon dari klien yang sama sekali bukan tugasnya. Padahal biasanya dia menyuruh-nyuruh anak buahnya untuk membantunya mengerjakan pekerjaannya bahkan yang ringan sekalipun. Tapi sekarang dia mengerjakan semuanya sendirian. Entahlah, pria itu terlihat seperti.. sedang menghukum dirinya sendiri.

Kyuhyun beralih menatap gadis itu dan memaksakan senyum. “Tidak apa-apa, aku bisa sendiri.”

Eunhye menggigit bibir bawahnya. “T-Tapi, Tuan Choㅡ”

Kyuhyun mendelik. “Apa?”

“J-Jika sewaktu-waktu kau butuh pertolongan, B-Biarkan aku membantumu. Permisi.” Gadis itu tersenyum iba, lalu membungkuk pelan sebelum meninggalkan atasannya itu keluar ruangan.

Kyuhyun menghela nafas begitu bawahannya itu pergi. Pria itu melirik ponselnya yang tergeletak disebelah laptopnya dan mengambilnya. Dia hendak mencoba menghubungi seseorang yang sangat ingin dihubunginya sejak beberapa hari lalu, tapi kemudian dia kembali teringat kejadian tempo hari dan mengurungkan niatnya.

“Pergilah dari kehidupanku, Kyuhyun-ssi. Jangan temui aku dan putriku lagi.”

“Aku sudah pernah bilang bahwa aku sudah memaafkanmu. Jadi jangan merasa bersalah lagi. Aku tidak meminta pertanggung jawabanmu. Tolong jangan temui aku lagi. aku lelah, Cho Kyuhyun.”

“Sekarang giliran keluargamu hancur, Kau bilang kau menyesali perbuatamu dan menyuruhku untuk tetap disampingmu. Kau pikir aku ini mainan?”

“Shit!!” Kyuhyun menendang mejanya hingga benda diatasnya termasuk laptopnya jatuh membentur lantai. Pria itu mengusap wajahnya dan mendesah frustasi setelah itu, tak berniat mengembalikan semua barang yang jatuh itu ke tempat semula.

Hyerin-ah.. Apa yang harus kulakukan? Aku tahu aku terlalu egois untuk mendapatkanmu dan putrimu kembali, Tapi.. apa benar-benar sudah tidak ada harapan lagi untuk sekedar melihat kalian? apa sudah tidak ada harapan lagi untuk sekedar memastikan kalian bahagia?

*

Hanya tinggal beberapa hari lagi. Hari pernikahan mereka akan segera dilaksanakan. Yah, Hari yang ditunggu-tunggunya sejak dulu. Hari yang selalu diimpikannya selama ini. Tapi kenapa.. Lee Donghae tidak merasa bahagia? sebaliknya, dia malah merasa gelisah dan menyesal. Mungkin karena akhirnya dia sadar bahwa dia tidak pantas bahagia diatas penderitaan orang lain. Dia memang mendapatkan apa yang dia mau, tapi dia juga mengorbankan kebahagiaan orang lain untuk mendapatkannya. Ini sama sekali tidak benar.

“Oppaㅡ”

Suara lembut itu menarik Donghae ke kenyataan. Pria itu bergidik, menyadari dirinya berada di tengah-tengah deretan buket bunga yang dipajang di lemari kayu tinggi. Yah, hari ini dia dan Hyerin mengunjungi toko bunga untuk membeli buket bunga yang akan dipakai pada pernikahan mereka nanti.

Donghae beralih menatap Hyerin, tersenyum manis pada gadis itu. “N-Neh, Hyerin-ah?”

“Kau melamun.” tegur Hyerin, lalu kembali melihat-lihat buket bunga disekelilingnya.

“M-Maaf.” Donghae tertawa segan. “Kenapa, Hyerin?”

“Donghae oppa, Kenapa kau masih merahasiakan pernikahan kita pada Joon-ah? Padahal dia akan sangat senang kalau mengetahui ini.” ujar Hyerin sembari menyentuh salah satu buket bunga berwarna kuning muda.

Donghae menghela nafas sejenak, kemudian menangkup pipi Hyerinㅡ membuat gadis itu terpaksa mengalihkan pandangannya ke wajah pria itu. “Ini masih terlalu cepat, Hyerin-ah. Masih banyak yang harus kita persiapkan.” jelas Donghae.

“Aku mengerti oppa.” Hyerin mengangguk, kemudian beralih menatap buket bunga lili putih disisi kirinya dan mengambilnya. “Ahㅡ lihat, aku mau bunga yang ini! Bagaimana menurut oppa?”

“Cantik sekali. Tapi.. Kenapa kau memilih yang itu?” tanya Donghae penasaran, sedikit bingung kenapa Hyerin menjatuhkan pilihannya pada buket bunga simpel itu sedangkan masih banyak yang lebih bagus dan bervariasi.

“Kau tidak tahu? ini lambang kejujuran dan kebaikan. Mirip seperti Donghae oppa.” Hyerin terkekeh, menatap bunga itu sambil tersenyum. “Kang Ahjumma, penjaga toko bunga yang dulu pernah merawatku pernah bilang begitu.”

Rasanya Donghae seperti ditampar oleh kalimat yang meluncur dari bibir gadis itu. Tidak. Dia salah. Itu sama sekali bukan Donghae. Donghae telah berbohong padanya selama ini. Donghae bahkan tega merampas kebahagiaan dan cita-cita gadis itu demi egonya sendiri.

“Hye.. bagaimana.. kalau aku tidak seindah bunga itu?” tanya Donghae ragu. “Kalau sebenarnya aku orangnya tidak jujur dan tidak baik? Apakah.. kau akan tetap menikah denganku?”

Hyerin mendengus geli, mengira bahwa Donghae hanya sedang bergurau. Gadis itu mengira dirinya sudah sangat mengenal Donghae. “Aku akan tetap menikahimu, oppa. Karena aku percaya kau bukan orang seperti itu. Kau tidak mungkin mengecewakanku, iya kan?”

Donghae tersenyum kecut. Kenyataan bahwa Hyerin sangat mempercayainya membuat dadanya sesak. Dia tidak bisa membayangkan jika Hyerin mengetahui yang sebenarnya. Gadis itu pasti akan sangat terluka.

“Pilihan yang bagus. Bunga itu sangat cocok untuk kalian.” komentar wanita paruh baya penjaga toko ketika mereka sudah berada didepan meja kasir. “Apa kalian akan segera menikah?” tanyanya sambil tersenyum lebar.

“Nde..” Hyerin melirik Donghae dan tersenyum malu. “Berapa totalnya, eommonim?”

Wanita penjaga kasir itu tertawa kecil. “Ah, tidak usah bayar. Spesial untuk calon pengantin baru.”

Mata Hyerin melebar. “B-Benarkah? Terima kasih!”

“Kalian sangat cocok.” komentar wanita itu sembari memasukkan buket itu kedalam goodie bag berukuran besar dan memberikannya pada Hyerin. “Aku harap kalian akan menjadi pasangan yang bahagia. Tapi karena biasanya menjelang hari pernikahan banyak masalah, kalian harus saling terbuka. Ikuti kata hati kalian.” nasihat wanita itu.

Donghae tertegun. Dia lagi-lagi hanya diam ketika Hyerin meliriknya sambil tersenyum malu. “Ah, ne.. Eommonim.”

“Ah, sepertinya aku terlalu banyak berbicara.” wanita itu tersenyum enggan. “Terima kasih sudah datang.”

Hyerin tertawa kecil. “Ah tidak, Terima kasih, Eommonim!” ucap Hyerin sambil membungkuk pelan, lalu melangkah keluar toko dengan riang. Hari ini dia sangat beruntung; Donghae mau menemaninya belanja untuk persiapan pernikahan mereka seharian dan mendapat banyak diskon serta gratisan dari para penjualㅡ kebetulan sekali mereka juga sedang tidak punya banyak uang. Yah, setidaknya inilah yang membuat Hyerin masih bertahan hidup. Meskipun hidupnya penuh rintangan dan ujian yang berat, tapi banyak hal-hal kecil yang membuatnya merasa bahagia.

“Selanjutnya..” gumam Hyerin sembari melihat kertas panjang yang berupa list apa saja yang harus dibeli.

“Kita akan melakukannya besok.” sambung Donghae seraya merangkul Hyerin. “Joon-ah sudah menunggu kita dirumah.”

“Ah, iya oppa!” sahut Hyerin, membiarkan Donghae merangkulnya dengan erat. Dia bahkan menyandarkan kepalanya dibahu Donghae yang bidang. Terus berjalan dengan posisi seperti ini membuat Hyerin merasa nyaman dan hati serta pikirannya terasa ringan. Dan rasanya dia ingin selalu merasakan perasaan seperti ini selamanya.

*

“Kami pulang!” kata Hyerin keras ketika mereka berdua sampai didepan pintu kayu putih yang dibuka lebar itu. Pintu belakang rumah keluarga Lee. Hyerin melongo kedalam dan alisnya langsung berkerut begitu melihat Nyonya Lee yang sedang memasak, menoleh kearahnya dengan wajah masam.

“Ah, kalian sudah pulang..” kata Nyonya Lee lemah. Dan Hyerin langsung tahu bahwa ada yang tidak beres. Apa yang terjadi?

“Ahjumma, ada apa?” tanya Hyerin khawatir sambil masuk kerumah dan menghampiri Nyonya Lee. Donghae ikut menyusul kedalam dengan buket bunga digenggamannya, menatap ibunya dengan heran. “Ada apa eomma?” tambah Donghae.

“Joon-ah tidak mau makan sejak tadi pagi..” kata Nyonya Lee membuat Hyerin dan Donghae saling bertatapan.

“Lho? Kenapa?” tanya Hyerin cemas. Dia rajin memberi multivitamin, minyak ikan untuk meningkatkan nafsu makan putrinya. Gadis kecil itu biasanya malah mudah lapar. “Memangnya ahjumma masak apa? Mungkin dia bosan dengan sayur?”

Nyonya Lee menggeleng, mengaduk-ngaduk sup daging di pancinya dengan tidak bersemangat. “Tidak, aku tidak memasak sayur dari kemarin. Hanya sup makaroni dan sosis goreng seperti biasanya.”

Hyerin menggigit bibirnya panik. Gadis itu kenapa? biasanya Joon-ah meminta tambah kalau Lee Ahjumma memasakinya dua menu favoritnya itu.

“Tadi aku juga memasak ramyeon kesukaannya tapi dia tetap tidak mau memakannya.” kata Nyonya Lee lagi putus asa.

“Apa dia sakit?” tanya Hyerin pelan, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Aku akan melihat keadaannya.” sela Donghae lalu melangkah ke kamar Joon-ah namun Hyerin menarik tangannya.

“Biar aku saja, Oppa.” cegat Hyerin. Donghae tak menjawab, membiarkan Hyerin yang masuk ke kamar putrinya.

Hyerin membuka pintu kamar putrinya yang ditempeli berbagai stiker kartun itu dengan hati-hati. Dia kemudian menghela nafas berat ketika menemukan Joon-ah yang sedang meringkuk diatas kasur, tubuhnya menghadap jendela sambil memeluk boneka minnie dari ayahnya.

“Joon-a.. sayang, kenapa tidak mau makan?” kata Hyerin sembari duduk disebelah Joon-ah, mengusap rambut panjang putrinya dari belakang dengan hati-hati. “Joon-ah sakit perut? eoh?”

Joon-ah tidak menjawab. Dia hanya menggeleng lemah dan memeluk boneka minnienya lebih erat lagi.

“Lalu kenapa sayang?” tanya Hyerin sabar.

“Joon-a mau bertemu Kyuhyun ahjussi..” rengek Joon-ah tanpa menatap ibunya, alih-alih memandang keluar jendela yang mengarah ke taman di teras dengan hampa. “Hari sabtu ini Joon-a bagi raport, Joon-a ingin raport Joon-a diambil oleh eomma dan appa, seperti teman-teman Joon-a..”

“Tapi kenapa eomma melarang Joon-a bertemu Kyuhyun ahjussi?”

Hyerin menatap putrinya dengan terkejut. “J-Joon-ah-ya..”

Joon-ah berbalik menatap ibunya dengan wajah sendu, tampak seperti ingin menangis. “Padahal Kyuhyun ahjussi berjanji dia mau menjadi appa Joon-a didepan teman-teman Joon-a..”

Hyerin terkesiap. Perkataan putrinya barusan kembali menorehkan luka di hatinya yang baru saja pulih. Pedih. Rasanya pedih setiap kali mendengar putrinya berkata ingin bertemu dengan Kyuhyun, dan gadis kecil itu tidak tahu bahwa pria itu adalah ayah kandungnya. Tapi sebaiknya Joon-ah memang lebih baik tidak tahu. Gadis itu akan lebih terluka lagi jika tahu bahwa ibunya sengaja memisahkannya dengan ayah kandungnya.

“Kan ada Hae ahjussi, Joon-ah-ya.” ujar Hyerin, berusaha menenangkan Joon-ah. “Waktu itu Joon-ah pernah bilang ingin Hae ahjussi jadi appa Joon-ah kan? Hae ahjussi bisa kok menjadi appa Joon-ah.”

Tapi Joon-ah menggeleng cepat. “Tidak eomma, Joon-a mau sama Kyuhyun ahjussi..”

Hyerin terbungkam. Ya tuhan, sekarang apa yang harus dia lakukan? Kalau sudah begini, akan sulit bagi Joon-ah untuk menerima Donghae sebagai ayah barunya.

Hyerin menunduk, menangkup wajah putrinya dan menatapnya dalam-dalam. “Dengar, Joon-ah-ya.. Eomma tidak bisa bertemu lagi dengan Kyuhyun ahjussi. Eomma tidak bisa menceritakan alasannya pada Joon-ah, ada saatnya nanti eomma akan cerita. Tapi intinya.. Kalau eomma bertemu lagi dengan Kyuhyun ahjussi, Eomma bisa sedih. Joon-ah tidak mau kan melihat eomma sedih?”

Joon-ah terdiam sebentar, terlihat sedang mencerna perkataan Hyerin dan detik kemudian dia menggeleng pelan. “Tidak, eomma..”

“Bagus. Gadis pintar.” Hyerin mengulas senyum simpul, menepuk-nepuk pipi tembam Joon-ah dengan gemas. “Kalau tidak mau eomma ikut sedih, Joon-ah juga jangan sedih lagi, dan makan yang banyak ya sayang.”

Joon-ah tidak menjawab, hanya meresponnya dengan anggukan pelan tapi Hyerin tahu gadis kecil itu menuruti kata-katanya. Joon-ah adalah anak yang penurut dan selalu melakukan apa yang disuruh ibunya itu.

*

Cho Kyuhyun menghabiskan setengah jam terakhir dengan duduk bersandar di dashboard ranjang berukuran king size itu sembari berkutat pada laptop di pangkuannya. Senyum lembut menghiasi wajah tampannya ketika menemukan sebuah foto di layar laptopnya; di salah satu foto itu terlihat dirinya sedang duduk di kursi kayu dibawah pohon mapel yang daunnya berguguran dengan seorang gadis berambut panjang disampingnya. Mereka sama-sama mengenakan sweater couple berwarna coklat muda dan celana jeans berwarna putih. Yah, inilah foto kencan pertamanya dengan Hyerin dulu. Di Kyoto. Ah, dia sangat merindukan momen iniㅡ tidak, dia lebih merindukan gadis di foto ini. Senyumannya yang manis, suaranya yang membuatnya meleleh, bibirnya yang terasa lembut dan hangat saat dia menciumnyaㅡ memikirkan itu membuat dadanya berdebar kencang dan serasa ingin meledak.

Kyuhyun menggeleng geli, kemudian melihat-lihat foto yang lainnya; foto acara pernikahan mereka yang diselenggarakan di hotel bintang lima, foto ketika mereka bulan madu di osaka dan foto-foto yang diambil setiap kali mereka liburan di berbagai tempat. Melihat itu membuat senyumnya semakin mengembang. Itu adalah masa-masa yang paling membahagiakan di sepanjang sejarah hidupnya.

Tapi foto terakhir membuat senyum di wajah Kyuhyun memudar; foto yang diambil ketika mereka sedang memakan eskrim dengan putri mereka di funfair. Foto terakhir mereka. Kyuhyun menghela nafas, perasaan rindu yang amat sangat itu sekarang terasa menyakitkan. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apakah mereka sudah bahagia dengan keluarga baru mereka yang lengkap?

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun bergidik mendengar suara wanita dari depan ambang pintu kamarnya, pria itu buru-buru menutup laptopnya dan melirik ibunya yang tahu-tahu sudah masuk ke kamarnya untuk duduk disampingnya.

“Mau sampai kapan kau begini terus?” tanya Nyonya Cho, menatap putranya itu dengan tidak tega. Kejadian yang sangat menimpanya itu membuat Kyuhyun stress dan akibatnya dia ‘menyiksa’ dirinya sendiri. “Jika kau memaksakan dirimu untuk terus-terusan berkerja tanpa berhenti, Kau bisa sakit, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendengus. “Aku tidak sedang berkerja, eomma.”

Nyonya Cho menutup matanya. “Sikapmu yang seperti ini tidak akan mengubah apapun, Kyuhyun-ah. Berhentilah melakukan ini. Jalani hari-harimu seperti biasanya.”

Kyuhyun menghempaskan tengkuknya di bantal yang tebal dibelakangnya, mata sayunya menatap langit-langit kamarnya dengan hampa.

“Aku sudah lupa bagaimana caranya, eomma.” tutur Kyuhyun. Bahkan kalau mungkin, dia berharap dia juga lupa caranya bernafas. Tidak ada gunanya dia hidup di dunia ini. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk putrinya dan wanita yang dicintainya. Percuma saja dia hidup.

“Kyuhyun-ah..” Nyonya Cho menatap putranya dengan iba. Dia harap ada yang bisa dia lakukan untuk membantu putra semata wayangnya ini.

*

“Setelah ini kita harus perawatan dulu sebelum Hari-H nya, jadi harus ke salon. Tapi di mall ini tidak ada salon ya?” gumam Hyerin ketika membaca list di selembar kertas yang berisi rencana persiapan pernikahannya dengan Donghae. Hari ini mereka mengunjungi mall lagi untuk membeli keperluan pesta pernikahan mereka nanti. “Ah, tapi kita harus menyiapkan hidangan untuk tamunya dulu! Sebaiknya kita ke toko kue sekarang.”

Lee Donghae yang berjalan disebelahnya hanya mengangguk dan tersenyum masam. Setidaknya itulah yang bisa dia lakukan setiap kali Hyerin membahas tentang pernikahannya. Rasa bersalah terus meliputi hatinya dan bahkan dia sempat berpikir untuk menggagalkan pernikahan itu. Ya, dia merasa tidak pantas menikah dengan Hyerin. Perbuatannya pada gadis itu sudah terlalu bejat. Lagipula disisi lain, dia juga tahu bahwa Hyerin ingin menikah dengannya bukan atas dasar cinta. Gadis itu hanya bilang ingin Donghae menjadi ayahnya Joon-ah, tapi tidak pernah bilang ingin menjadi istrinya.

“Kajja, oppa!” Hyerin menggandeng tangan Donghae kearah eskalator untuk mencari toko kue. Gadis itu terlalu girang dan antusiasㅡ saking antusiasnya sampai tidak menyadari ada yang memperhatikannya dari kejauhan. Nyonya Choㅡ yang tengah duduk-duduk di restoran cepat saji bersama Nyonya Na didepannya. Ini sangat kebetulan. Dan untuk saat ini mau tidak mau Nyonya Cho harus berhenti mempertahankan gengsinya yang sangat tinggi itu atau dia akan kehilangan kesempatan ini. Kesempatan untuk membantu putranya.

“A-Aku permisi sebentar, Yoorim-ssi.” ucap Nyonya Cho lalu bangkit dari kursinya dan berlari tertatih-tatih dengan hak tingginya keluar restoran. Na Yoorim mengerutkan alis, bingung dengan Nyonya Cho yang berubah panik begitu melihat sosok diluar restoran. Karena penasaran, Wanita itu pun menengok keluar jendela restoran dan detik berikutnya jantungnya berdebar kencang begitu melihat siapa yang ditemui Nyonya Cho.

“Ahn Hyerin, tunggu!” panggil Nyonya Cho dengan nafas tersengal. Hyerin berbalik, wajah girangnya langsung berubah terkejut begitu menemukan Nyonya Cho dibelakangnya. Jantungnya berdebar kencang dan jemarinya terasa dingin menanti apa yang akan wanita itu katakan kali ini. Sepertinya wanita itu akan membicarakan hal yang sangat serius dan mengundang perhatian karena dia sampai mau repot-repot mengejar Hyerin. Tapi apapun yang akan dikatakan wanita itu, seharusnya dia tidak perlu takut. Karena disampingnya ada Lee Donghae yang akan melindunginya.

“Eo-Eommonimㅡ A-Ada apa?” tanya Hyerin memberanikan diri.

“A-Aku..” Nyonya Cho menunduk, wajahnya terlihat sangat menyesal dan itu membuat Hyerin terkejut. Nyonya Cho tidak pernah menunjukan wajah seperti itu pada siapapun, dia selalu mengangkat wajahnya di situasi apapun.

“Aku.. benar-benar minta maaf atas yang sudah kulakukan padamu. Aku sudah sangat kejam padamu.. Hyerin-ah..”

Hyerin terkesiap. Jadi.. dia repot-repot mengejar Hyerin hanya untuk minta maaf?

“N-Neh? t-tidak apa-apa, eommonim..” jawab Hyerin tulus. “Aku.. sudah memaafkanmu.”

“B-Benarkah?” Nyonya Cho membelalak menatap Hyerin dengan mata berkaca-kaca. “T-Terima kasih, Hyerin.. Kau sangat baik.. aku.. aku berjanji akan melakukan apa saja yang kau minta sebagai permintaan maafku..”

“Tidak, eommonim. Kau tidak perlu melakukan apa-apa untukku. Aku benar-benar sudah memaafkanmu, sungguh.” Hyerin tersenyum segan. “Ah, Kalau begitu aku harus pergㅡ”

“Ahn Hyerin, tungguㅡ” Nyonya Cho menarik kedua tangan Hyerin. menatap gadis itu dengan penuh harap.

“Hye.. tolong bukalah pintu hatimu untuk Kyuhyun. Dia masih mencintaimu, Hyerin.”

Deg. Hyerin terperangah. “A-Apa?”

“Kumohon, Hyerin-ah..” Nyonya Cho menunduk dan berlutut didepan Hyerinㅡ membuat gadis itu terbelalak. Nyonya Cho tidak pernah memohon-mohon seperti ini pada siapapun. Dari dulu wanita itu merasa harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Tapi sekarang wanita itu rela mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri didepan Hyerin.

“Kembalilah pada Kyuhyun, Hyerin-ah. Dia sangat membutuhkanmu! Dia akan merawatmu dan putrimu dengan baik! Tolong berikan dia kesempatan!” pinta Nyonya Cho sungguh-sungguh. Dia tidak perduli lagi dengan harga dirinya maupun tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya. Dia akan melakukan apapun demi putranya. Dia sudah menghancurkan hidup putranya sendiri dan dia harus bertanggung jawab.

“Ah,” Hyerin menggigit bibirnya ragu. “M-Maafkan aku, eommonim, tapi aku.. tidak bisaㅡ”

“Bangunlah, Nyonya Cho.”

Nyonya Cho terkejut mendengar suara lain yang menyela Hyerin. Dia kontan mengadah dan ternyata itu adalah suara Donghaeㅡ yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. “Kau tidak perlu melakukan ini. Hyerin sudah memaafkanmu, dan itu sudah lebih dari cukup. Kau tidak berhak meminta apapun lagi dari Hyerin.”

Deg. Rasanya seperti ada yang menampar Nyonya Cho dengan sangat keras. Dia benci mengakuinya tapi perkataan pria itu memang benar. Dia memang tidak berhak meminta apapun dari Hyerin setelah apa yang dia lakukan pada gadis itu.

“Ayo kita jemput Joon-ah, Hyerin. Ini sudah jam sebelas.” sela Donghae sembari menggandeng tangan Hyerin. Gadis itu mengangguk pelan, sekilas menatap Nyonya Cho dengan iba sebelum benar-benar pergi meninggalkan wanita itu seorang diri. Dalam posisi masih berlutut dilantai dengan wajah bersimbah air mata.

Na Yoorim yang menyaksikan mereka dari kejauhan sangat terkejut dan bingung apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Tapi dia hanya bisa diam ditempatnya dan menciptakan teori-teori sendiri di angannya. Karena jika dia menghampiri Hyerin, kemungkinan besar gadis itu akan syok, atau bahkan pingsan. Gadis itu pasti sangat takut padanya karena kejadian beberapa minggu yang lalu.

“Jaekyung-ssi!” 

Mendengar namanya dipanggil, Nyonya Cho berusaha berdiri dengan susah payah dan kembali duduk dihadapan Nyonya Na. Nyonya Na tidak berbicara apapun, alih-alih memberikan tisu pada Nyonya Cho untuk menghapus air matanya yang sudah melunturkan makeup tebal di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan, Jaekyung-ssi?” tanya Nyonya Na penasaran, menatap nanar Nyonya Cho yang masih menangis didepannya. “Apa yang kau lakukan.. pada Hyerin? Kenapa kau sampai seperti itu?”

“Aku.. telah berbuat jahat pada gadis itu, Yoorim-ssi.” aku Nyonya Cho sembari mengelap kedua matanya yang basah dengan tisu.

Nyonya Na menyipitkan matanya. “Berbuat.. jahat?”

“Selama ini aku tidak pernah baik padanya, aku selalu memakinya dan menuduhnya selama dia menjadi menantuku..” jelas Nyonya Cho dengan suara serak, air matanya kembali mengalir deras mengingat dosa-dosanya di masa lalu. “Bahkan ketika dia sudah bukan menantuku lagi pun, aku sempat mendorongnya hingga dia jatuh dan memaki-makinya dengan kata-kata kasar agar dia pergi dari kehidupan putraku.. Tapi sekarang, aku menyesal..”

Nyonya Na membeku. Lagi-lagi dia ditampar dengan kenyataan bahwa Ahn Hyerin tidak menemukan kebahagiaan di hidupnya. Mengetahui bahwa gadis itu telah melalui banyak rintangan seorang diri saja sudah cukup membuatnya tidak bisa hidup dengan tenang. Dan sekarang dia harus menerima kenyataan lagi bahwa gadis itu juga disakiti dan disiksa secara mental oleh orang-orang disekitarnya. Seolah beban di hidup yang ditanggung gadis itu belum cukup membuatnya menderita.

Tapi yang paling membuat hidupnya tidak tenang adalah, kenyataan bahwa dirinya lah dalang dari semua ini. Dirinya lah yang membuat gadis itu harus mengalami semua ini.

*

“Eomma!!” Joon-ah melangkah dengan riang kearah Hyerin dan Donghae yang sudah menunggunya didepan sekolahnya untuk menjemputnya. Ibunya itu langsung memeluknya dengan erat begitu Joon-ah sampai didepan mereka.

“Eomma, eomma, lihat, Joon-a dapat ini dari pak guru!” Joon-ah melepas pelukan ibunya lalu membuka tasnya, mengeluarkan dua buah lollipop berukuran besar yang dibungkus plastik pink dari dalam tasnya. “Ini untuk Joon-a, dan ini untuk eomma!” kata Joon-ah riang, memberikan salah satu lollipop itu untuk ibunya dan yang satunya lagi dia pegang.

Hyerin menerima lollipop itu dengan alis berkerut. “Untuk eomma?”

“Iya, kata pak guru untuk eomma.” jawab Joon-ah sambil mengangguk cepat meyakinkan ibunya.

“Memangnya pak gurumu.. tahu eomma?” tanya Hyerin bingung, melirik Donghae yang langsung memasang tampang cemburu.

“Mungkin..” jawab Joon-ah tidak yakin, ikut melirik Donghae yang tampak tidak senang. “Ahjussi mau permen ya? Kalau ahjussi mau, ambil saja punya Joon-ah.”

Donghae menggeleng. “Ani, Ahjussi tidak mau. Bilang pada gurumu, hati ibumu tidak bisa dibeli hanya dengan permen murah seperti itu.” cibirnya.

Hyerin menyikut lengan Donghae. “Yah, oppa, jangan bicara seperti itu!”

*

“Jaekyung-ssi, sebenarnya gadis itu.. Gadis itu adalah putri kandungku.”

“AㅡAㅡApa?” Nyonya Cho terkesiap. Sejenak mengira pendengarannya keliru. Namun keseriusan di wajah Na Yoorim menyakinkannya bahwa wanita itu benar-benar mengatakannya. Wanita itu baru saja mengatakan bahwa Hyerin adalah putrinya. Tidak mungkin. Ini sama sekali tidak mungkin. Tapi.. Kalau diperhatikan baik-baik, Nyonya Cho tidak bisa memungkiri bahwa wajah keduanya memang cukup mirip. Tatapan mereka yang lembut.. Hidung mereka.. serta raut wajah mereka. Astaga. Mereka memang mirip. Dan kenapa dia baru menyadarinya sekarang?

Bila Hyerin benar-benar putri dari Na Yoorim, berarti selama ini yang dituduhkannya salah. Gadis yang selama ini selalu dia rendahkan itu ternyata derajatnya malah lebih tinggi darinya, bahkan berasal dari keluarga terhormat. Dan berarti.. dia sudah terlanjur mengakui kelakuan bejatnya didepan ibu gadis itu sendiri.

“B-Bukankah Yoorim-ssi tidak punya anak?” tanya Nyonya Cho enggan, terlihat sangat malu dan ketakutan karena tertangkap atas perbuatan jahatnya pada Hyerin.

“Ya, Karena aku telah membuangnya. Ketika usianya 3 tahun, aku menyerahkannya ke orang lain.” bisik Nyonya Na parau dan bibirnya bergetar seperti menahan tangis. “Aku bisa saja marah padamu karena telah menyakiti putriku. Tapi aku sadar tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena aku lah yang paling kejam disini.”

Nyonya Cho benar-benar terkejut dan tidak tahu harus mengatakan apa—dia masih tidak menyangka bahwa Na Yoorim adalah orang yang melahirkan Hyerin, gadis yang sempat dia kira latar belakangnya tidak jelas itu. Dan sekarang dia kembali dikejutkan dengan fakta bahwa Na Yoorim membuang gadis itu. Dengan kata lain, berarti Na Yoorim lah yang membiarkan gadis itu menjadi pelacur dan membuatnya harus mengalami semua ini. Na Yoorim lah yang menghancurkan putrinya sendiri. Putrinya yang seharusnya mempunyai kehidupan lebih baik.

Tak sadar air mata mengalir dari pelupuk mata Nyonya Cho. Penyesalan dan rasa bersalahnya semakin dalam setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya mengenai Hyerin. Terlebih lagi saat dia teringat kata-kata wanita asing yang membela Hyerin tempo hari.

“Aku sangat mengenal Hyerin, aku tahu betul dia seperti apa.”

“Yang kau tuduhkan pada Hyerin sama sekali tidak benar. Suatu saat kau akan menarik kata-katamu dan menyesalinya.”

*

4 years ago..

Ahn Hyerin terlihat sedang berjalan cepat kearah pria tampan dengan setelan abu-abu yang berdiri didepan mobil audi hitam itu. Pria tampan itu, Cho Kyuhyun, kelihatan terkejut melihat Hyerin yang tersenyum padanya dengan bibir bergetar, kedua tangannya memeluk bahunya sendiri yang hanya dilapis blus merah muda.

“Yang benar saja, Hyerin-ah.. Kau pakai baju begitu disaat salju seperti ini?” omel Kyuhyun kesal. Tapi toh melepas jubah abu-abunya dan menyampirkannya dibahu gadis itu. Dan setelah memakaikan jubahnya, pria itu menggosok-gosok telapak tangan Hyerin lalu meniup-niupnya agar tetap hangat.

Hyerin hanya menunduk. “M-Mian, oppa.”

“Besok lagi aku tidak mau melihatmu kedinginan seperti ini. Arrachi?” kata Kyuhyun tegas dan gadis itu hanya mengangguk lemah. Kyuhyun mendengus geli. “Aku tidak marah, sayang.” katanya sambil mencium kening gadis itu, lalu menggandeng tangannya dan berjalan beriringan kearah parkiran.

“Malam tahun baru ini mau kemana sayang?” tanya Kyuhyun.

“Dirumah saja.”

Kyuhyun mengerenyit. “Ng?”

“Aku hanya ingin selimutan dan tidur nyenyak disebelah oppa.” jawab Hyerin dengan wajah polosnya.

“Kelihatannya menyenangkan.” Kyuhyun tertawa sambil mencubit pipi gadis itu yang sedikit berisi dengan gemas. “Kalau begitu ayo pulang, aku sudah tidak sabar.”

Yah, Seperti pengantin baru pada umumnya, Mereka terlihat bahagiaㅡ sangat bahagia, sampai-sampai tidak menyadari sebuah tatapan yang sedari tadi mengintai mereka. Tatapan kesakitan dari seorang Lee Donghae. Donghae memperhatikan pasangan itu dari kejauhan; dadanya terasa sangat sesak dan sakit menyadari bahwa seharusnya dialah yang berada di posisi pria itu. Dialah yang selalu perhatian pada Hyerin dan berada didekat Hyerin selama ini. Tapi, kenapa pria itu yang baru saja dikenalnya yang malah jadi suaminya?

“Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, Lee Donghae.”

Suara lembut yang menggoda itu terdengar dibelakangnya. Lee Donghae tertegun ketika menoleh dan menemukan seorang wanita yang sangat cantik dan anggun tersenyum manis padanya. Oh, Dia tahu wanita ini. Choi Sekyung, sekretaris dari perusahaan Cho Enterprise yang sempat viral karena kecantikannya. Mereka pernah bertemu di suatu seminar, Tapi seingatnya dia tidak pernah ada urusan dengan wanita ini. Wanita ini yakin berbicara dengannya?

Dan seolah membaca pikiran Donghae, wanita itu berkata, “Ya, aku berbicara padamu. Kau beruntung sekali.”

Donghae mengerutkan alis. Beruntung? Ya, seharusnya memang begitu karena Choi Sekyung sangat sulit didekatiㅡ dan mungkin teman-temannya akan menghajarnya jika tahu wanita ini yang bahkan mendekatinya duluan. “Apa ada yang perlu kita bicarakan?” tanya Donghae curiga.

“Gadis itu..” Sekyung mengalihkan pandangannya kearah Hyerin dengan tajam, senyum manisnya memudar dan wajah cantiknya menjadi sedikit menyeramkan. “Kau suka padanya kan?”

Donghae tertegun. Apa-apaan ini? Mereka baru saja bertemu dan wanita ini langsung menanyakan hal sepribadi itu? Dan bagaimana juga dia bisa tahuㅡ

“Bukannya aku mau merendahkanmu, tapi sepertinya tidak akan ada harapan untukmu. Kau tahu siapa suaminya?” tanya Sekyung, yang hanya dijawab oleh tatapan bingung dari Donghae.

“Dia bossku.” kata Sekyung tajam. “Cho Kyuhyun. Direktur utama perusahaan Cho Enterprise. Sangat menjengkelkan bukan? punya saingan setinggi itu?”

Kilat terkejut di mata Donghae yang membelalak membuat Sekyung tertawa geli. Pria itu menatapnya seolah ingin menampar mulutnya atau menelannya hidup-hidup.

“Tapi aku bisa mengubah takdirmu.” kata Sekyung santai. “Aku bisa membuatmu bersama gadis itu.”

Donghae terperangah. “A-Apa maksudmu?”

“Bantu aku mendapatkan Cho Kyuhyun, dan aku akan membantumu mendapatkan gadis itu.”

Ekspresi Sekyung yang kelihatan sama terlukanya dengannya membuat Donghae sadar maksud wanita ini; dia menyukai atasannya sendiri, yang sangat kebetulan adalah suami Hyerin. “Aku tidak menyangka seorang Choi Sekyung yang anggun itu ternyata seorang wanita yang menyedihkan.” cibir Donghae.

“Bukankah kau juga menyedihkan?” Sekyung mendengus sinis. “Seorang Lee Donghae yang punya jabatan cukup tinggi dan dipuja banyak wanita ternyata masih belum bisa move on dari gadis yang sudah menjadi istri orang. Pikirkan lagi, Lee Donghae.”

“Gadis itu sudah hamil.” tutur Donghae masam, hatinya terasa sesak setiap kali mengakui kenyataan itu. “Sudahlah, tidak perlu berusaha lagi. Itu sulit, Kau tahu itu. Terima saja kenyataan bahwa mereka memang sudah bahagia.”

Sekyung tersenyum melihat Donghae yang mulai kelihatan rapuh. “Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, meskipun itu hal sulit sekalipun.”

Donghae mengerutkan dahi. Dia benar-benar tidak habis pikir wanita ini mau melakukan hal selicik itu. Kerutan di dahi Donghae semakin dalam ketika Sekyung merogoh saku blazernya, memberikan kartu kecil berwarna putih untuknya dan membisikan sesuatu di telinganya, “Ini kartu namaku. Hubungi aku jika kau berubah pikiran.”

Sekyung mengedipkan mata kanannya sebelum kemudian meninggalkan Lee Donghae sendirian dikoridor yang mulai gelap itu dengan penuh kebimbangan.

“Oppa?”

Lee Donghae bergidik, lamunannya membuyar dan sontak menatap Hyerin yang sedang melambai-lambaikan tangannya didepan wajahnya.

“N-Neh? Hyerin-ah?” Donghae menyengir bodoh. Gawat, pasti dia ketahuan sedang melamun lagi. “Maaf, a-aku..”

“Wajahmu pucat.. Kau sakit?” tanya Hyerin khawatir. Gadis itu memajukan kursi kayu yang didudukinya agar lebih dekat dengan Donghae, lalu menempelkan punggung tangannya pada kening pria itu, dan detik kemudian wajah cantiknya berubah panik. “Oppa.. keningmu panas.”

Donghae memaksakan senyum. “Suhu tubuhku memang begini, Hyerin-ah.”

Hyerin mendesah, “Maaf, oppa.. seharusnya aku pergi sendiri, tidak usah memintamu untuk menemaniku.” ucapnya menyesal, menatap Donghae dengan iba. “Nanti malam tinggal menyiapkan kartu undangan, kok. Biar aku yang mengerjakannya sendiri. Oppa istirahat saja, ya?”

Donghae menyingkirkan tangan Hyerin dari wajahnya dan menggenggamnya erat diatas meja makan. “Aku tidak apa-apa, Hyerin-ah..”

“Apanya yang tidak apa-apa, oppa? Kauㅡ”

“Aku hanya sedang memikirkan soal Nyonya Cho kemarin.” sela Donghae, membuat Hyerin menatapnya dengan terkejut.

“N-Nyonya Cho?”

Donghae menatap lurus Hyerin didepannya. “Hyerin-ah, Kau.. Apakah kau sempat berpikir untuk mengabulkan pemohonannya? untuk kembali dengan Kyuhyun?”

“N-Neh? Tentu saja tidak..” jawab Hyerin lalu memalingkan wajahnya, seolah tidak ingin Donghae melihat ekspresinya saat ini. Tapi Donghae bisa melihat setitik keringat yang mengalir dari pelipis gadis itu.

“Eomma!! Joon-a sudah telat!!” teriak Joon-ah tiba-tiba dari depan teras.

“Iya, Joon-ah!” sahut Hyerin lantang, lalu melirik Donghae dan menggandeng tangan pria itu. “K-Kita harus segera mengantar Joon-ah. Kajja.”

Donghae hanya menurut, terpaksa mengikuti Hyerin menghampiri Joon-ah yang sudah menunggu untuk diantar kesekolah.

*

19:30

Ahn Hyerin menghabiskan setengah jam terakhir dengan duduk di sofa ruang tamu sembari menghias kartu undangan pernikahannya dengan manik-manik yang dibelinya di toko kerajinan tangan. Senyum lembut mewarnai wajah cantiknya setelah selesai menghias beberapa kartu undangannya. Hasilnya sangat elegan dan cantik; nama Hyerin dan Donghae tertera dibagian depannya yang berwarna ungu muda, sementara di sisi kanan dan kirinya ditempeli manik-manik berbentuk kupu-kupu kecil dan bintang berwarna-warni namun tetap terlihat simple.

Hyerin baru saja akan melanjutkan menghias kartu yang lainnya tapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu menarik-narik piyamanya dari samping.

“Oh, Joon-ah-ya, belum tidur?” tanya Hyerin ketika menemukan Joon-ah yang sekarang duduk disebelahnya dengan membawa gulali berwarna pink ditangannya.

“Eomma, eomma dapat permen lagi dari Pak guru Kim.” kata Joon-ah tanpa ekspresi, memberikan gulali itu pada Hyerin.

Lagi? Hyerin mengerutkan alis, menerimanya dengan ragu. Seperti apa sosok ‘pak guru’ itu? Apa maksudnya dia memberikan makanan manis ini pada Hyerin? Dia jadi merasa seperti dimata-matai.

“Pak guru bilang dia ingin lebih dekat dengan eomma.” ujar Joon-ah polos.

Hyerin tertegun. Yang benar saja, memangnya mungkin ada yang diam-diam tertarik padanya? Padahal Hyerin sama sekali tidak merasa dirinya menarik..

“Tapi..” sela Joon-ah, wajahnya berubah muram. “Joon-ah tidak mau eomma bersama dia.”

Hyerin tidak bergeming, masih menatap putrinya itu dengan bingung.

“Joon-ah hanya mau eomma bersama Kyuhyun ahjussi.”

Deg. Lagi-lagi perkataan putrinya membuat dadanya sesak. Seandainya masih ada harapan untuk mereka berdua, Hyerin juga pastiㅡ Tidak, Hyerin. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakannya. Dia hampir berhasil, dia tidak boleh berhenti disini. Tapi..

Hyerin menghela nafas berat, menatap putrinya yang tertunduk sedih disampingnya. Ya tuhan, apa yang harus dia lakukan? Dia benar-benar bingung..

*

Ahn Hyerin menatap refleksi dirinya di cermin panjang itu dengan sendu. Dia tidak menyadari betapa cantiknya dirinya dengan wedding dress berwarna putih susu dan riasan wajah yang membuat pangling itu. Yang dia lihat di cermin sekarang ini hanyalah seorang gadis  yang menyedihkanㅡ yang tidak pantas bersanding dengan pria sempurna seperti Cho Kyuhyun. Pria itu punya segalanya; tahta, harta dan berasal dari keluarga terhormat. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya pegawai biasa yang ditemuinya di pinggir jalan. Yah, Awalnya dia juga sempat bingung kenapa pria ini memilihnya diantara gadis-gadis lainnya yang mencuri perhatiannya.

“Hyerin-ah.. sebentar lagi resepsi pernikahan kita dimulaiㅡ” kalimat Kyuhyun terpotong ketika melihat refleksi wajah cantik calon istrinya yang sendu di cermin. “Hyerin-ah, ada apa?”

“Kyuhyun oppa, Apakah.. aku akan menjadi istri yang baik untukmu?” Hyerin mendesah, “Entahlah, aku hanya sedikitㅡ”

Kyuhyun mendengus. “Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku memilihmu karena bagiku kau yang terbaik untukku.”

Jantung Hyerin berdegup sangat kencang begitu melihat refleksi Kyuhyun yang berjalan menghampirinya. Pria itu menghela nafas ketika dia sudah berdiri dibelakang Hyerin. Kyuhyun terlihat sangat tinggi dibelakang Hyerinㅡ hingga gadis itu merasa semakin kecil.

“Kenapa kau berpikir begitu? aku bahkan berbeda dengan gadis-gadis disekelilingmu itu, oppa. Aku tidak punya orang tua, dari dulu aku selalu hidup sendirian, entah kenapa aku merasa tidak pantas..” Hyerin terdiam sejenak, setiap kata-katanya yang meluncur dari bibirnya menorehkan luka di hatinya sendiri.

“Tapi aku harap aku tidak ditakdirkan seperti ini..” lanjut Hyerin sebelum detik kemudian jantungnya hampir melonjak dari dadanya. Kyuhyun meletakkan dagunya di pundaknya dan membisikkan sesuatu di telinganya, “Kau tahu.. Jika takdir berkata lain, mungkin saja kau bukanlah dirimu yang sekarang ini kan?”

Kyuhyun memeluk pinggang Hyerin, menatap wajah cantik gadis itu didepan cermin. “Jika takdir berkata lain.. Mungkin kau tidak akan memiliki hati yang sangat baik dan sekuat seperti sekarang ini. Mungkin kau tidak akan menjadi secantik ini. Mungkin kau bukanlah gadis yang membuatku tergila-gila. Atau mungkin saja.. aku tidak pernah menemukanmu, Hyerin-ah..”

Ahn Hyerin tersentak dan bangkit dari tidurnyaㅡ otomatis menghadap cermin besar didepan ranjang yang ditidurinya. Gadis itu terkejut ketika melihat bayangan wajahnya yang bersimbah air mata di cermin. Dia memimpikan pria itu lagi. Dan ini bukan pertama kalinya dia memimpikan pria itu. Sebut saja dia gila, karena sejujurnya dia masih belum bisa berhenti memikirkan pria itu. sekeras apapun dia berusaha untuk tidak melakukannya. Dia mungkin bisa menutupinya dengan terlihat baik-baik saja dan membohongi perasaannya sendiri, Tapi dia tidak tahu sampai kapan dia bisa terus berpura-pura seperti ini.

Padahal Hyerin mengira akan segera memulai hidup baru yang lebih bahagia dan melupakan masa lalunya, tapi ternyata tidak semudah itu. Putrinya juga belum siap menerima Donghae sebagai ayahnya, dan begitu juga dengan dirinya. Sejujurnya dia juga belum siap menikah dengan Donghae. Dia memang mencintai Donghae; dia selalu merasa nyaman berada didekatnya, tapi belum bisa menganggapnya sebagai seorang kekasih. Padahal dia sudah berusaha mencintai Donghae sepenuh hatinya tapi..

Nafas Hyerin tercekat. Gadis itu lantas memeluk lututnya lebih erat, membenamkan wajahnya yang basah diatas lututnya. Dia terisak hingga bahunya terguncang-guncang. Tidak. Bukannya dia tidak bersyukur atas takdir yang diberikan tuhan untuknya. Tapi dia hanya ingin tahu.. kapan gilirannya menemukan kebahagiannya? Kenapa dia selalu gagal setiap kali ingin berusaha untuk bahagia?

“Hei..”

Hyerin mengangkat wajah, jantungnya berdegup kencang begitu matanya menangkap sosok Lee Donghae yang tahu-tahu sedang memperhatikanya dari depan pintu kamarnya yang terbuka.

“Hye..” Donghae berjalan menghampirinya dengan langkah pelan dan hati-hatiㅡ seolah takut gadis itu akan berteriak dan menyuruhnya meninggalkannya sendiri seperti yang dilakukan gadis-gadis lain pada umumnya. Tapi Hyerin malah sebaliknya. Dia malah sangat ingin seseorang berada disisinya dan menenangkannya disaat seperti ini. Meskipun nantinya dia akan bilang bahwa dirinya tidak apa-apa.

Donghae duduk disamping Hyerin, mengelus rambut panjangnya dengan lembut seperti yang biasa dia lakukan. “Kenapa kau menangis?”

“Aku hanya sedang cengeng, oppa.” Hyerin tertawa kecil, yang sialnya malah membuat air matanya mengalir lebih banyak lagi.

Donghae menghela nafas panjang, lalu berkata.. “Kita batalkan saja semuanya, Hyerin-ah.”

“AㅡAㅡApa?” Hyerin terperangah. Sejenak mengira pendengarannya salah. Mana mungkin Donghae membatalkannya semudah itu?

Donghae menjauhkan kedua tangannya dari tubuh Hyerin dan memalingkan wajahnya. “Kita tidak bisa menikah seperti ini, Ahn Hyerin.”

“Kau tahu, orang yang menikah adalah orang yang saling tulus mencintai. Karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral.” Donghae tersenyum miris, matanya menatap kearah lain dengan hampa. “Jika kau tidak tulus melakukannya.. maka sebaiknya kita batalkan saja.”

“Kembalilah pada Cho Kyuhyun, Hyerin-ah.”

Hyerin tertegun, menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca. “O-Oppa..”

“Ini semua salahku, Hyerin-ah. Seharusnya kalian tidak berpisah..” Donghae menghela nafas berat, sangat berat. Dia tahu perkataannya setelah ini akan membuat Hyerin semakin terluka, tapi dia sudah memutuskan untuk mengatakannya sekarang. Dia tidak ingin gadis itu mempercayainya lebih lama lagi dan mengecewakannya lebih jauh lagi.

“Mungkin kau akan membenciku setelah ini tapi.. akulah yang telah memisahkanmu dengan Cho Kyuhyun.”

Hyerin masih membeku ditempatnya dengan mata terpancang pada wajah Donghae yang sendu, Sepertinya masih berusaha mencerna kalimat Donghae yang sulit dimengerti. “A-Apa maksudmㅡ”

“Sebenarnya aku.. Aku dan Sekyung berkerja sama, Hyerin-ah.”

Deg. Rasanya ada yang menghujam jantung Hyerin dengan sangat keras. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Lee Donghae tidak mungkin melakukan itu kan? Dia bercanda kan?

“Ya, Hyerin-ah. Aku yang melakukannya. Aku telah menghancurkan pernikahan karena keegoisanku untuk memilikimu.” ujar Donghae memperjelas semuanya.

Hyerin tersentak. tangannya refleks membungkam mulutnya untuk tidak menjerit dan air matanya menyeruak membasahi kedua pipinya. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit saking syoknya. Benar-benar tidak menyangka Lee Donghae tega melakukan semua ini.

“Tapi.. aku tidak tahu kalau Sekyung sampai memberikan foto-foto masa lalumu pada Kyuhyun.” jelas Donghae dengan suara bergetar. “Aku tidak tahu kalau Sekyung sampai sekejam itu. Dan aku sangat kaget ketika dia bilang dia melakukan itu..”

PLAK!

“KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!!” bentak Hyerin keras, air matanya mengalir semakin deras. Dan seakan belum puas hanya menampar pria itu, Hyerin memukuli Donghae bertubi-tubi. Pria itu hanya diam dan membiarkan Hyerin melampiaskan kekesalannya sepuasnya.

“AKU BENCI PADAMU, LEE DONGHAE!! AKU BENCI!!! AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAHMU LAGI!! KAU BENAR-BENARㅡ”

Bruk!

Donghae tertegun begitu Hyerin terkulai lemas dan ambruk didadanya tiba-tiba.

“Hye.. Hyerin?” panggil Donghae panik, menggoyang-goyangkan tubuh Hyerin beberapa kali tapi gadis itu tak menunjukan tanda-tanda kesadarannya. Gadis itu tak sadarkan diri. “Hyerin-ahㅡ”

Donghae memeluk erat tubuh Hyerin yang sudah tak berdaya, air matanya membasahi bahu gadis itu. “Maafkan aku, Hyerin-ah..”

*

Ahn Hyerin menusuk-nusuk daging di piringnya dengan garpu dan memasukkannya kedalam mulutnya. Dia tidak langsung mengunyahnya, alih-alih hanya menggigitinya sedikit demi sedikit. Bukannya masakan Nyonya Lee tidak enak, Hanya saja dia merasa tidak nyaman; masih berada disini dan berpura-pura baik-baik saja pada Donghae setelah mengetahui apa yang pria itu lakukan padanya. Ya. Hyerin terpaksa harus bertahan tinggal dirumah ini. Di rumah kediaman Lee.

Dia bisa saja kabur dari sini, tapi dia memikirkan putrinya, Joon-ah. Dia juga sudah janji pada putrinya itu untuk mengambil raportnya bersama Donghae hari ini. Hyerin tidak mau mengecewakan putrinya lagi. Dia sudah memisahkan Joon-ah dari ayahnya dan dia tidak ingin memisahkannya lagi dengan Donghae.

“Eomma?”

Hyerin berhenti menggit makanannya dan menatap Joon-ah didepannya yang tengah memperhatikan wajahnya dengan alis berkerut.

“Mata eomma kenapa?” tanya Joon-ah penasaran melihat mata ibunya yang sembab.

“Oh?” Hyerin mengerjap. “Ini.. Eomma hanya kurang tidur. Tadi malam tidak bisa tidur.” jawab Hyerin berbohong.

Donghae yang duduk diseberang gadis itu hanya memperhatikan mereka dalam diam, daging yang dikunyahnya mendadak dingin dan sudah tidak ada rasanya.

*

“Eomma.. Ahjussi.. Kenapa diam saja dari tadi?” tanya Joon-ah bingung. Ibunya hanya menatap keluar jendela dalam diam, dan Donghae terlihat fokus menyetir, dia bahkan tidak menegur Joon-ah yang iseng mengotak-ngatik semua benda dimobilnya. Padahal dia biasanya marah-marah. Tapi pagi ini, Joon-ah hanya mendengar lagu indie yang mengalun di mobil.

“Tidakㅡ” jawab Donghae dan Hyerin berbarengan. Keduanya saling menatap dengan terkejut, dan tak sengaja kembali berbicara berbarengan lagi, “Kamiㅡ”

“Kami sedang mendengarkan lagu, Joon-ah-ya. Ini lagu kesukaan kami. I-Iyakan, oppa?” sela Hyerin sembari melirik Donghae dengan berat hati. Donghae menggangguk mantap agar Joon-ah percaya, bersamaan dengan mobilnya yang berhenti.

“Cah, Joon-ah turun duluan.” suruh Donghae setelah melepaskan sabuk pengaman Joon-ah dan membiarkan gadis itu keluar dari mobilㅡ diikuti dengan Hyerin dibelakangnya.

“Hyeㅡ” cegat Donghae menarik tangan Hyerin.

Hyerin menoleh, menatap pria itu dengan kilat dendam dan menggeleng. “Aku tidak tahu harus berkata apa.. Donghae oppa. Aku benar-benar kecewa padamu.” katanya dengan suara pelan, takut Joon-ah mendengar perkataannya.

Donghae terbungkam. Apa yang dia lakukan? Dia mau minta maaf? Apa dia pantas meminta maaf setelah apa yang dia lakukan pada gadis ini? Tidak. Dia tidak berhak meminta apapun pada gadis ini. Sebaliknya, dia harus menerima hukuman atas semua hal kejam yang telah dia lakukan.

“Lepaskan aku.” Hyerin menepis genggaman Donghae yang mulai melonggar, lalu berjalan mendahului pria itu untuk mengantar putrinya masuk kedalam sekolah. Dadanya terasa sakit. Rasanya sangat sakit mengingat Lee Donghae yang biasanya membuatnya tersenyum. Tapi mulai hari ini, pria itu berubah menjadi orang yang paling membuatnya sedih.

“Eomma, Joon-a mau main sama teman-teman Joon-a dulu ya! dikelas sebelah!” seru Joon-ah ketika mereka hampir sampai di koridor sekolah.

“Ne, hati-hati ya sayang. Kalau begitu eomma dan Hae ahjussi mengambil raportmu dulu.” kata Hyerin yang dijawab dengan anggukan Joon-ah.

*

Hyerin tersenyum bangga melihat nilai-nilai putrinya di buku rapor yang ditunjukkan wali kelasnya, Ms.Jung. Joon-ah mendapat nilai yang memuaskan di setiap mata pelajaran dan sukses meraih ranking pertama dikelasnya. Padahal Hyerin tidak sepintar putrinya dulu. dia tidak pernah mendapat nilai sempurna meskipun dia pernah mendapat beasiswa ke jepang. Tapi dia tahu dari mana Joon-ah mewarisi kecerdasan seperti ini. Yah, tahu kan dari siapa?

“Joon-ah anak paling pintar dan populer dikelasnya.” kata Ms.Jung pada Hyerin dan Donghae yang duduk didepannya.

Hyerin tersenyum lebar. “Benarkah?”

“Tapi..” Ekspresi Ms.Jung berubah menjadi tidak nyaman, sepertinya dia akan menodai kabar baik yang sudah disampaikannya.

Hyerin mengerenyit. “T-Tapi apa, Miss?”

“Akhir-akhir ini dia terlihat sangat tidak semangat.. Dan tidak ada yang bisa menghiburnya.” tutur Ms.Jung, “Teman-temannya sudah mengajaknya main tapi Joon-ah tetap memilih untuk menyendiri. Joon-ah tidak pernah seperti ini biasanya.”

“A-Apa? Padahal dari kemarin dia terlihat sangat ceria. Kukira diaㅡ” Hyerin tertegun. Jadi.. dari kemarin itu Joon-ah hanya berpura-pura senang didepannya? Ya tuhan, apa yang telah dia lakukan pada putrinya?

“Sebaiknya ibu tanyakan pada Joon-ah apakah ada masalah yang sedang dihadapinya dan mencoba membantunya. Karena dia sama sekali tidak terbuka pada kami..” ujar Ms. Jung menyesal.

“Ya.. A-Aku akan melakukannya, Tentu saja.” jawab Hyerin. Yah, dia sudah tahu betul ‘masalah’ yang sedang dihadapi Joon-ah tapi dia masih belum tahu bagaimana cara mengembalikan keceriaan gadis itu.

“Oh ya, ngomong-ngomong.. Aku ingin bertemu Tuan Kim.” Hyerin berdehem, mengalihkan pembicaraan. “Itu.. Pak guru yang kemarin memberi sejumlah permen pada Joon-ah. 

Ms.Jung mengerenyit. “N-Neh? Tuan Kim? Tapi.. disini tidak ada guru laki-laki. Hanya wanita saja.”

Hyerin dan Donghae disebelahnya tersentak. “A-Apa?”

“M-Memangnya ada apa, Nyonya Ahn?”

Hyerin menggigit bibir bawahnya, keringat dingin tak sadar membasahi pelipisnya. “Sudah dua hari ini dia memberi permen pada Joon-ah. Satu untuk Joon-ah dan satu untukku..” jelas Hyerin parau, bulu romanya merinding ketika mengingatnya.

Ms.Jung menatap Hyerin dengan terkejut. “Sebaiknya jangan menerima barang begitu saja. Kita harus waspada karena akhir-akhir ini banyak kasus pedofilia. Jika perlu, hubungi polisi secepatnya. Dimana Joon-ah sekarang? Apa dia dirumah?”

Nafas Hyerin tercekat. Oh Tidak. “D-Dia sedang bermain di kelas sebelahㅡ”

“Biar aku menyusulnya.” Donghae bangkit dari kursinya dan berlari keluar dari kelas untuk menemui Joon-ah. Dia harus memastikan gadis itu baik-baik saja sekarang. Gadis itu bisa saja dalam bahaya.

“M-Maaf, aku jugaㅡ” Baru saja Hyerin ikut bangkit dari kursinya, tiba-tiba saja ponsel didalam tas jinjingnya berdering. Gadis itu kontan mengambilnya ponselnya dari sana dan hatinya mencelos melihat siapa yang meneleponnya. Nomor tidak dikenal. Tapi karena penasaran, gadis itu tetap mengangkatnya meski dengan tangan gemetaran. Firasatnya tidak enak.

“H-Halo..” gumam Hyerin.

“Ah, Halo, Hyerin. Rasanya sangat tenang mendengar suaramu.”

Deg. Suara lembut seorang pria diseberang sana membuat Hyerin sedikit takut. “S-Siapa ini?”

“Kau tidak mengenalku? Ah, aku terluka. Ternyata secepat itu kau melupakanku.” katanya dengan suara dibuat-buat.

Hyerin tertegun. Suaranya tidak asing. Hyerin pernah mendengarnyaㅡ tidak, sering mendengarnya malah. Tapi dia sama sekali tidak ingat siapa pemilik suara lembut ini. Dan itu membuatnya semakin ketakutan setengah mati.

“Aku ingin bertemu denganmu, Hyerin-ah.”

“A-Aku tidak ingin bertemu denganmu.” kata Hyerin parau, jari-jari tangannya terasa dingin saking ketakutannya. Ini sangat aneh. Jangan-jangan diaㅡ

“Tapi kau ingin bertemu dengan putrimu, kan?”

Hyerin terperangah. “AㅡAㅡApa?”

“Jika kau ingin bertemu dengan putrimu, temui aku di pertokoan Insa-Dong. Di depan kafe Dorothy. Waktunya sepuluh menit dari sekarang. Datanglah sendirian dan jangan lapor polisi. Jika kau tidak menepati ketentuan itu, jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada gadis ini.”

Hyerin memekik kaget. Jantungnya seakan terlepas dari tempatnya. “J-JANGAN SENTUH DIA!!”

“Aku tidak akan menyentuhnya jika kau tepat waktu.” suara lembut pria itu berubah menjadi dingin dan tegas. “Sepuluh menit.”

Nafas Hyerin kembali tercekat begitu sambungannya diputus dari pihak sebelah. Benaknya langsung dipenuhi pikiran-pikiran negatif sementara tubuhnya bergetar hebat akibat ketakutan yang amat sangat. Demi tuhan, siapa pria kejam itu? Apa yang dia mau dari Hyerin sehingga menculik Joon-ah?

“Maaf, aku harus pergiㅡ” kata Hyerin pada Ms. Jung, lalu bangkit dan berlari keluar dari kelas itu dengan tergesa-gesa. Tangannya yang bergetar hebat menggenggam ponselnya dengan sekuat tenagaㅡ berusaha untuk tidak menjatuhkan ponselnya.

“HYERIN-AH!!”

Langkah Hyerin terhenti ketika mendengar suara berat dibelakangnya. Dia tahu itu suara Donghae. Dan dia tidak ingin mendengar laporan pria itu karena tidak menemukan putrinya. Dia juga tidak butuh bantuan dari pria itu.

“Hyerin-ah, K-Kau mau kemana?”

Hyerin tidak menjawab, dia kembali berlari sekencang-kencangnya. Tidak mempedulikan Donghae yang terus memanggil-manggilnya dan mengejarnya. Sepuluh menit. Waktunya hanya sepuluh menit dari sekarang. Dia harus segera tiba dalam waktu sepuluh menit atau putrinya takkan selamat.

Hyerin melihat taksi yang kebetulan lewat didepannya dan memberhentikannya, kemudian masuk kedalamnya. Donghae yang berhasil mengejarnya mengetuk-ngetuk jendela taksi dan meneriak-neriakan namanya tapi gadis itu menyuruh supirnya untuk segera pergi.

“Ke pertokoan Insa-Dong. Tolong sedikit cepat.” perintah Hyerin. Supir itu menggumam ‘baik’ lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Donghae yang masih berdiri ditempatnya dengan mata terpancang pada taksi yang mulai menjauh dengan wajah pucat.

*

Sepuluh menit berlalu, Hyerin berdiri dipinggir pertokoan Insa-Dong yang cukup sepi dan gelap karena mendung; didepan salah satu kafe mungil bertema inggris era 70an yang terdapat plang bertuliskan ‘Dorothy’ diatasnya. Dia yakin pria asing itu menyuruhnya untuk menemuinya disini. Tapi dia sama sekali belum menemukan pria asing itu dan putrinya.

Hyerin menutup mata, wajahnya bersimbah air mata dan jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya siap meledak kapan saja. Ya Tuhan, tolong jangan biarkan apapun terjadi pada putrinya. Gadis itu mengucapkan berbagai janji dan sumpah didalam hati asalkan putrinya tidak apa-apa.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jika ada sesuatu, hubungi aku.”

Deg. Tiba-tiba Hyerin teringat kata-kata Kyuhyun tempo hari. Hyerin perlahan menatap ponsel digenggamannya, mencari kontak pria itu dan menggigit bibirnya bimbang. Mau tidak mau dia harus menghubunginya.

*

Sekumpulan orang berpakaian formal duduk gelisah di ruang rapat. Sesekali mereka menatap jam tangannya, keringat dingin membasahi pelipis mereka dan wajah mereka pucat menunggu sang direktur yang akan masuk ke ruangan itu sebentar lagi.

“Kita bisa mati..” gumam yang satunya lagi ngeri. Mereka tahu betul atasan mereka itu, Cho Kyuhyunㅡ adalah orang yang tegas, perfeksionis dan sangat disiplin. Jika dia sudah memberikan tugas pada anak buahnya, dia mau semuanya selesai dan berhasil sesuai keinginannya. Dia tidak akan mau tahu bagaimana caranya dan apapun alasannya. Dan bisa dibayangkan betapa murkanya dia jika tahu proyek besar kebanggaannya yang dikerjakan anak buahnya gagal.

Detik berikutnya derit pintu yang terbuka mengagetkan mereka semua. Cho Kyuhyun masuk dengan tampang dinginnya dan duduk didepan layar proyektor, dikursi paling tengah. Seketika suasana menjadi hening dan mencekamㅡ seolah mereka semua akan menerima eksekusi mati.

“T-Tuan Cho..” salah satu pegawai wanita berambut pendek memecahkan keheningan, membuat semua perhatian tertuju padanya.

“K-Kami benar-benar minta maaf..” pegawai itu menundukkan kepalanya, tubuhnya menegang bersiap menerima bencana apapun yang akan datang sebentar lagi. “Kami.. sudah berusaha sebisa mungkin yang kami bisa. Tapi proyek yang kami kerjakan gagal. Kamiㅡ”

“Tidak apa-apa.” sela Kyuhyun tenang, membuat satu ruangan menatapnya dengan terkejut.

“Mulai sekarang kita tidak usah menjalankan proyek apa-apa dulu.” lanjutnya.

Ketakutan di wajah para pegawai itu seketika sirna. Ternyata Kyuhyun tidak marah seperti yang mereka bayangkan. Alih-alih menerima kegagalan pegawainya dengan lapang dada. Dan ini pertama kalinya bagi mereka melihat Cho Kyuhyun yang ambisius berkata setenang itu. Biasanya pria itu akan sangat marah jika harapannya tidak terpenuhi.

“Lebih baik perusahaan ini tidak mendapat keuntungan daripada beresiko mengorbankan kalian.” kata Kyuhyun bijak, wajahnya yang biasanya terlihat dingin sekarang terlihat sangat ramah dan berwibawa. “Perusahaan ini tidak akan berjalan tanpa ada kalian. Bukankah begitu?”

Para pegawai mengangguk-ngangguk pelan, menatap Kyuhyun dengan senyum cerah di wajah mereka. Suasana yang mencekam itu berubah menjadi sedikit tenang. Tapi itu tidak berlangsung lama setelah ponsel Kyuhyun berdering keras dan mengagetkan pria itu. Oh, ini pasti dari mitra kerjanya.

“A-Aku permisi dulu. Kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing.” kata Kyuhyun sambil melangkah keluar ruang rapat dengan ponsel digenggamannya.

Mereka semua menghela nafas lega dan saling melempar senyum ketika Kyuhyun keluar dari ruangan. Yah, mereka senang. Tapi disisi lain mereka juga bingung. Ini sama sekali bukan Cho Kyuhyun. Pria itu tidak pernah terlihat seputus asa ini.

“Ada apa dengan Tuan Cho?” tanya salah satu pegawai itu penasaran.

Pegawai wanita yang duduk disebelahnya mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya dia sedang ada masalah..”

Yang lainnya terlihat khawatir. “Dia tidak akan mengundurkan diri sebagai CEO kan?”

*

Kyuhyun spontan terbelalak ketika melihat siapa yang meneleponnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bukan, itu bukan dari mitra kerjanya. Tapi dari Hyerin. Dan dia tidak tahu harus senang atau curigaㅡ Karena Hyerin tidak mungkin mencoba menghubunginya. Apa ada sesuatu yang terjadi?

“Haloㅡ” kata Kyuhyun dingin setelah mengangkat teleponnya.

“Kyuhyun-ssi, K-Kau.. bisa bantu aku?”

Kyuhyun mengerenyit. Suara gadis itu terdengar panik dan membuat firasatnya menjadi tidak enak. “Bantu apa, Hyerin-ah?”

“Joon-ah.. Joon-ah diculik. Dan aku disuruh menemui penculiknya di pertokoan Insa-Dong.”

“AㅡAㅡApa?” Rasanya ada yang menarik arwah Kyuhyun dari tempatnya. Pria itu hampir saja menjatuhkan ponselnya tapi dia harus menahannya untuk tetap terhubung dengan gadis itu.

“Dimana kau sekarang? Sudah disana?” tanya Kyuhyun dingin, mencoba terdengar tenangㅡ meskipun sebenarnya dia jauh berbalik dari kata tenang. Tapi dia tidak ingin membuat gadis itu semakin panik.

“Ya, Di depan kafe Dorothy. Mereka menyuruhku datang kesini jika mau Joon-ah dikembalikan, Tapi mereka belum juga muncul.” jawab Hyerin parau, suaranya terdengar sangat ketakutan dan itu membuat dada Kyuhyun sesak dan sulit bernafas.

“Tetap disitu.” perintah Kyuhyun tegas, dia benar-benar tidak ingin mendengar penjelasan lebih lanjut, dia harus menemui gadis itu sekarang. Gadis itu dan putrinya dalam bahaya.

“Apakah disitu sepi? Usahakan berdiri ditempat yang banyak orang. Jangan sendirian.” saran Kyuhyun sembari berlari secepat yang dia bisa menuruni tangga darurat, lalu berusaha menerobos kerumunan orang-orang berpakaian formal ketika sudah sampai di basement.

“Tidak ada orang disini, Kyuhyun-ssi.. Sepi sekali..” gumam Hyerin getir diujung sana. “K-Kyuhyun-ssi, K-Kau bisa cepat sedikit? A-Aku takutㅡ” pintanya dengan sedikit malu, membuat Kyuhyun semakin panikㅡ dia sangat takut gadis itu kenapa-napa dan juga bingung apa yang harus dia lakukan sementara mereka berada ditempat yang berbeda.

“Aku akan segera kesana, Hyerin-ah. Coba cari tempat persembunyian. Jika ada yang mencoba mendekatimu, teriaklah sekencang-kencangnya, Kau dengar itu?” Sialnya hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Pria itu terus berlari hingga akhirnya sampai didepan mobil audi miliknya yang diparkir dipojokan. Dia langsung melompat kedalam mobilnya, menyalakannya dan menginjak gas.

“K-Kyuhyun-ssiㅡ a-aku harus menutup teleponnya. Ada orang yang datang.. ada yang datang..” gumam Hyerin dengan suara bergetar.

“Hyeㅡ” Kyuhyun tersentak ketika tiba-tiba sambungannya diputus sepihak. Pria itu kontan meninggikan kecepatannya. Insa-Dong hanya beberapa menit dari sini, Tapi kemungkinan buruk apapun bisa terjadi jika dia terlambat menemui gadis itu sedetik saja. Ya Tuhan. Bila terjadi sesuatu yang buruk pada Hyerin dan putrinya, Kyuhyun lebih baik mati saja.

*

Tidak ada. Gadis itu tidak ada. Kyuhyun sudah sampai di pertokoan Insa-Dong dan mencari Hyerin disemua tempat tapi dia tidak dapat menemukan gadis itu dimanapun. Dan yang seperti yang Hyerin bilang; Disini sepi. Kafe kecil yang bernama Dorothy itu bahkan tutup dan hanya ada mobil-mobil tanpa pengemudi yang diparkir dipinggir jalan. Mungkin karena cuaca sedang mendung dan sepertinya sebentar lagi akan ada badai. Ya tuhan. Kyuhyun menarik nafas panjang, mencoba menstabilkan emosinya yang meledak-ledak. Jantungnya masih berdebar tak karuan memikirkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi pada gadis itu. Cho Kyuhyun tidak pernah merasakan ketakutan separah ini sebelumnya; ini lebih mengerikan daripada melihat gadis itu menikah dengan orang lain atau menerima kenyataan bahwa dia akan hidup sendirian selamanya.

Kyuhyun bermaksud kembali masuk kedalam mobilnyaㅡ berpikir sebaiknya dia segera meminta bantuan polisi saja, tapi detik kemudian dia mendengar suara teriakan tertahan dibelakangnya dan berhenti. Pria itu berbalik, dan detik itu jantungnya yang semula berdegup kencang berhenti berdetak begitu matanya menangkap pria berjubah hitam yang tengah membopong seorang gadis kedalam mobil karavan yang jauh dibelakangnyaㅡ tapi dia tidak dapat melihatnya dengan jelas karena tertutup oleh mobil lain yang diparkir didepannya. Oh Tidak. Kyuhyun sontak berteriak dan berlari sekencang mungkin menghampiri karavan itu. Tapi sialnya dia kurang cepat karena sekarang pria itu sudah berhasil memasukkan gadis itu kedalam karavannya dan kabur.

Kyuhyun mengumpat keras, nafasnya terasa sangat berat dan kakinya bergetar hebat ketika dia berusaha masuk ke mobilnya dan kembali menginjak gas, mengejar karavan itu secepat mungkin yang dia bisa. Tidak perduli dengan orang-orang yang hampir ditabraknya, mobil-mobil truk yang disalipnya, ataupun dirinya yang sebentar lagi akan terkena serangan jantung. Demi tuhan, gadis itu dan putrinya sudah terlalu banyak menderita, Siapa lagi biadab yang tega melukai mereka? Kyuhyun bersumpah akan merobek-robek wajah siapapun yang melakukannya. Tapi sekarang dia harus lebih dulu menyelamatkan Hyerin dan putri mereka.

To Be Continued..

Advertisements

130 thoughts on “CEO’S Ex Wife [Chapter 6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s